​Agrowisata Bowongso – Tur Kebun Kopi – Cinta Satu Malam

Bowongso, sebagai sentra penghasil kopi khas Wonosobo mulai melebarkan sayapnya ke pasar wisata. Undangan dari komunitas penggiat kopi Wonosobo dan kelompok tani Bina Sejahtera (kelompok tani di desa Bowongso) datang ketika saya pingin banget refreshing. Jadi, yeeaaayy. Pucuk dicinta ulam tiba, lah pokoknya.

Hari pertama, 16 November 2016

Pukul 16.00 , kami dijemput di meeting point yang telah kami sepakati. Awalnya, meeting point ada di terminal Mendolo, tapi karena ada suatu hal kami minta dijemput di dekat Dieng Kaninga, Sruni. Oiya, kami berangkat ber 8. Ada saya, mas Erwin, mbak Olipe (Blogger Purwokerto), mas Pradna (blogger Banyumas), mas Abi (blogger Jakarta), Lutfi (blogger Banjarnegara), mas Jusuf AN (penulis, blogger Wonosobo) dan Tongat (perwakilan komunitas Standup Comedy Wonosobo). Eh, ada Kinan juga hihi.. ber-9 dong yaaa.. Kami dijemput mas Dani menggunakan mobil dan segera berangkat karena sudah mulai gerimis. Perjalanan dari kota Wonosobo menuju Bowongso kira-kira memakan waktu 1jam. Dari Wonosobo, menuju arah Kertek, lalu menuju arah Kalikajar. Lewat pasar Kertek dan melalui jembatan , ada pertigaan Pringapus kita belok ke kiri. Naiiiikkkk terus sampai desa teratas. Jalannya gak begitu rusak kok, tapi ya jangan bayangkan jalan raya hehe. Sebelum sampai, kita disuguhi pemandangan sunset dan kabut tipis-tipis yang bikin tambah magis.

Tepat sebelum Maghrib, kita sampai di Bowongso. Langsung disambut para pemuda desa dan kelompok tani disana, dan kami dipersilahkan masuk ke homestay. Gorengan, kopi, dan obrolan tentang kopi menjadi suasana makin hangat, walaupun di luar brrrrr dingin. Jeda sholat maghrib, makan malam dan kami melanjutkan ngobrol. Tapi, karena Kinan nampaknya kedinginan, saya dan Kinan menghangatkan diri di atas (rumah homestaynya lantai 2, dan fyi diatas lebih hangat lho). Fasilitas homestay lebih dari cukup, ada 5 kamar, 2 kamar mandi, pawon, ruang tamu yang luas dibawah, ruang istirahat dan nonton tv di atas, dan juga musholla di atas. Kebersihannya oke banget buat yang bawa bayi kaya saya, udah masuk kriteria banget lah..

Hari kedua, 17 November 2016

Paginya, alhamdulillah cuaca mendukung. Rencana kita akan mendaki sampai ke gardu pandang di lereng Sumbing. Persiapan dan lain-lain, akhirnya berangkat dari homestay jam 06.30 menggunakan colt buntungan (bahasa Wonosobonya keluar) ,tentunya karena saya bawa Kinan diistimewakan untuk duduk di depan whahahhaaa.. Jalannya berbatu dan berasa dugem gronjal gronjal 😂 

Kira-kira 15menit perjalanan naik mobil, kami berhenti dan harus mulai mendaki untuk mencapai gardu pandang. Awalnya sempat ragu sih, karena bawa Kinan. Tapi, mantep aja lah. Bismillah. Jalan berbatu, tanah licin (karena semalam hujan), dan menanjak yang wow sekali. Bawa badan aja kayaknya udah ngos-ngos. Ini gendong Kinan haha. Bergantian dengan Bapaknya Kinan, Alhamdulillah sampai jugaa.. fyi, kita sampai dijemput sama mas Eed, disemangati dan dibawakan minum 😂

Sesampai di gardu pandang, semua sudah duduk melingkar dan siap untuk sarapan. Kinan terlihat ceria tapi semacam kebingungan karena mungkin hawanya yang dingin. Setelah sarapan selesai, nasi megono dan tempe kemul yang sangaat nikmat, Kinan mulai rewel karena lapar. Jadilah saya menyusui Kinan di ketinggian 2000mdpl, jadi gak cuma teman-teman yang ngopi di atas awan, Kinan juga.

Setelah ritual menyeduh dan sruput-sruput selesai, saya memutuskan untuk turun duluan, dengan pertimbangan kalau kita sudah sampai di bawah tidak akan ditunggu hihi.. Lalu benar, tak berapa lama kami menunggu di tempat mobil diparkir, teman-teman terlihat turun dari gardu pandang.

Selesai dari gardu pandang, kami menuju kebun teh. Disana dipandu mas Eed dan dijelaskan bagaimana tanam, petik, panen dan kami icip kopi yang sudah merah. Pertama, saya kira pahit. Tapi, ternyata manis, semacam jambu hehe..

Cuaca mulai agak gerimis, lalu kami beranjak ke sekretariat Kelompok Tani Bina Sejahtera. Langsung disambut jajanan khas dan tentu saja, pengalaman seduh sendiri dan minum kopi sepuasnya. Yang agak surprise adalah saya baru tahu kalau kulit kopi bisa dibuat teh, namanya Cascara. Dan rasanya segeer banget. Manis, kecut, harum, nano nano deh. Berasa minum lemon tea tapi lebih enak. Ih, harus nyobain deh. 

Makan siang pun kami disuguhi masakan khas dan lengkap banget. Ada nasi megono, nasi jagung dan nasi putih, dengan lauk sayuran dan paling endeuuss adalah sambelnya. Huhaaah tapi mantaap. Suasana menghangat, lanjut berbincang tentang kopi dan juga tak lupa peserta asyik membeli kopi untuk kenang-kenangan dan oleh-oleh. 

Tak terasa hari sudah menjelang sore dan waktunya kami harus mengakhiri trip ini. Kebetulan saya mengajak teman-teman blogger dari luar kota. Ada mas Abi dari Jakarta, mas Pradna dari Banyumas dan mbak Olip dari Purwokerto yang baik hati mau ikut ajakan kami, padahal sebelumnya mereka ada acara berkeliling Banjarnegara dan capeknya luaar biasa. Salut dan terimakasih untuk mereka! Terimakasih juga untuk mas Jusuf AN, mungkin setelah ini ada novel Bowongso? Hehe.. Lutfi dan Tongat yang walaupun hanya semalam 😂

Setelah pamitan, dan berkemas, kami dijemput dan diantar kembali ke meeting point. Pengalaman yang tidak akan pernah terlupakan. Naik gunung, nyeduh kopi, belajar proses kopi, dan interaksi  dengan penduduk setempat membuat saya kangen dan ingin kembali lagi.

Dan kabar baiknya, trip ini sudah dibuka untuk umum lho. Ingin punya pengalaman seduh kopi di ketinggian 2000mdpl? 

———————

Agrowisata Bowongso

Paket 2hari 1malam

💰 Rp 250.000 per orang

Meeting point : Terminal Mendolo Wonosobo

Include : homestay, minum kopi sepuasnya, makanan khas ( 3x makan besar dan snack), transport antar jemput dari meeting point menuju lokasi, wisata kebun kopi, gardu pandang.

Kontak : Dani Bule (0812-2897-113)

​MPASI Perdana Kinan

Yeeaaay, alhamdulillah sudah lulus MPASI menu tunggal nih hari ini. Pas Kinan 6m14d. Besok Senin sudah mulai menu 4 bintang. Semacam degdegan lagi hehe..
Sedikit kilasbalik, sebelumnya saya sempat bikin jadwal menu 14 hari ya Kinan. Tapi ya tetep banyak yang digeser-geser menunya, soalnya belanjanya rempong dan kadang gak ada. Tapi overall Kinan gak alergi dan ya latihan dikit-dikit maemnya.

Paling lahap makan telur kuning goreng, hahaha.. dan paling gak mau makan tahu.b esok kita cobain lagi deh..
Tapi ikan, ayam semua no alergi.

Pelajaran yang terpenting buat ibunya  adalah harus sabar, dan positif thinking!

Semoga menu 4 bintang Kinan lancaar.. 

Aminnn.

#PertamaKali Bepergian tanpa Kinan

Untuk yang belum tahu kenapa saya dan Kinan tidak terpisahkan, ceileee.. bisa baca di kisah saya tentang memberi Kinan ASIP yaa..

Baca juga Drama menyusui Kinan

Dan, hari Minggu kemarin seorang teman saya punya hajat mengkhitankan anaknya. Kebetulan teman saya itu juga salah satu mantan murid kursus ibu saya, jadi kami sekeluarga diundang kesana. Rencana awalnya, kami akan berangkat bersama naik mobil di siang hari, jadi meskipun hujan, Kinan akan aman bersama saya. 

Tapi.. ternyata rencana berubah. Ayah saya ada agenda lain, suami saya harus liputan sampai sore. Akhirnya ibu saya berangkat bersama rombongan mantan murid kursus lainnya naik motor dan tidak memungkinkan saya dan Kinan ikut. Ibu menyarankan saya untuk “titip” salam saja, tapi saya merasa tidak enak kalau sampai tidak hadir kesana. Setelah menelepon suami, beliau bilang kalau tidak apa nanti dia saja mewakili kami yang pergi kesana. Okelah.

Lalu kemudian, jam 5 sore suami saya pulang. Kinan sedang nenen dan mulai ngantuk. Ibu saya menawarkan untuk menjaga Kinan misal saya mau ikut pergi kondangan. Aduuhh, galau deh. Takut kalau Kinan nangis. Laper. Dan cari nenen. Paling jauh Kinan saya tinggal itu pas saya mandi je, hehee.. Tapi, selalu ada waktu untuk #pertamakali kan?

Akhirnya dengan dagdigdug, saya beranikan untuk ikut suami. Lebay yaah, perjalanan si memakan waktu sekitar 25menitan dan pulang pergi plus disana saya hitung 1 jam lah, maksimal. 

Setelah Kinan menyusu dan terlihat kenyang, saya segera siap2. Ahh gak tega sih awalnya. Tapi, saat digendong utinya, saya ciumi dan saya bisikkan di telinganya, Kinan jadi anak baik ya Nak..

Bismillaah.. kami berangkat. Dengan cuaca yang gerimis dan sudah agak gelap kami mengendarai motor menuju tempat hajatan. Dan betul saja keputusan kami tidak membawa Kinan, jalan licin, rusak dan juga tempat yang jauh apalagi ditambah gelap. 

Sesampainya disana, kami bertemu teman kami si empunya hajat, makan snack sambil ngobrol sebentar, makan besar dan segera pamit. Tidak lupa mengecek HP berkali-kali siapa tahu ibu saya mengabarkan kalau Kinan rewel. Tapi bismillah, saya mantep dan yakin saja kalau Kinan baik-baik saja. Alhamdulillah tidak ada sms atau telepon. 

Setelah pamit, kami bergegas pulang. Alhamdulillah sudah tidak gerimis. Di perjalanan, agak ketar-ketir juga sebenarnya.

Sesampainya di rumah, langsung cuci tangan kaki dan melongok di jendela. Pas 1 jam. Kami berangkat setengah 6 dan sampai rumah jam setengah 7. Kinan masih tidur di gendongan utinya, Alhamdulillahh.. Makasih ya sayangku.

Tips untuk yang akan #pertamakali pergi (sebentar) meninggalkan bayi di rumah dengan kasus yang sama seperti saya : 

  • ‌Pastikan bayi sudah menyusu dengan kenyang agar tidak menangis
  • ‌Pastikan baju yang dikenakannya nyaman agar tidak rewel (kepanasan misalnya)
  • ‌Tinggalkan dengan orang yang dipercaya (sebisa mungkin yang sudah sering kontak dengan bayi, nenek, kakek, bibi, dll)
  • ‌Lebih aman jika meninggalkan di jam-jam tidur 
  • ‌Usahakan yakin dan percaya kalau bayi tidak akan rewel, karena biasanya perasaan ibu akan “nyetrum” sampai ke anak, hehe.. Meskipun bagi saya agak susah😀

​Bahasa Kinan (1)

Di umur 5 bulan tepat bulan Oktober ini, bahasa yang dihasilkan dari mulut mungil Kinan sudah banyak dan beragam, begitupula dengan bahasa tubuhnya. Dan kami, saya dan bapaknya harus selalu update untuk mengikuti perkembangan bahasanya, semacam update aplikasi aja hahaha.. Tapi yang jelas, kami ingin bisa mengetahui apa yang Kinan inginkan dan butuhkan😉

  • ‌Nji…nji…njii..

 Ini suara Kinan kalau minta ganti popok karena ngompol, pup, atau juga sesuatu yang basah seperti iler dan dia tidak nyaman.

  • ‌Neennnnn.. neeennnn..

Kayaknya kalo yang ini semua tahu deh, hehe.. ini suara Kinan kalau minta mimik dan karena lapar. Padahal kita nggak ngajarin lho, kita biasakan bilang maem atau mimik. Tapi mungkin ini reflek anak kecil mengucap nen ya.

  • ‌Nggg… ngg.. nggg.. (tampang bete)

Nhah kalo suara ini, dia minta diganti posisi. Misal lagi tengkurep berarti minta didudukkan atau digendong (kalo yang ini plus angkat-angkat pantat). Dan sebaliknya.

  • ‌Nga, nga, nga… (tampang happy)

Ini suara bercerita, jadi kita cukup tanggapi dengan senyum, ketawa, atau Iyaaa.. iyaaa, teruuss… soalnya kalo dicuekin dia semacam protes dan bete hehe

  • ‌Bbrrrrrrr.. (sambil menyembur ludah)

Hihihi, ini sih udah bete biasanya. Trus harus digendong, dipukpuk trus minum deh. Dan biasanya, ini tanda-tanda udah ngantuk.
Trus apa lagi yaaa, mmm.. nanti kalau ingat lagi akan diupdate juga post ini hehe.. Mungkin ada yang pernah mengamati anak bayi dan suaranya?