bayi&balita, jurnal, kehamilan, keluarga, kinan, marriage life

Cerita Melahirkan (Part 1)

Baca dulu :

Cerita Kehamilan Trisemester Pertama

Cerita Kehamilan Trisemester Kedua

Cerita Kehamilan Trisemester Ketiga

Ketika Dokter Berkata Saya Harus Operasi Sesar

 

Setelah dua hari galau super, dan meminta pertimbangan dari keluarga,  akhirnya kami sepakat untuk menjalani operasi sesar, walaupun belum sempat memilih tanggal. Tapi ternyataaa….

Hari Jumat (20/5/2016), perut saya sudah tidak nyaman sekali. Akhirnya, jadwal kontrol yang biasanya hari Sabtu, saya ajukan di hari Jumat di Puskesmas tempat kakak saya bekerja, ternyata… menurut petugas disana, kondisi saya sudah harus dirujuk ke Rumah sakit. Whaaaaat??

Gimana enggak kelabakan, untungnya sih dari 2 minggu sebelumnya sudah nyiapkan tas dan dokumen-dokumen, jadi tinggal angkut!

Siang itu saya sudah diinfus (sampai 4x dicari pembuluhnya, huhuhu) dan dibawa ke RSU. Antri dokumen dll, sudah diuruskan petugas dan suami. Sesampainya di RS, masuk ke ruang periksa, dicek lagi, trus akhirnya dimasukkan ke bangsal bersalin. Ada sekitar 10-12 tempat tidur atau lebih malah yang berisi ibu-ibu yang mau melahirkan.
Ibu, bapak, dan kakak saya menemani sebentar lalu kemudian pulang. Mas erwin juga jumatan dan harus liputan, dan balik ke RS sekitar pukul 7 malam. Oiya, makan siangnya enak, haha.. atau karena menahan lapar daritadi ya.
Sebenarnya pikiran tambah kalut, tapi sambil berdoa, pasrah sama Allah.

Menjelang malam, dokter memeriksa dan mengecek detak jantung janin menggunakan EKG, alhamdulillah normal dan akan dijadwalkan besok pagi sambil memantau keadaan. Oiya, disini ada cerita sedikit tentang surat keterangan dan pernyataan untuk pasang IUD, agak kecewa dengan pelayanan ini sih, karena terkesan “memaksa”, tapi besok kapan2 saya posting kisah ini. Nhah, malamnya saat mau istirahat, sungguh suatu cobaan. Banyak sekali ibu yang melahirkan dan bukan karena saya terganggu dengan suaranya, tapi karena saya jadi ikut degdegan , jadi ikut mules, dan semacam takut 😥

-di malam itu juga ternyata ada bayi dan ibu yang tidak berhasil diselamatkan-
😥

The day!
Pagi-pagi perawat datang dan mengabarkan saya akan masuk ruang operasi jam 10.00wib, lalu saya mandi, berganti dengan pakaian operasi dan datang lagi perawat untuk membantu “membersihkan” bagian bawah karena akan dipasang kateter. Sakit? Jangan tanyaaaa. Sakit banget!
Sekitar pukul 9.00, saya bisa bertemu ibu saya dan duh kok mau nangis ya rasanya. Takutttt banget. Saya juga sempat telepon ibu mertua saya, minta maaf juga dan duh sedihh… Deg-deg annya sumpaaahh!

Sempat selfie 😛

Pukul 09.30, saya dibawa ke ruang operasi. Di depan ruang operasi sudah ada kakak sepupu dan adik-adik saya juga. Sebelum masuk, suami saya diberikan semacam “briefing” oleh dokter yang akan membedah saya nanti, menandatangani surat pernyataan, dan sebenernya pingin ditemenin, tapi nggak boleh.. kata dokternya, paling nggak ada setengah jam udah ketemu lagi. Baiklaahh.. Oiya, ternyata salah satu perawat ada ayah dari teman SD saya.

Masuk ruang operasi, dingin banget. Dan kaya di filem-filem itu lho, ada lampu besar di atas saya. Ruangannya bersih dan bau rumah sakit banget. Saya diminta duduk, dengan posisi merunduk. Katanya mau di-anestesi, tapi sebagian. Yang saya denger dan baca, suntik ini akan sangat sakit. Tapi kok saya malah nggak kerasa apa-apa ya, atau karena saking groginya. Kedua tangan saya semacam diikat, yang satu diinfus, dan satunya diapain saya lupa. Ada ibu-ibu (Cuma satu diruangan itu) , kayaknya dokter bedah yang bilang kalau pembuluh darah dan kulit saya tipis banget, kaya buah pepaya, hahaha. Oiya, sayangnya Dr. Dito berhalangan hadir dan yang menggantikan adalah dokter residen, saya lupa namanya (besok saya cek di surat-surat yang dari RS). Tapi, sudah pasrah. Yang penting doanya selamat sehat semua. Aamin.

Setelah itu, dokter menunggu sebentar sampai bius saya terasa. Setengah badan saya ditutupi kain, jadi saya nggak bisa ngeliat apa yang terjadi di perut saya. Tapi ketika liat keatas, ternyata lampunya malah jadi cermin, dan akhirnya digeser dijauhkan dari pandangan saya.

“Kalau kakinya udah kerasa semutan, bilang ya…”

“Oh, iya, udah Dok, tapi kok masih bisa digerakkan ya..”

“Masa si mbak… coba gerakkan”

“Ini… bisa dok.. masih kerasa lho bisa digerakkan”

Dokter ketawa-tawa.

Disini saya baru ngeh, kalau ternyata itu cuma faktor psikologis aja, hahaha.

Oiya, saya kerasa saat pisau mulai membelah perut. Tapi kerasanya ya cuma dingin aja gitu.

Dokternya nyuruh saya berdoa, dan beliau mulai “engek-engek” dengan bismillah. Nggak lama, perut saya kayak digoyang-goyang, dioclak-oclak gitu. Trus, nggak berapa lama…

“Ngeeeeerrrrr…. “, suara bayi!!!!!!!

“Ehh, eek sama pipis juga nih si adek! Jam 10.00 pas yaaa. Selamat yaa Bu, perempuan”, suara dokter, samar-samar di telinga saya.

Saya lihat punggungnya dibawa keluar oleh perawat, bahkan belum liat kaya apa mukanya, haha.

Trus saya mewek. Mingsek-mingsek, dan ditanya dokter.

“Kenapa? seneng yaaa.. anak pertama?”

“Iya… “ , masih sambil mingsek-mingsek.

Nhah, sekarang tim operasi sedang menutup sayatan yang ada di perut. Katanya sih ada 7 lapisan, yang dimulai dari kulit, otot, hingga rahim. telah nutup, diperban scukupnya, gue dipasangin kateter (karena akan stuck di tempat tidur stidaknya 24 jam). Badan dibersihkan dari darah, dan ternyata kotor semua, jadi saya hanya dipakaikan jarik. Lalu kemudian saya dipindahkan ke meja beroda untuk didorong ke ruang recovery, dan badan saya menggigil, karena dingin. Untung suami segera datang dengan ketawa-ketiwi dan nyium kening, sambil menunjukkan foto si krucil yang selama sembilan bulan ini menghuni perut saya. Disini, saya mencoba istirahat sekitar setengah jam, setelah itu ketika dirasa tidak ada komplikasi apapun, saya dipindahkan ke ruang perawatan. Dan sebelumnya, saya akhirnya bertemu dengan anak perempuan saya! Kayak mimpiii!!!

Cantik yaaaa… :’) Yang pertama saya tanyakan ke suami :”Sehat? Sempurna?”

Bersambung.

 

Ps. Catatan ini sempat ngejogrok di draft dan baru sempat terpublish. Sebenarnya masih panjaaaaaang tapi belum selesai, jadi kita buat ber-part saja ya, hahahaha. 

Spesial buat mbak Novita, sehat sehat yaaa.. :*

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s