event wonosobo, genPI, kopi, mbakyublogger, wisata, wonosobo

Wonosobo Manual Brew Competition 2018 : The Biggest Coffee Event in Wonosobo

“ Selamat pagi judges, saya Bima Galih Perwira dari Brew Miscella Wonosobo. Suatu kehormatan bagi saya bisa menyeduh di WMBC 2018 ini dan di depan para judges sekalian. pada kesempatan kali ini saya akan menyeduh kopi dari kota kelahiran saya sendiri yaitu Wonosobo, lebih tepatnya origin dari desa Bowongso….”

Familiar dengan kalimat ini?

Yes, Wonosobo akhir Januari kemarin sempat menggelar kompetisi seduh kopi nasional. Jujur pertama kali saya denger Dani mau bikin acara kompetisi ginian, saya awalnya cuman iya iya doang. Ya ngedukung sih, tapi nggak yang trus ngeh gimana-gimana. Tapi, di perjalanannya…

Kejutan banget!

Banyak hal-hal detail yang dipersiapkan Dani (sebagai ketua) dan tim. Banyak “support” dan bantuan dari banyak pihak, entah itu sponsor maupun lainnya. Itu yang bikin saya tambah semangat dan ikut mules ketika udah mendekati hari H, hihihihi.

Kalau ngomongin behind the scene, kayaknya gak cukup 2-3 postingan deh. Khusus postingan yang ini, saya pingin cerita aja tentang bagaimana keseruan acara kemarin. Ya ya yaaaa…

Minggu, 28 Januari 2018. The Day!

Setelah malamnya panitia begadang untuk mempersiapkan banyak hal, tibalah paginya panitia dihadapkan dengan yang namanya kenyataan, eh, hari H maksudnya.

Acara teknikal meeting juga berlangsung lancar, dan banyak juga peserta yang sudah ikut alias sudah standby di Wonosobo pada hari Sabtunya, padahal banyak banget dari luar kota lho, dan bisa  jadi ukuran seberapa excitednya mereka ikutan event ini.

Oiya, ke sepuluh juri juga sudah hadir lho, pas acara malemnya si saya juga ketemu, ngobrol2 sok dekat, wkwkwkwkk, tapi sampai mereka pulang, saya LUPA buat foto, huks.

Juri full team! Boleh nggak ini diedit trus saya nyempil di samping mbak Titik? 😛

Jam 07.30 pagi, panitia sudah berkumpul di De Koffie, venue-nya WMBC 2018. Tidak berapa lama, peserta juga mulai berdatangan untuk daftar ulang, disambut oleh mbak-mbak cantik di depan, mengisi daftar hadir, dapet 1 bungkus kopi, trus melihat-lihat venue bakal calon tempat mereka main.

Di dalam ruang juri, juri sudah siap standby dan sedang melakukan kalibrasi, untuk persiapan icip-icip nanti.

((ICIP-ICIP))

Dikata bikin soto? 

Fyi, Kalibrasi ini tujuannya buat menyamakan persepsi rasa, kemudian diharapkan bisa meningkatkan objektifitas penilaian. Soalnya, cita rasa kan gak bisa ya dilihat pakai mata telanjang. (Mata aja yang telanjang, kamu jangan! ) dan kemampuan indera perasa tiap orang berbeda, makanya setiap kompetisi kopi wajib ada kalibrasi juri. Gitu, pemirsa. Eh gaes. *Ini dijelasin sama Dani juga 😛

Kalibrasi juri di ruang juri

Layout Venue

Jadi ruang belakang De Koffie itu dimanfaatkan buat area kompetisi seluruhnya. Ruang meeting, dibuat sebagai ruang juri. Dapur, digunakan sebagai ruang cleansing. Trus samping selatan, yang luas itu dijadikan ruang tunggu yang dialasi karpet, dan disekat dengan ruang nonton. Kamar mandi dan musholla si tetap sebagaimana fungsinya. Trus, area yang biasa untuk perform akustik kalau sabtu malam, digunakan buat tempat perform peserta. Sudah ditata 3 buah meja, dengan 6 buah kursi. 2 meja dengan masing-masing 3 kursi ,berhadapan diletakkan di samping kanan kiri untuk tempat duduk juri. Meja yang dipojok timur khusus untuk timer. Area perform peserta juga diberi batas dengan penonton, agar peserta tidak terganggu, dan tim dokumentasi bisa mengambil gambar (video/foto) dengan bagus.

Open Service : Antara Siap dan Harus Siap

Oke, kembali ke acara ya. Pukul 08.30 acara dimulai dengan briefing dan pembukaan. Pukul 09.00 peserta pertama melenggang maju, dan kebetulan yang dapet nomer undi 1 itu dari Wonosobo tercintaaahhh , yaitu mas Bima Galih Perwira dari kedai Brew Miscella.

Layoutnya gini nih. Ini mas Bima, nomor urut pertama. Keliatan ganteng eh nervousnya nggak? Hehehe

Yang namanya pertama, kita tau lah deg-degannya kaya apa hihi. Selain diperhatikan juri, tentunya dilihat penonton dan rival juga alias peserta lainnya kan. Masnya yang maju, akunya yang grogi hahaha.

“ Selamat pagi judges, saya Bima Galih Perwira dari Brew Miscella Wonosobo. Suatu kehormatan bagi saya bisa menyeduh di WMBC 2018 ini dan di depan para judges sekalian. pada kesempatan kali ini saya akan menyeduh kopi dari kota kelahiran saya sendiri yaitu Wonosobo, lebih tepatnya origin dari desa Bowongso. Desa Bowongso sendiri terletak di ketinggian 1500 meter diatas permukaan laut dan terletak di sisi sebelah barat lereng gunung Sumbing. Pada posisi ini desa Bowongso mendapatkan lebih sedikit durasi sinar matahari dan dengan curah hujan yang relatif tinggi di Kabupaten Wonosobo, membuat proses pasca panen yang paling efektif dilakukan di desa Bowongso ini adalah proses fullwash. Seperti kopi yang akan saya seduh kali ini. Untuk metode seduhnya sendiri saya menggunakan metode seduh V60 dengan ratio 17gr kopidan 250ml air dengan waktu seduh 2menit 30 detik. Pada metode v60 yang saya gunakan, saya membagi pouring menjadi 4 kali, pada pouring pertama saya akan menuangkan air  menggunakan…bla..bla..bla..”

Dijelasin detail bangeeet! Sambil presentasi, dengan lincahnya menakar bubuk kopi, memanaskan air, dan menuangnya ke dalam server, baru disajikan pergelas ke hadapan juri untuk di-cupping dan dinilai.

Ketika gelas sudah berada di depan juri, juri langsung menunduk buat mencium aroma kopi. Hhm, harumnya juga sampai hidung saya yang mancung eh rada pilek ding.

Sssrrrruuuuppppp…

Mbak Sari, head judge lagi sruput-sruput , hihi

Begitu suara juri saat “mencicip” kopi yang disajikan oleh peserta. Juri sensory duduk di hadapan peserta dan juri kepala berdiri sambil mencatat. Btw, suara ssruuuppp itu keras banget, sampe mikir kalau masuk hidung trus keselek gimana, kan kasian. Bayanginnya pas lagi renang trus air masuk hidung, dan ini kopi, bukan air biasa. Hahahaha… *fix saya anaknya baperan dan suka mbayangin aneh2 #eh!

“Time!” ,seru peserta.

Kata tersebut menandakan bahwa sesinya sudah berakhir dan meminta agar “sang timer” menyetop waktu yang berjalan.

Setelah itu, juri masuk ke dalam ruang juri dan berdiskusi. Selama 4 juri berdiskusi, akan tampil lagi 4 juri lagi (3 juri sensory dan 1 juri kepala) yang akan menilai peserta lainnya. Begitu seterusnya hingga peserta ke -32. Jadi bisa dibayangin kan berapa gelas yang harus disruput-sruput sama juri .

Dari ke-32 peserta, ada 5 yang cewek lho. Tapi yang 2 gak bisa datang. Dan salah satu peserta cewek, namanya mbak Hanna dari Banjarnegara, presentasi pake bahasa Inggris, lhoh!

Go girls!

Ngomongin peserta cowok, ya walaupun cowok yang keliatan cool di depan, tapi ada juga yang presentasi dengan gemetar tidak tertahankan, ada yang pake berkeringat, ada juga yang keliatan grogi banget, hihi. Nggak heran sih, kompetisi nasional brooo! Saya dulu cuman disuruh presentasi microteaching aja sampe mules diare, wkwkwkwkwk. Ups. Tapi, banyak juga lho yang terlihat profesional dan keren, kayak liat di video-video gitu, katanya sih karena banyak latihan dan ikutan kompetisi serupa.

Jeda istirahat ada tiga kali. Yang pertama pukul 14.00 trus yang kedua saat Maghrib dan mau pengumuman.

Daaaan, taaaraaaaaa..

Setelah semua peserta maju, inilah saat yang ditunggu-tunggu yaitu pengumuman pemenang dan penyerahan hadiah. Ramai sekali semua berkumpul di tengah, dekat dengan stage. Lalu, tidak lama mas Didi sebagai pembaca acara membacakan susunan pemenang yaituuu…

Drum roll….

Pemenangnya adalaaahhhhhhhhh…

Bukan ini ya pemenangnya, ini mah juri kaliber dan MC kaliber 😛

 

Fahriansyah, Magistra Coffee – Yogyakarta ,sebagai juara 1 alias Best Brewer WMBC 2018 mendapatkan uang tunai sebesar 1.500.000 dan trophy

(Istrinya juga dateng, so sweet banget! Dan behind the scene, mas Fahri ini nadzar kalau menang bakal nyukur rambut. Gundul! Dipotonginlah sama sang istrinya, hihihi)

Andra Pradana,  The Point Coffee and Drama – Yogyakarta, sebagai juara 2 WMBC2018 mendapatkan uang sebesar 750.000

(btw, saya pernah sms-an sama mas Andra lho! Wkwkwkwk, penting ?)

Supri Anggoro, Ritual Ngopi – Sukoharjo, sebagai juara 3 mendapatkan uang sebesar 500.000

Yeeay! Selamat yaaaaaa!

Selamat yaaaa.. Pemenang WMBC 2018!

Harapan tentang WMBC 2018

Dani selaku ketua panitia berharap, ini nggak akan jadi gerakan yang trus berhenti disini, karena salah satu misi WMBC juga adalah terkoneksinya hulu-hilir industri kopi. Maka peserta WMBC yang butuh kopi lokal untuk kompetisi akan bergerak mendekat menuju petani sebagai hulu industri kopi.

Jadi WMBC ini juga jadi trigger untuk para barista lebih sadar bahwa mereka punya peranan penting sebagai pendongkrak kualitas kopi Indonesia, salah satunya dengan cara berkontribusi membangun di salah satu rangkaian produksi kopi bersama petani.

Emang kenapa sih kok sebegitu yakin dengan kopi Indonesia?

Kenapa begitu yakin dengan kopi Indonesia, ya karena hampir semua variabel pendukung untuk menghasilkan kopi berkualitas yg ada di alam sudah ada, tersedia lengkap di Indonesia. Hanya saja banyak kendala ada di variabel SDM. WMBC juga bisa menjadi solusi untuk kendala SDM penghasil kopi berkualitas.

Harapan yg lain, semoga event ini akan menjadi event tahunan. Internal wmbc sudah melakukan banyak evaluasi terkait persiapan sampai penyelenggaraan. Dani dan kawan-kawan berharap akan ada #WMBC2019 dengan memperbaiki detail-detail kecil yg kurang dikuasai saat WMBC2018 kemarin.

Kalau dilihat dari ekpektasi dan realita, kira-kira gimana?

Ekspektasi dan realita pelaksanaan WMBC juga tidak terlalu jauh. Dani berani bilang bahwa 90% planning WMBC berjalan lancar. Artinya apa yg menjadi target, berhasil kita tuntaskan. Peserta puas, juri puas, penonton puas, dan panitia puas.

Btw, banyak lho pujian datang dari peserta. Ada yang bilang, jarang kompetisi manual brew memberikan komplimen berupa video peserta saat main open service. Nhah, WMBC berhasil menyediakan hal itu, satu video untuk satu peserta. dengan tujuan video itu menjadi titik awal evaluasi peserta sehingga bisa tampil lebih baik lagi selanjutnya. Atau bisa juga ditunjukkan ke petani sebagai bentuk apresiasi kepada mereka sebagai produsen kopi yg dibawa ke kompetisi.

Komentar juri ?

“Panitia ne ki trengginas. Kerja cepat. Hampir tidak ada celah, sehingga pelaksanaan kompetisi juga berhasil dilalui dengan sukses tanpa kendala yg berarti”  – (Mas Uji Sapitu, juri WMBC 2018 )

“Panitia nya luar biasa”  (Mba Titik, juri WMBC 2018 )

“Kemeriahan, kekompakan, kekeluargaan bersatu dalam event perdana WMBC” (Pak Christian, head judge WMBC 2018)

Masukan dari Peserta

Adapun masukan dari peserta tentang stage WMBC yg kurang besar, menjadi sedikit kendala ketika akan tampil. Walau begitu, mereka bilang selebihnya bisa diatasi, dan keseluruhan acaranya juga rapi & keren.

~

Btw, event ini juga pertama kali-nya saya ninggalin Kinan agak lama. Sekitar total 8 jaman gitu deh. Jadi pagi sudah saya tinggal, yang penting udah kenyang. Trus sekitar jam 1-an dianterin ke De Koffie, jam 3 an balik rumah lagi dianya, saya masih standby di De Kofiie. Uti dan kakung-nya jauh-jauh hari sudah dibooking buat njagain cucu kesayangan. Kebetulan sang Bapak juga didapuk buat jadi koordinator juri dan tim nilai. Alhamdulillah, Kinan bisa kooperatif, walaupun di akhir hari dia udah cranky karena ngantuk dan kangen mamahnya yang cantik kali ya. Deg-degan sih, tapi makasih banyak ya Kinaaaan :*

~

Back to WMBC.

Kalau kalian dateng ke acara ini, pasti setuju sama peserta dan juri deh. Saya sendiri juga merasa dan melihat kompetisi ini sudah sangat dipersiapkan dengan baik dan matang, bahkan saya ikut langsung dalam “perjalanan” event ini. Huru haranya tahu laah ,hahahaha. Evaluasi harus dan masih tetap ada, tapi di hal-hal yang tidak begitu krusial dan sangat sedikit. Bahkan, saya yang bukan anak kopi aja merasa posesif sama event ini, haha. Dan yang utama, Wonosobo kota kecil dan dingin ini bisa punya satu lagi event “berkelas” dan berstandar internasional dengan skala nasional dan ini merupakan pencapaian yang kereeen. Terlebih,  yang “ubet” adalah pengusaha keda, petani lokal dan sebagian besar adalah  anak-anak muda yang punya kepedulian besar terhadap kopi lokal dan Wonosobo.

Ayo yang cari calon nganu, bisalah dipilih-pilih nih anak-anak muda Wonosobo yang keren. Buat kopi aja peduli banget, apalagi buat calon pendamping hidup, iya nggak… 😛

Buat saya sih, anak-anak muda yang berani “kembali” ke tanah kelahirannya (Wonosobo) dan mulai “membangun” tanah kelahirannya (Wonosobo), poinnya plus plus pluuusss!

Semoga event ini akan ada kelanjutannya di tahun-tahun mendatang dan jadi agenda tahunan, Aamiin ! Biar saya bisa pake kaos panitia yang ada tulisannya WMBC, wkwkwkwkwkwk!

Terimakasih untuk para juri, peserta dan juga sponsor. Sampai ketemu di WMBC 2019 yaaaaa…

 

 

 

 

~

Ps. Selamat untuk Dani dan panitia WMBC2018. You guys rooocckkkk!

Terimakasih untuk semua yang kalian lakukan untuk kopi lokal dan Wonosobo. 

 

Nb : Foto-foto yang ada di blog ini milik panitia Wonosobo Manual Brew Competition 2018

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

w

Connecting to %s