Kapok Jadi Panitia 17an

Tulisan ini murni curhat semata ya.. jadi mohon agak diabaikan saja

Pada suatu sore yang cerah, datanglah sepucuk surat cinta dari Pak Lurah yang menyatakan bahwa saya resmi masuk menjadi salah satu panitia di Peringatan HUT RI di kelurahan dan mengundang saya untuk hadir rapat. Awalnya saya berpikir untuk  menolak, dengan pertimbangan “rewang bayi” dan kalau rapat kan mesti malem-malem. Tapi, dengan berbagai pertimbangan akhirnya saya berangkat, meski dengan deg-degan , takut Kinan rewel pas ditinggal. Untunglah jarak aula Kelurahan dengan rumah tidak ada 10 meter, jadi kalau Kinan nangis, bisa langsung pulang sambil koprol dan ngesot hihihi…

Daaan.. taraaaa… saya ditunjuk menjadi koordinator lomba Paduan Suara ibu-ibu PKK se Kelurahan. Sempat minder dan pingin bilang enggak, karena jujur saya tidak punya pengalaman apapun untuk lomba paduan suara. Belum pernah ikut dan belum pernah jadi panitia. Takutnya bikin gagal acara kan kasian semuanya. Tapi-nya lagi, kan nggak professional banget ya kalau main asal nolak. Minimal, saya berusaha berkontribusi buat desa saya sendiri. Itu yang saya pikir saat itu.

Rapat demi rapat, malam-malam meninggalkan Kinan. Persiapan menjelang persiapan, juga dengan sedikit membagi perhatian dengan Kinan. Karena saya masih merasa newbie di bidang perlombaan kampung ini, makanya saya minta tolong saran dan masukan dari para sesepuh mengenai pemilihan juri (ini pure masukan dari para senior), sampai teknik undian, teknikal meeting dan lainnya. Semua saya lakukan agar lomba ini bisa berjalan dengan lancar dan sukses. Buset bahasanya sok yes banget sih.

Sampailah pada di hari H acara lomba Paduan Suara dimulai, dari semalam saya sudah minta bantuan teman-teman Karang Taruna dan juga seksi dekorasi & perlengkapan untuk mendekor. Saya juga sudah minta tolong seksi konsumsi panitia inti untuk mempersiapkan snack dan lainnya. Masalah uborampe seperti nomor peserta, daftar hadir, daftar nilai, dan kawan-kawannya saya buat sendiri.

Setelah persiapan selesai, pada pukul 09.30 acara dimulai. Pembukaan, sambutan, doa hingga lomba berjalan lancar. Penilaian pun saya anggap sudah se objektif mungkin karena kami mengundang 2 juri dari perwakilan Kecamatan dan juga dari kabupaten (Permadani). Penghitungan total suara dan hingga didapat 3 besar berjalan sangat lancar. Tiga juri pun sepakat dengan peringkat 1 , karena mereka ternyata langsung menunjukkan angka yang paling tinggi diantara kelompok lainnya. Sedangkan juara 2 dan 3 langsung kami jumlah dan didapat angka yang pasti, dan bukan seri, sehingga mudah sekali dalam menentukan peringkat. Pengumuman pun aman terkendali, dan penyerahan hadiah akan dilakukan saat Malam Resepsi di akhir bulan ini berbarengan dengan lomba-lomba lainnya.

Salahsatu peserta lomba paduan suara

Kompak-kompak dan all out

Tapi… ternyata kegaduhan dimulai ketika saya sudah duduk manis sambil selonjoran mengurut memijat kaki yang pegal sambil menonton TV. Tiba-tiba mood saya terusik dengan adanya WA masuk :

Ibu X : Maaf Mbak, hasil teknikal meeting tidak disampaikan ke juri ya? Kok hasil juara beda dengan hasil teknikal meeting.

Saya : Beda gimana Mbak?

Ibu X : Lha itu yang juara 1 lagu wajib aja sikap gak sempurna, tadi banyak lagu wajib yang kepalanya ikut gerak, padahal di teknikal meeting kan lagu wajib harus sikap sempurna.

Saya : Tiap item ka nada penilaian sendiri, mungkin sikap kurang, tapi suara dll lebih. Kenapa tadi tidak langsung disampaikan ke juri?

*masih nerocos masalah teknikal meeting

Ibu X : Dirigen lagu wajib sikap sempurna gak banyak gerak, terus pas teknikal meeting dirigen ambil suara harus pelan. Kok tadi disampaikan harus keras

Saya : Mbak, kalau yang terakhiran mengenai dirigen itu, cuma tambahan dari Ibu Dewan Juri yang menyampaikan tata cara dirigen yang benar, bukan mengkritisi lomba tadi.

Saya : Harusnya tadi disampaikan mawon mbak, yang menilai soalnya murni dari juri.

Ibu X : Saya kesitu sudah meh pengumuman mbak itu temen2 pada protes ke saya dene gak sesuai dengan yang saya sampaikan dari hasil tecnikel meeting. Jelas sekali si mbak yang juara 2 itu memang paling bagus sesuai dengan teknikel meeteng suaranya juga bagus. Juara 1 sama juara 3 kurang sesuai dengan tecnikel meeting.

Saya : Mohon tolong disampaikan teman2, kalau merasa tidak puas harusnya setelah selesai pengumuman jangan meninggalkan arena dulu jadi ada waktu menyampaikan ke juri. Yang namanya event lomba, yang kuasa tim juri. Panitia tidak punya kuasa apa2. Setelah pengumuman pun yang juara 2 bertanya ke juri kurang pasnya dimana, jadi setelah diberi penjelasan langsung clear

Ibu X : O… ya… ok mbak. Maaf ngrepotin

Kira-kira menurut kalian udah clear kan ya? Tapi hari esoknya masih berlanjut..

Ibu X :  Oalah… mbak Wening. Ternyata Jurinya itu pelatihnya nomer undi 8. Pantesan yang dimenangkan nomer undi 8. Bayarnya ja 400rb

Saya : Nomer undi 8 niku pundi nggih? Coba pesan ini saya teruskan ke jurinya ya. Juri yg mana?

*saya niat banget nih pinginnya nakut-nakutin, kan bisa aja jadi fitnah

Ibu X : Nomer undi 8 itu y juara 1

Bentar mbak jangan langsung disampaikan dulu ini diselidiki. Info yang didapat baru seperti itu. Pelatihnya yang kemarin pake jilbab warna biru mbak. Udah lah mbak gak usah dibahas. Jadikan pelajaran aja. Untuk kedepannya. Dari Rw2 yang lain juga udah pada tau semua. Dikira kita yang tau pertama malah ternyata dah pada tau

*lha yang mbahas siapa . ngeeek

Saya : Nggih, maturnuwun

Teruuusss.. Aku kudu piyeeeeeee.

*Nangis Bombay. Dipojokan.

Oke, saya paham beberapa bentuk kekecewaan. Salah satunya adalah dengan mencari alasan dari kekalahan yang harus mereka hadapi. Manusiawi jika kita merasa kecewa. Menilik dari lomba paduan suara ibu-ibu ini, banyak hal yang mereka korbankan untuk “sekedar” latihan mempersiapkan lomba. Malam hari saatnya istirahat, mereka harus berkumpul di Aula Kelurahan untuk berlatih. Tidak tanggung-tanggung, biasanya dari jam 18.30 hingga pukul 20.00. Itu hampir setiap hari. Apalagi seminggu mendekati hari H, latihannya tidak tanggung-tanggung diadakan setelah Ashar,  mungkin banyak yang “membagi” waktunya dengan anak-anak juga keluarga. Belum lagi untuk persiapan rias, kostum yang akhirnya beli baru, dan lain-lainnya. Mungkin hampir makan waktu hampir 1 bulan untuk mempersiapkan lomba.

Tapi, apakah itu alasan yang cukup  kuat untuk tidak menerima kekalahan dengan sportif? Bukannya semua tim juga melakukan “sacrifice” hal yang sama? Jangan-jangan ini alasan kenapa lomba-lomba jarang sekali diadakan di kampung saya ya…

Lomba tujuhbelasan menurut saya adalah suatu aktifitas yang harusnya menyenangkan. Guyub. Bagaimana tidak? Selain mengenang perjuangan para pahlawan, kegiatan-kegiatan ini juga sebagai sarana “srawung”, pembelajaran karakter perjuangan yang jujur, pantang menyerah, kreatif, kerjasama, menghormati orang lain, disiplin, sportif, mengenal potensi diri dan banyak karakter positif lainnya.  Kalau ditilik lagi semakin dalam, lomba-lomba yang diadakan adalah wujud dan simbolisasi perjuangan para pahlawan dalam meraih kemerdekaan. Nhah, mau menerima dan mengakui kekalahan juga simbol seorang pahlawan kan?

Sumpah, saya gagal paham dengan apa yang dilakukan sebagian ibu-ibu di kampung saya. Yang namanya lomba kan tidak bisa semua jadi juara, tapi semua bisa jadi pemenang : dengan sportif. Lagipula, menilik hadiah lomba ini juga hanya piala, dan maksud tujuan membuat lomba ini adalah agar ibu-ibu lebih hapal Indonesia Raya hingga bisa lebih mencintai negeri kita sendiri. Agar ibu-ibu hapal Mars PKK, dan bisa membentuk dan menjadi keluarga sesuai visi misi PKK.

Saya hanya ingin ibu-ibu bahagia. Tanpa berpikir siapa juaranya. Karena kalian semua sudah menjadi juara di keluarga kalian masing-masing.

 

Terus, masih kapok jadi panitia lomba 17an?

Hehehe, sekarang sih masih kapok. Tapi entah setahun lagi.

 

 

Salam Merdeka!

 

 

Selomerto, 8 Agustus 2017. Masih agak trauma dengan lomba paduan suara. Terngiang-ngiang lagu mars PKK terus nih.
Advertisements

4 thoughts on “Kapok Jadi Panitia 17an

  1. hahaha, mboke kinan kasian nemen digruduk peserta, yaa. repot emang kalau jadi juri paduan suara, krn semua peserta ngerasa udah maksimal. dan sedikitcpeserta yg bisa menerima kekalahan dg lapang.

    *ini curhatan dari ibu pkk yg tahun lalu ikut lomba paduan suara* hahaha

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s