jurnal

Dewasalah, Adikku!

Tulisan singkat ini nyempil diantara deadline yang masih di draft belum sempat diedit untuk dipublish. Hanya untuk reminder saya dan betapa bangganya saya jadi seorang kakak.

Siang ini, ada pengemis yang minta-minta ke rumah kami. Kebetulan saya sedang di dapur mencuci piring. Lalu tiba-tiba sayup-sayup saya dengar ada yang bicara :

 

“Nek pingin angsal luwih kathah malih, kerja. Njenengan tasih kuat, tasih sehat.”

 

Mak deg. Seperti suara yang saya kenal.

Lalu setelah suara itu lenyap, beberapa menit kemudian saya sedikit ngintip ke pintu dapur, ternyata ada Mak Nah (yang bantu-bantu di rumah) sedang menyetrika. Lalu saya tanya, apa benar tadi itu suara Kaka? Adik saya. Ngomong sama pengemis?

Kata Mak Nah benar. “Mas Kaka ngulungi arto 2ribuan kalih, trus ngendhikani bapak-bapak sing nyuwun-nyuwun”

Terlepas dari siapa dan apa yang diomongkan tadi, saya kok terharu dan nggregel ya. Kaka itu adik saya yang paling pendiam. Saya masih ingat dia saya antar sekolah TK, karena saya sekolah di SMP 1 dan dia di TK Pertiwi.  Saya masih ingat dia selalu mabok kalau naik angkot. Saya masih ingat tiap sore menyuapinya sambil dia naik sepeda atau jalan-jalan di sekitar halaman. Saya masih ingat hal-hal remeh yang kami lakukan bersama, saat dia masih kecil. Dan, perbincangan tadi dengan seorang pengemis, membuat saya tersadar, adik saya sudah dewasa. Iya. Sudah beranjak dewasa. Ah, time flies so fast.

Kinan dan Om Kaka di acara #ImaginaryLand

Tumbuhlah dewasa, adik kecilku. Maafkan aku yang belum bisa jadi kakak dan panutan yang baik untukmu ya :’)

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s