jurnal, mbakyublogger, wisata, wonosobo

Padusan di Awal Ramadhan

Menjelang puasa Ramadhan, kami (saya, suami dan si kecil) berniat untuk menginap beberapa hari di Parakan, di kampung halaman suami saya. Ternyata saat itu sedang diadakan Nyadran. Nhah, apa itu Nyadran? Sadranan atau Nyadran berasal dari bahasa Jawa yang artinya ziarah. Kalau ngendhika-nya mbah Buyutnya Kinan, nyadran berarti membersihkan tempat makam  dan mengirim doa untuk para leluhur di bulan Ruwah atau Sya’ban.

Yang saya “menangi” kemarin, ketika tanggal untuk Nyadran sudah ditentukan (tiap kampung biasanya berbeda-beda), setelah ziarah ke makam, semua orang di dusun Ngesrep beramai-ramai menyembelih ayam. Lalu mereka juga membuat jajanan yang sore harinya akan diantar-antar ke tetangga, semacam bertukar jajanan. Yang diberikan juga tidak banyak, kira-kira sesuguhan atau sepiring makan. Kebetulan ibu mertua saya membuat Pelog. Jajanan khas dengan bahan utama telur, terigu, mentega, gula pasir, kayu manis dan sedikit jeruk yang diulen, dicetak, dan kemudian digoreng. Hasilnya? Renyah diluar, lembut di dalam. Enaaaak… sampai saat pulang pun, dibawa ke rumah jadi idola tamu yang dateng hihi..

Nhah, setelah agenda Nyadran maka dilanjutkan dengan acara Padusan. Di kampung Ngesrep, mertua saya dan di Selomerto kampung kami juga tidak berbeda, mungkin juga dilakukan di setiap daerah ya, serentak tepatnya H-1 sebelum puasa Ramadhan.

Padusan sendiri berasal dari kata adus yang berarti mandi. Secara sederhana dan konteksnya di bulan Ramadhan, padusan berarti mandi atau menyucikan diri agar dapat menjalankan ibadah puasa dalam keadaan suci.Secara harfiah, padusan dilakukan dengan mandi besar guna menghilangkan hadast besar juga kecil. Dan intinya padusan bisa dilakukan dimanapun sih, mau di rumah, di sumber mata air, pemandian umum dan lain-lain, karena tujuan utamanya adalah menyucikan diri. Dan perlu digarisbawahi,  bahwa padusan itu bukan sekadar mandi, keramas menjelang puasa. Namun lebih kepada pembersihan raga dan jiwa sehingga benar-benar bersih, suci, dan siap untuk berpuasa.

Sedikit cerita, kurang lebih 8 tahun lalu saat saya masih kerja praktek di Humas Setda Wonosobo (saat itu masih bernama Humas, sekarang sudah berdiri jadi Diskotik, Dinas Komunikasi dan Informatika) ,saya sempat diajak untuk meliput kasus anak tenggelam di Telaga Menjer, karena sedang padusan. Sebenarnya sudah ada larangan untuk tidak berenang disana karena memang bukan area untuk berenang. Tapi, untung tak bisa diraih, malang tak bisa ditolak, si anak tenggelam dan akhirnya meninggal, dan kurang lebih mengerahkan hampir seminggu pencarian, mengingat dalam dan luasnya telaga Menjer. Hal itu amat mengerikan bagi saya, membekas di ingatan sampai sekarang.

Namun, sewaktu kecil, saya ingat pernah ikut padusan di sumber mata air  di dekat rumah bersama dengan teman-teman, dan juga pernah diajak bapak ibu ke pemandian / kolam renang Mangli di Wonosobo. Hal ini juga masih teringat sampai sekarang. Menyenangkan dan banyak kisah lucunya. Saya masih ingat bagaimana serunya bermain air di sumber mata air, berangkat dan pulang berjalan kaki beramai-ramai. Saya juga masih ingat diajak ke Mangli, pulangnya makan mi ayam dan molen yang hangat. Nikmaaat..

Dan saya berani yakin, saat menjelang puasa ini pasti pemandian di Wonosobo seperti Mangli, Kalianget dan lainnya akan ramai pengunjung. Belum lagi sungai-sungai dan mata air yang ada, pasti ramai.

Oiya, ngobrolin Padusan ramai di Wonosobo, ada nih yang seru lagi di Masjid Al Manshur Kauman Wonosobo.Ada agenda #PadusanBudaya session #7 lhoh. Agenda tahunan ini diawali dengan pawai kesenian keliling kampung, menggelar pentas di depan Masjid. Puluhan anak mandi bersama (padusan) di kolam masjid. Menurut om Haqqi (pemuda Masjid dan penggiat budaya) selain merupakan bagian dari cara warga Kauman menyambut hari suci, kegiatan ini juga meningkatkan harmonisasi sosial. Uniknya, disini kita akan melihat bagaimana semua melebur menjadi satu, tanpa perbedaan. Ada pertunjukkan Liong Barongsay, drumband, calung, dan lain-lain. Seruu!

Kesenian Barongsay dari teman-teman Tionghoa di acara #PadusanBudaya . Pict : Om Haqqi
Tuh liat yang nonton Liong, rame kan.. pict : om Haqqi

Tapi, tahun ini saya padusan di rumah saja nih, hehe.. Kalau kamu?

Advertisements

3 thoughts on “Padusan di Awal Ramadhan”

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s