bayi&balita, jurnal, keluarga, kinan, marriage life

Drama Menyusui Kinan : Lelah

Semalam itu, pikiran jelek saya muncul. Saya merasa menyusui itu melelahkan. Saya ingin sesekali tidur tanpa terbangun tiap malam. Saya ingin payudara saya tidak nyut-nyutan tiap malam. Saya ingin Kinan tahu, kalau menggigit itu sakit. Saya jadi berpikir kalau saya masih bekerja, mungkin saya bisa ,menyempatkan diri untuk saya sendiri… Saya ingin banyak waktu untuk saya sendiri.. saya ingin… saya…

-0-

Semalam, saya benar-benar merasakan galau yang teramat sangat dalam hal menyusui.

Selama 11 bulan lebih menyusui Kinan, kemarin saya merasa galau sejadi-jadinya. Sudah hampir seminggu hari ini saya batuk tidak sembuh-sembuh. Sudah minum obat sampai habis 2 botol, jeruk nipis, selasih, dan teman-temannya tapi belum juga membaik. Bahkan jika menuju subuh, batuk semakin menjadi-jadi. Dan tentunya membuat sepanjang malam Kinan jadi terganggu.

Belum lagi, gigi Kinan yang semakin tinggi , membuat kesempatan tergigit puting saya juga semakin tinggi. Kadang bisa sampai saya menjerit dan menangis. Kalau dalam keadaan terbangun, Kinan pasti akan tertawa melihat ekspresi saya. Tapi kalau sedang tidur, susah dicopotnya sampai saya ngilu. Sakit? Jangan ditanya. Mau teriak takut bangun, cuma mingsek-mingsek sambil ketakutan. Takut luka atau copot, huks.

Malam harinya, badan saya sudah agak tidak enak. Kinan tampak gelisah dan dikit-dikit maunya nempel terus, tapi enggak minum ASI, hanya nenen dan meluk. Terbangun, nangis. Gitu, terus. Saya kecapekan. Diambil alih oleh Bapaknya, digendong dan sampai akhirnya Kinan menyerah untuk tidur.

Suami saya juga seperti ketiban sampur. Sepele sih, karena Kinan sedang suka eksplor benda-benda dan dimasukkan ke mulut. Pernah dia makan kertas, tisu, dan lain-lain. Dan kebetulan malam itu saat Kinan rewel belum mau tidur, dia main-main di bawah kasur dan menemukan benang. DIambillah benang itu dan dimasukkan ke mulut. Suami saya panik mungkin tidak sadar berucap “Buk, anake tah. Sesuk neh, kamare disapu” (Bu, anaknya dulu. Besok lagi kamar disapu). Dengan nada yang agak tinggi. Padahal biasa saja sih suami saya memang kalau panik kan memang pakai nada agak tinggi. Tapi entah kenapa saya meluap. Diam saja. Saya merasa sehari-hari ini menjaga Kinan, membersihkan kamar, rumah dan lain-lain rasanya menjadi percumah. Saya merasa tidak dihargai. Ingin menangis sejadinya.

Saya tahu setelah itu pasti suami saya menyesal.

Pukul 2 pagi, badan saya seperti meriang. Dan payudara bengkak. Wah, bisa jadi “ngrangkaki” inih. Walau dengan badan lemas, saya ke dapur dan ambil gelas dan botol ASI. Dan saya tekadkan memerah menggunakan tangan.Terakhir memerah ASI kapan saya lupa tepatnya. Masih ada stok ASI dari jaman Kinan masih sangat bayi di kulkas. Sekitar 6-7 bulanan yang lalu. Belum sempat saya buang atau memang sengaja saya masih pertahankan, saya juga ragu. Tapi karena tidak pernah memerah selama itu, saya jadi agak kagok dan karena payudara bengkak, sakitnya. Sakit? Iya. Capek? Apalagi. Tapi, kalau tidak diperah, akan semakin sakit. Tapi, saya lelah. Lalu, mata saya beralih ke Kinan dan suami saya yang di samping saya, tertidur pulas.

Saya menangis lagi.

Baca Juga : Drama Menyusui Kinan Kuning

Saat Kinan dirawat di Adina karena kuning

 

Menyusui itu indah, tapi banyak hal yang membuat kita melewatinya dengan tidak mudah.

Semalam itu, pikiran jelek saya muncul. Saya merasa menyusui itu melelahkan. Saya ingin sesekali tidur tanpa terbangun tiap malam. Saya ingin payudara saya tidak nyut-nyutan tiap malam. Saya ingin Kinan tahu, kalau menggigit itu sakit. Saya jadi berpikir kalau saya masih bekerja, mungkin saya bisa ,menyempatkan diri untuk saya sendiri… Saya ingin banyak waktu untuk saya sendiri.. saya ingin… saya…

.

.

.

Paginya, Kinan dengan senyum tengilnya membangunkan saya. “Maaaaaaaah….” Tertawa polos, meringis dan bertingkah menggemaskan. Tertawa riang dan membuat saya terharu. Menangis lagi, tapi kali ini bukan menangis sedih. Ada rasa hangat menyeruak di hati saya. Senyum dan tawanya menyadarkan saya bahwa ini hanya sementara. Nanti akan ada waktu untuk menyapih, dan tidak terasa sudah hampir setahun saya menjadi ibu untuk Kinan.

Selamat pagi, Maaah 🙂

Siapa sangka, hari ini di tahun yang lalu saya masih mengajar di SMK. Menyiapkan peralatan tempur untuk menyusui : lemari es yang diambil dari gaji suami, pompa ASI yang harganya setengah juta, botol ASI yang berpuluh-puluh, tas cantik untuk mengangkut botol ASI, dan sambil memikirkan manajemen perah di rumah dan di kantor. Optimis tidak ada kata resign. Tapi, apa daya. Tuhan Maha Asyik, sang Maha Pembolak Balik Hati.

Baca Juga : Drama Menyusui Kinan : Resign

Bismillah.  Saya ikhlaskan menyusui Kinan dengan sepenuh tenaga, sepenuh waktu, semua cinta dan derai air mata.

 

Hanya saja, malam ini Mamah sedikit merasa lelah Nduk, tapi yakin sebentar lagi akan menjadi kuat kembali.

 

Baca juga postingan #PostingBareng6 :

Amini yang curhat kena Vertigo
 Inayah tentang Nazar gak punya Pacar
 Ida yang bikin puisi berjudul Dua dan Kelipatannya

Advertisements

2 thoughts on “Drama Menyusui Kinan : Lelah”

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s