jurnal, keluarga, marriage life

Kartini yang Menjelma dalam Raga Srikandi

Siapa Kartiniku?

Bicara tentang Kartini, begitu banyak hal-hal yang bisa kita bahas dan obrolkan. Kayaknya bisa jadi satu buku tebal atau percakapan yang menghabiskan banyak sekali cangkir kopi. Walaupun saya nggak minum kopi sih, setidaknya setelah saya tahu kalau hamil anak kami, Kinan, sampai sekarang usianya menginjak 11 bulan tepat di tanggal 21 ini, saya belum minum kopi (red : bener-bener menikmati kopi secangkir yang dibuat sendiri, kalau nyruput punya suami sih bisa diitung 2-3 kali dalam hampir 2 tahun ini. Toh ternyata saya masih waras, hahaha). Lalu, apa sosok seorang Kartini yang menulis surat, yang kebayaan, yang kondean, yang tidak mau dimadu masih relevan dengan wanita di era sekarang?

Kartini yang Menjelma dalam Raga Srikandi

Saya mengenalnya tidak sengaja. Pertemuan saya pertama kali dengannya terjadi di suatu postingan di grup, yang ternyata kami ada di dalam satu komunitas blogger yang sama, bedanya saya saat itu baru saja masuk komunitas, sedangkan dia sudah jadi dedengkot karena sudah lama. Ketika terpampang sebuah nama : Pungky Prayitno sebagai finalis Srikandi di ajang pemilihan blogger, yaitu pemilihan blogger perempuan yang paling menginspirasi, tidak tahu kenapa saya jadi penasaran dengannya. Saya pun iseng-iseng membuka blognya dan asyik menelaah siapa dirinya.

Saat itu saya merasa menemukan teman, dengan alasan, usianya yang sepantaran dengan saya, 24 tahun (tiga tahun lalu). Namun, ketika saya kembali menelusuri dan mencari tahu lebih dalam tentang Pungky, saya jadi merasa kecil. Sangat kecil. Di usianya yang masih muda, ternyata dia sudah menikah, dan sudah mempunyai seorang anak laki-laki bernama :  Sujiwo Arkadievich Pramukti. Hebatnya lagi, dia masih kuliah dan nyambi bekerja. Saya melongo dibuatnya. Ini orang beneran ada gak sih?

Cantik dan enerjik. Itulah hal pertama ketika saya melihat foto profil di blognya. Kulitnya sawo matang, terawat bersih. Badan semampai, wajah yang ceria, dan terlihat ramah. Bahkan beberapa pose yang ada disana, menunjukkan betapa ke-‘mudaan’nya dia. Emak ABG gaul, begitu panggilannya. Ini bukan endorse ya, teman-teman.

Setiap kata yang dituangkannya dalam tulisan cenderung berani dan selalu orisinil dengan mengambil sudut pandang yang berbeda dari kebanyakan. Kalau ibarat gorengan ya yang kriuk-kriuk renyah. Tak jarang tulisannya yang menyayat-nyayat atau yang vulgar sekalipun mengundang banyak komentar pujian dan apresiasi yang luar biasa dari semua pembacanya. Dia pintar dan pandai mengolah kata dan membungkusnya dengan cantik. Yang membuat saya terkagum-kagum lagi, dia aktif mengisi blognya yang tiga buah dengan postingan yang sangat bermanfaat dan informatif. Posting tentang semua kegiatan positifnya, hingga sharing sebagai Ibu muda yang mengasuh anaknya yang disampaikan dengan khas Pungky yang tidak menggurui, dan menyenangkan.

Sampai akhirnya, dia yang dinobatkan menjadi pemenang sebagai Srikandi blogger atau perempuan paling menginspirasi di komunitas yang kami ikuti bersama-sama. Dari sana, saya mencoba menjalin komunikasi dengannya demi menuntaskan rasa penasaran saya. Dan memang benar seperti apa yang dituliskan di blognya, dan semua pujian tentang dia. Suatu ketika saya sedang mengumpulkan buku bacaan anak-anak untuk disumbangkan ke perpustakaan di suatu sekolah dasar yang agak terpencil. Dengan keberanian dan kenekatan, akhirnya saya menghubungi Pungky untuk memohon bantuan bukunya “Peri-Peri Bersayap Pelangi” yang berisi kumpulan cerita anak-anak.

Singkat cerita , saya mengakhiri obrolan kami yang berjarak ratusan kilometer dengan senyuman terkembang. Tuntas sudah rasa penasaran saya. Dia memang seorang Pungky. Srikandi blogger, emak gaul, emak ABG, supel, ramah dan menyenangkan. Nyaman sekali ngobrol dengannya. Meskipun beberapa kali kami sempat ‘putus-nyambung’ karena si Jiwo minta nenen, dan lain sebagainya, tapi itu membuat saya menemukan sosok lain dalam dirinya, yaitu sosok seorang Ibu.

Di lain cerita, dia selalu ingin berbuat sesuatu untuk perempuan dan anak-anak. Terbukti dengan banyaknya bukunya “Peri – Peri Bersayap Pelangi” yang sudah singgah di banyak perpustakaan hampir seluruh Indonesia. Betapa tidak bangga, dia yang sudah mengadakan banyak acara ringan seperti “Mendongeng” dan masih banyak lagi kegiatan untuk anak-anak yang membutuhkan.

Baca juga : KEB dan Peri Bersayap Pelangi

Tidak ada yang menyangka kalau Pungky ini adalah seorang Ibu yang pernah mengalami jeratan Post Natal Deppression, baby blues. Namun dengan segala kekuatan dan perjuangannya ditambah dengan cinta disekelilingnya, dia bisa bangkit dan tidak akan ada yang percaya, dia bisa seceria ini sampai sekarang.

Pungky yang selalu bilang kere, tapi hatinya kaya dengan cinta. Dia sangat bahagia dengan semua yang dimilikinya. Mengurus rumah tangga, seorang suami dan seorang malaikat kecilnya. Seorang aktivis perempuan dan anak-anak yang ikut banyak komunitas. Masih harus bekerja sebagai content writer dan banyak kegiatan offline yang dia tekuni. Urusan mahasiswa dengan skripsi segambreng. Menjadi seorang comic perempuan di komunitas standup Comedy Purwokerto, seorang blogger yang punya tiga blog (eh sekarang punya berapa sih?), hingga banyak kegiatan sosial yang berhubungan dengan anak-anak. Masih saja membuat saya berpikir, kamu punya capek gak sih?

Ya. Tapi, begitulah Pungky. Dia selalu bersyukur apapun yang terjadi. Seorang perempuan yang sangat menginspirasi saya dalam banyak hal. Salah satunya adalah kepeduliannya terhadap anak-anak dan perempuan, dan tentunya tentang menulis. Saya mengagumi setiap kata-kata yang meluncur dari hentakan keyboardnya. Yang selalu membuat orang yang membaca berdecak sambil membulatkan bibirnya sambil bilang “Ooo…” , tentunya langsung mereka share sampai viral, muahahahahhaa…

Sempat bertemu, gelosoran bareng dan mengenalnya, merupakan salah satu hadiah dari Tuhan. Saya bukan apa-apa dibandingkan Pungky. Kami hanya perempuan seumuran, kami sama-sama sudah menikah, punya anak satu. Namun saya belum berani dan belum bisa berbuat banyak untuk orang-orang di sekitar saya.  Terima kasih, Pungky Prayitno. Seorang perempuan biasa yang mempunyai hati yang luar biasa. Yang telah mengajarkan saya banyak hal dan membuat saya berani melangkah. Dia sudah membuktikan kepada semuanya bahwa seorang anak-anak yang punya anak pun bisa melewati semuanya dengan baik-baik saja.

Akhirnya ketemu, yeeayyyy!

Hei, Pungky… Kartini tidak harus seorang nenek atau ibu-ibu dengan balutan kebaya, kan? Karena bagi saya, kamu adalah seorang Kartini yang menjelma di dalam raga Srikandi. Sehat selalu. Selalu jadi inspirasi untuk kami.
WARNING! Plis yang baca jangan ngetag Pungky ya, takut dia kesenengan.

Kalaupun tulisan ini akhirnya kebaca sama Pungky, ini pesan buat Pungky :
” Btw, dibaca berulang kalipun kok kayaknya bahasanya lebay banget ya Pung. Anggep aja ini tulisanku yang lagi mabok minum Milo, wahahahaha…”

 

Postingan artikel ini diikutsertakan dalam #PostingBareng5 memperingati #HariKartini2017 dan #3TahunMbakYuBlogger

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s