​Mertua Larang Saya Beli Bumbu Dapur di Warung

“Bu.. kunyit sama kencur habis yaa..”
“Mau buat apa?”

“Ini, mas Erwin (suami) mau saya parutkan kunyit sama kencur, biar tenggorokannya anget, biar reda batuknya”

“Oohh.. yaya..”

“Saya beli aja ya di warung depan..”

“Eiitss.. jangan beli!”, larang Ibu mertua saya.

“Hah, kenapa?”

Belum terjawab rasa penasaran saya, tiba-tiba Ibu ke belakang rumah sambil membawa pisau besar.

“Ini..”, kata beliau sambil menyerahkan pisau ke saya.

Saya bingung. Tapi mengekor Ibu ke depan rumah.

“Ini kunyit, ini kunyit putih. Kalau yang ini kencur. Ada pandan juga. Yang di bawah kamar itu jahe. Serai Ibu tanam di belakang rumah, soalnya susah numbuh di depan”

Selama 3 tahun jadi menantu kok malah gak ngeh di halaman depan selain ada pohon melinjo, tanaman bunga, ternyata Ibu juga menanam apotek hidup. Ampuunnn 😂

Tanaman kencur, daunnya agak lebar dan merunduk, batang pendek hingga daun terlihat seperti menempel di tanah

Ini kunyit putih yang katanya bisa untuk meredakan penyakit diare

Ini tanaman kunyit yang tumbuh subur didepan, biasanya saya gunakan untuk meredakan nyeri perut, flu, dan juga untuk pewarna nasi kuning

Di samping tanaman kunyit, ada tanaman pandan. Biasa kita gunakan sebagai pewangi dan pewarna makanan

Intermezzo, Ibu mertua saya juga sebagai Kader PKK dan Kader Posyandu di desa. Urusan MPASI Kinan juga aman dong soalnya Ibu juga paham betul pemberian MPASI tanpa gula garam di bawah 1 tahun, juga sering mengingatkan saya posyandu dan imunisasi.

Kembali ke apotek hidup, dari hasil ngobrol dengan Ibu, ada beberapa alasan mengapa Ibu bertanam apotek hidup :

1. “Nggo ijo-ijo”

Atau intinya sebagai sarana penghijauan di sekitar rumah. Tidak hanya untuk menjaga kesegaran udara tapi juga sebagai penghias dan penyejuk mata.

2. “Nggo conto tangga teparo”

Sebagai kader PKK, ibu selalu ingin mencontohkan tetangga hal-hal yang baik demi mensukseskan gerakan PKK, salah satunya adalah menanam apotek hidup.

3. “Nggo obat sakwayah-wayah”

Apotek hidup memang sangat membantu kita untuk mengatasi gangguan kesehatan dan pertolongan pertama. Misal batuk, bisa dengan kencur. Misal mimisan, bisa diobati dengan daun sirih

4. “Nggo ngirit lan genep-genep bumbu pawon”

Yang ini jelas banget kan ya. Namanya bumbu dapur pasti kita pakai sehari-hari untuk masak. Selain hemat karena kita tidak usah beli, juga saat mendadak butuh kita tinggal petik aja di halaman depan. Praktis.

5. “Bisa nyuburke tanah, ora kakean sampah”

Misal kita beli belanjaan, kadang dikasi plastik kresek kan ya.. tapi kalau kita tanam sendiri, secara nggak langsung kita akan mengurangi pemakaian limbah plastik lho. Dan, limbah tanaman kita yang berupa daun kering bisa kita manfaatkan sebagai pupuk kompos untuk menyuburkan tanah.

6. “Nggo samben”

Memelihara tanaman adalah salah satu cara yang baik untuk mengisi waktu luang. Dari mulai menyiapkan bibit, menyiapkan tanah, menanam, menyiangi gulma, menyiram, hingga memetiknya akan jadi kegiatan yang menyenangkan.

Itulah kira-kira alasan mengapa Ibu mertua saya melarang saya untuk membeli bumbu dapur di warung. Dan setelah dipikir-pikir juga setiap rumah tangga harus punya apotek hidup dan warung hidup. Di rumah juga ada sih, seperti oncang, cabai, tomat, dan kunyit, tapi belum saya rawat sepenuhnya. Tapi berdasar cerita Ibu tadi, saya sepakat dan semoga bisa meluangkan waktu untuk mengurus tanaman apotek hidup dan warung hidup di rumah, demi pengiritan juga kan, teteuupp #ehgimanasih .

Advertisements

5 thoughts on “​Mertua Larang Saya Beli Bumbu Dapur di Warung

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s