Ketika Dokter Berkata Saya Harus Operasi

Halooo.. ini sekedar sharing saat saya #HamilKinan , dan ini cerita saat kami bertemu Dokter Dito di RSIA Adina Wonosobo 🙂

Baca juga: Kehamilan Trisemester Pertama 

Baca juga: Kehamilan Trisemester Kedua 

18 Mei 2016. H-10 HPL

Sempat galau karena kejadian disalah-salahkan bidan di Puskesmas, akhirnya kami setuju untuk memeriksakan kandungan di RSIA Adina. Berdasar rekomendasi dari keluarga dan teman, kami akhirnya menemui dokter Dito. Karena suami antri dari siang, maka kami bisa dapat nomer urut 4, tapi praktek dimulai jam 19.00.

Sekitar pukul 18.30 kami berangkat. Mewek saya si sudah reda, tapi ya tetep khawatir, dan sambil ndremimil berdoa di dalam hati. Sesampai disana, sudah ramai yang antri. Saya dan suami langsung ke bagian registrasi dan diminta menunggu. Tidak lama, saya dipanggil untuk cek tekanan darah dan berat badan. Dan disuruh menunggu lagi. Lalu, sampailah giliran kami.

“Ibu Wening Tyas Suminar…”, panggil perawat. Kami masuk ke ruang periksa. Sudah ada dokter muda yang menyambut kami dengan senyum ramah (sebelumnya, saat di ruang tunggu, kami sempat browsing untuk tahu muka dr. Dito, hahaha). Lalu dr.Dito bertanya keluhan dan apa yang dirasakan. Saya sedikit “mengadu” bidan yang tadi menyalahkan saya, dan meminta untuk USG.

Baca juga : Cerita Kehamilan Trisemester Ketiga

Saya diminta berbaring, dan mulai diperiksa oleh dr.Dito.

“Tingginya berapa?”,tanya dokter.

“Ehmm, 159 dok”, jawab saya.

“Harusnya sudah masuk ini, sudah pernah USG di awal-awal kemarin?”

“Sudah, di dr.AI dok”, jawab saya sambil bingung.

“Terus, bilang kalau ada kelainan rahim atau gimana ndak?”, tanyanya.

“Enggak, katanya sehat semua”. 

“Untuk usia janin dan beratnya sekitar 3kiloan lebih, dibandingkan dengan postur ibunya, harusnya sudah masuk. Tapi pasti ada sesuatu hal. Sebentar…”

“Nhah, ini.. ada lilitan tali pusar. Tiga. Di kepala, leher dan badannya. Itu yang bikin dia gak bisa turun ke posisi preskep, sekarang dianya masih presbo aja”.

Saya bengong. Speechless.

Kembali duduk di meja konsultasi dan saya masih bengong. Melihat dr. Dito menuliskan hasil periksa di buku KIA saya.

“Tetapkan tanggal ya, jangan sampai lewat HPL. HPL-nya tanggal berapa ya ini. Ooh, 28. 10 hari lagi? Maksimal seminggu ya, tentukan dalam minggu-minggu ini saja. Kalau mau sama saya jangan hari Minggu ya. Saya ke Jogja.Pakai BPJS?”

“Iya Dok..” jawab saya sambil memandang suami penuh khawatir, takut dan rasa campur aduk jadi satu.

“Berarti saya buatkan rujukan saja. Bisa dipilih di RSUD atau di RSI, ya..”

“Eehmm, kalau normal tetap nggak bisa ya Dok?”

Dokter tersenyum.

“Bisa, tapi saya tidak merekomendasikan karena beresiko. Alasannya : ini kehamilan pertama, jalan lahir masih sempit, jika dipaksakan melahirkan dengan presentasi bokong di bawah.Kedua, lilitan tali pusar yang bisa saja kencang akan lebih beresiko jika menunggu sampai kontraksi. Kalau kontraksi kan tetap saja janin memaksa untuk keluar, dan turun ke bawah. Lilitannya itu juga yang lebih beresiko. Jadi untuk keselamatan bayi dan ibu, saya merekomendasikan operasi sesar.”

JEDUEEEENG… rasanya perut tiba-tiba jadi mual banget, trus kaya naik rollercoaster, makwuuussss.. maksiirrr..

PANIK. Mata mulai pet-petan kaya mau pingsan, tapi saya tahan.

“Oke ya, dibahas dulu. Tapi jangan terlalu lama dan jangan sampai nunggu kontraksi”.

Saya mengangguk sambil memegang tangan suami kencang. Saya juga gak berani noleh lihat wajah suami. Gak kuat pingin nangis nanti.

“Oiya, untuk yang katanya denyut jantungnya cepat, itu gimana Dok?”

“Sebenarnya, yang bisa menghitung denyut jantung yang lebih akurat cuma pake EKG trus nanti kita hitung rata-ratanya. Nanti dicek aja ya, biar disiapkan perawat.”

 

Setelah kami keluar ruang periksa, kami diantar ke ruang disamping ruang bersalin. Copot sepatu dan sandal, dan saya dibaringkan di tempat tidur. Dua perawat langsung memasangkan alat di perut saya, seperti sabuk, tapi ada alat pendeteksi jantung semacam stetoskop namun ada kabelnya yang terhubung di alat disamping tempat tidur. Di alat itu ada layar digital yang menunjukkan tingginya denyut jantung dan mengeluarkan kertas mencetak grafik denyut jantungnya. Perawat bilang kalau ada gerakan, pencet tombol yang dipegangkan di tangan kanan saya. Karena ruangan sepi dan kosong, suara detak jantung janinnya keraaas sekali. Wuuuk wuuuk wuukkk… seperti kuda yang lari-lari. Proses ini berlangsung selama kurang lebih 30menit. Selama itu, suami saya menunggui sambil melemparkan joke garingnya, mungkin biar saya agak terhibur dan gak panik hehe..

Setelah selesai, kami diantar lagi ke ruang periksa untuk konsultasi lagi dengan dr.Dito. Dan aman. Denyut jantungnya gak ada masalah. Mungkin saat diperiksa pas saya dongkol sama bidannya kali ya, trus si bayi ikutan marah deh. Maafin Ibu ya Nak…

Operasi sesar kayak apa ya rasanya? Saya mbayanginnya kok masih ngeri aja. Diinfus aja belum pernah, lha kok ini mau dioperasi. Huhuhu.. Pulang ke rumah, suami masak telur dadar dan kami makan malam sekitar pukul 22.00, saya laper banget sih, tadi lupa gak bawa cemilan.

Telur dadar buatan suami di malam yang galau

Pas mau tidur, saya pingin bahas masalah operasi ini sama suami, tapi kayaknya mending besok aja deh. Biar malam ini kita istirahat. Istirahatkan hati jugaa.. Penasaran akhirnya bagaimana Kinan lahir ? Bersambuuung ke hari H lahiran ya, hihi..

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s