jurnal, kinan, marriage life, memory, notetoself, referensi, review, tips & trik

Curhat menjelang 14 Februari – Membeli Tanah

Baiklah, jangan ekspektasi hal romantis dulu ya. Karena apa yang akan saya tulis tidak ada hubungannya sama sekali dengan tanggal 14 Februari hehe. Biar kelihatan romantis aja sih.. *dikeplak

Sudah sekitar 8 bulan kami (akhirnya) menumpang di rumah bapak ibu saya. Kami disini adalah saya, suami dan anak kami, Kinan. Awalnya dengan sedikit drama karena kebetulan saya melahirkan secara sesar, anak kami kuning, dan mungkin kami semacam butuh bantuan untuk merawat anak kami. Oke, skip. Intinya kami sudah berada di rumah orangtua sudah 8 bulan. 

Seneng apa enggak? Hihihi.. jawabnya seneng sih tapi… (harus pake tapi). Senengnya ya karena ada yang bantu, karena ada ART jadi ada yang bantu mencuci sampai nyetrika, ada yang bantu masak juga bersih-bersih. Trus misal suami saya kerja, trus saya mau makan, mau ke kamar mandi, atau mau nyiapkan makan buat Kinan, bahkan untuk sholat, insyaAllah ada yang bisa bantu jagain Kinan. Meskipun kadang kalau mbak ART udah pulang, orangtua saya pergi, adek saya belum pulang ya mau nggak mau harus bisa sendirian. Dari mulai sholat dan makan pakai acara nggendong. Sampai pipis juga pakai nggendong hahaha *jangan dibayangin. apalagi di usia Kinan yang udah susah dan bahaya kalau ditinggal sendirian. Udah pinter ngrangkak dan mulai rambatan. Jadi, gak bisa kalau ditinggal sendiri, meskipun lagi tidur.


Oke, kembali ke topik utama. Sudah lama suami dan saya ingin sekali punya rumah sendiri. Dan, ketika tabungan sudah cukup (baru cukup beli tanahnya), maka kami mulai hunting tanah. Sudah ada setahunan lebih kami cari tempat dan lokasi, tapi belum ada yang cocok. Pernah dulu sekitar bulan Agustus tahun lalu, kami ingin memantapkan hati untuk mengambil tanah di lokasi perumahan baru di sekitar Mojotengah. Tadinya saya yang mantep banget, udah sampai ngurus KTP dan KK, tapi setelah survey gak tau kenapa kok hati saya mak klenir, gamang. Lalu bilang sama suami :”Besok lagi aja po Mas, mboan sekarang rejekinya dikasih anak”, hahaha.. padahal gak tau kalau hamil lhoo, ehh sebulan kemudian ternyata hamil beneran, udah 5 minggu. Alhamdulillaahh 😁

Dan berkali-kali ketika ditawarkan tanah di Kalibeber, di Garung, di Leksono kok ya adaaa aja belum mantep. Entah dari saya atau dari mas suami. Sampai akhirnyaaa.. ada postingan grup jual beli tanah dan rumah yang bilang kalau ada tanah kapling baru di sekitar rumah orangtua. Sebenarnya masih masuk dusun yang sama, hanya agak masuk karena tadinya sawah. Lalu, iseng deh saya tanya, dan akhirnya kami survey. Daannn.. belum pernah saya lihat suami saya semantep ini. Wohoo.. 
Tapi.. beli tanah ternyata tidak semudah beli tempe kemul yang langsung bungkus. Setelah kami berunding dengan orangtua saya dan mertua, intinya mereka setuju tapi eh tapi harus dipertimbangkan masak-masak. Apalagi kami juga ada rencana untuk membangun rumah disitu kelak, sementara ini sih untuk tabungan dulu hehe.

Berikut yang harus kami perhatikan ketika membeli tanah :

  • Jangan terburu-buru.

Banyak sekali hal yang harus dipertimbangkan dalam membeli tanah. Salah satu contohnya adalah membandingkan harga dengan lokasi lain yang hampir mirip. Apakah sama, apakah lebih murah? Dan kita adalah pembeli yang butuh informasi secara mendetail dari marketing/penjual, sehingga jangan mudah terpancing bujuk rayu. Semacam bermain layang-layang, tarik ulur 😂

  • Periksa surat tanah

Jangan lupa hal utama adalah mengecek surat tanah. Apakah sudah sertifikat, apakah tanah bermasalah, cek bentuk tanah seperti apa dan juga cek asal usul tanah,tadinya tanah bekas apa dll. 

Yang ini oke, sertifikat dan ketika lunas nanti akan dibantu sampai selesai.

  • Lokasi 

Lokasinya apakah strategis dan dekat sarana umum? Dekat pasar, kantor polisi, puskesmas, warung, dll. Cek juga lokasi bentuk tanah dan perkiraan bahaya seperti dekat sungai, aliran listrik, dll.

Yang ini juga oke. Lokasi dibelakang polsek, puskesmas dan koperasi. Jarak hanya 100 meter dari jalan raya provinsi. Dekat pasar dan dekat rumah orangtuas hehe.. tidak ada sungai yang dekat, dan itu bekas sawah.

  • Akses

Akses sebisa mungkin bisa menggunakan kendaraan roda 2 hingga roda 4. Dan pastikan ada jalan untuk memutar yang longgar.

Eehm, sementara memang hanya ada akses motor, tapi sedang dibangun juga akses mobilnya, mungkin sekitar 6bulan sudah jadi.

  • Lingkungan sekitar

Bagaimana lingkungan sekitarnya, tetangga dan kondisi lain apakah memungkinkan dan kondusif untuk perkembangan anak dan tidak over kompetitif.

Yang ini juga masuk kriteria. Tetangga masih sedikit dan merupakan RT baru. Orangnya si asli sekitar situ semua tapi baru pindah-pindah belum lama.

  • Harga jual

Tanah yang baik pasti ketika dijual sekitar 3-4 tahun harganya akan naik minimal 15% dari harga semula. 

Katanya sih tanah sebelah sudah laku sedikit diatas tanah yang kami taksir.
Dari sekian pertimbangan diatas, intinya adalah : “Milang-miling lan ojo kesusu” atau Banyaklah pertimbangan dan jangan terburu-buru.Karena, tanah itu pulung/rejeki.
Untunglah marketingnya tidak ngoyak-oyak seakan-akan ditagih mau bayar angsuran, jadi kami masih nyaman-nyaman saja. Entah mau jadi ambil atau tidak, mungkin di minggu depan kami segera memutuskan. Doakan yaaaa.. 😉
Rencana mau ajak orangtua survey juga sih, jadi biar tambah pertimbangan (atau malah bikin bingung, hahaha gak taulah )
Wish us luck!

Advertisements

2 thoughts on “Curhat menjelang 14 Februari – Membeli Tanah”

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s