film, jurnal, mbakyublogger, notetoself, referensi, wonosobo

Dibalik Film SEPI

Sudah nonton filmnya?


Film SEPI (Sekedar Pasar Impian) oleh SAKSI Production bekerjasama dengan MbakYu Blogger dan Go Lokal. Sebuah karya jurnalistik dalam film dokumenter tentang curhat para pedagang korban kebakaran pasar.

Jadi, suatu ketika saya diajak suami saya yang kebetulan wartawan sebuah koran lokal di Wonosobo untuk melakukan liputan di pasar penampungan. Kebetulan saat itu kami akan makan siang bersama, jadi ya kami pikir sekalian saja, liputan, lalu makan. Setelah parkir di bawah jembatan penyeberangan, saya mengikuti langkah suami yang agak tergesa menuju parkiran bawah RITA. Kenapa lewat parkiran, kan mau liputan pasar penampungan, hati saya bertanya-tanya. Tapi, mata saya tertuju pada sebuah pemandangan yang membuat saya agak “speechless”.

Pasar penampungan juga ada di bawah parkiran. Dekat motor-motor. Bau gas dan asap kendaraan. Banyak los yang kosong. Bau pesing juga.  Gelap. Sempit. Pengap. Sepi.

Ketika suami sudah mulai beraksi, saya iseng menghampiri seorang penjual baju. Namanya Sumarno. Dengan polos saya bertanya, sejak kapan mereka direlokasi disini. Lalu Ibu Sumarno bercerita panjang lebar, bagaimana kebakaran, bagaimana dipindah, bagaimana demo di Sekda untuk memperoleh tempat, bagaimana akhirnya disini. Beliau terisak. Saya tidak tega.

Lalu, datang suaminya. Kembali bercerita. Datang tetangga losnya, kembali bercerita. Semua cerita saya hubungkan ke dalam kepala, saya rangkai dan saya proyeksikan. Ahh, dasar saya tidak tegaan. Malah saya hampir mewek.

Suami saya tampak profesional melakukan tugasnya. Banyak yang tidak mau bersuara karena “takut”. Namun, ia meyakinkan bahwa tidak akan ada apa-apa.

“Ampun ditulis sing elek-elek nggih Mas, mangke kulo dipenjara”, kata seorang penjual yang agak tua.

Suami saya hanya tersenyum dan berkata, “Mboten Bu, nek onten nopo-nopo, tanggung jawabe kulo”.

Kami juga berusaha memberikan pengertian bahwa dengan adanya “orang luar” mengetahui kondisi sebenarnya, maka orang akan “tahu dan paham”.

Tiba-tiba saya berpikir untuk mengadakan sesuatu di bawah parkiran ini. Saya sampaikan ide ini ke suami. Dan tiba-tiba, sepertinya USB di kepala kami terkoneksi.

Film. 

Kami ingin membuat film tentang pasar. Pasar relokasi di bawah RITA.

Sesampai di rumah, ide membuat film belum bisa move-on. Kami memang suka membuat acara -entah itu talkshow atau apapun- hanya dikoordinatori berdua, hanya berdua. Kami juga penikmat film, tapi untuk membuat film sendiri kami belum sanggup. Tiba-tiba saya ingat Intan Nur Janah, lulusan SMK 1 Wonosobo yang jago bikin animasi. Dan dia pernah bikin film.

Pucuk dicinta, ulam pun tiba. Intan menyanggupi untuk bekerjasama membuat sebuah film dokumenter non komersial bertema pasar. Dia akan mengajak Dhika dan juga Mas Anto (Jogja). Mereka yang kemudian bergabung dalam satu produksi film yaitu SAKSI Production. Intan menyusun storyboard bersama kami. Mas Anto yang melakukan pengambilan gambar, dbantu oleh Dhika. Kurang lebih 3 hari pengambilan gambar, dan editing juga selama 4 hari yang dilakukan di rumah kami.

kru-nya umur 17an semua :P
kru-nya umur 17an semua 😛

Lalu, kami berpikir. Film ini harus ditonton banyak orang. 

Kami adakan nonton film SEPI bareng di halaman Arpusda Wonosobo, kami juga adakan diskusi tentang pemecahan masalah dan sumbangsih ide-ide kreatif dari anak-anak  muda di Wonosobo. Dalam #EduTalk5 bersama MbakYu Blogger.
Kemudian, tanpa kami sadari, film ini mengubah banyak hal. Banyak ide yang bermunculan, seperti dari komunitas BeatBox dan Hip Hop , sang ketua, mas Arma Deni ingin membuat Asribition (acara seni dan galeri internasional) di pasar, lalu ada dari Wonosobo Mengajar, mas Labib ingin membuat donasi dengan membeli barang-barang di pasar, Mbak Inung yang menceritakan betapa solidnya tetangga sebelah  (Semarang dan Solo) yang bisa kita jadikan contoh, dan banyak ide-ide lain yang bermunculan dari banyak teman-teman dari HMI, Wonosobo Zone, Potret, Lembaga Kita, Chemistry, Bappeda, dan lain-lain.

Suasana nonton film SEPI
Suasana nonton film SEPI
Mas Erwin dengan memberikan pengantar film SEPI
Mas Erwin sedang memberikan pengantar tentang film SEPI

 

Diskusi. Mbak Inung Nie dari MbakYu Blogger
Diskusi. Mbak Inung Nie dari MbakYu Blogger
Diskusi. Mas Arma Deni dari Komunitas Hip Hop
Diskusi. Mas Arma Deni dari Komunitas Hip Hop
Diskusi. Mas Adi dari HMI Unsiq Wonosobo.
Diskusi. Mas Adi dari HMI Unsiq Wonosobo.
sepi - edutalk5
Film SEPI di EduTalk 5 (Wonosobo Ekspres, 15 Juni 2015)

Tanpa dinyana-nyana juga, setelah kami unggah film itu di Youtube, ternyata oleh salah satu gerakan, yaitu Sekolah Pasar yang digawangi oleh mas Ryan Ariyanto yang -akhirnya bisa bertemu dan bertatap muka, ngobrol dan sharing dengan pemuda yang mengorbankan waktunya untuk pasar, ah keren sekali- berhasil mencolek IKAPPI (Ikatan Pedagang Pasar Indonesia) yang akhirnya direncanakan akan melakukan kunjungan ke Wonosobo.

Sekolah Pasar Ryan
Bertemu mas Ryan Ariyanto dan mas Fauzan dari Sekolah Pasar dan Sekolah Tani. Setelah audiensi dengan Pak Karyoto (Kantor Perindustrian dan perdagangan Kab. Wonosobo)

Dan, kami berterimakasih atas semua dukungan semua pihak.

Ah, saya mulai terharu lagi.

Terima kasih.

Oiya, bulan Juli ini akan ada gerakan #BeliDiPasar , cerita menyusul 🙂

Advertisements

11 thoughts on “Dibalik Film SEPI”

  1. Saya barusan nonton filmnya mbak. Yah… saya cuma bisa berdoa semoga para pedagang pasar senantiasa diberikan kesabaran dan semangat oleh Allah SWT.

    Untuk mewujudkan keinginan para pedagang pasar saya rasa cukup sulit. Geliat ekonomi di pasar relokasi jelas berbeda jauh dengan saat masih di pasar. Lokasi relokasi pun saya kira tidak bisa dengan mudah ditentukan sesuka hati karena mesti melalui perijinan dan AMDAL. Hal-hal yang terkait birokrasi di negara kita ini memang ribet, terutama yang menyangkut kondisi darurat. Beban Jawa Tengah sendiri saya kira saat ini sudah cukup berat, mengingat selain Pasar Wonosobo, ada Pasar Klewer dan Pasar Johar yang juga turut terbakar. Ah, mungkin mbak Wening dan suami sudah observasi ke Solo dan Semarang perihal bagaimana relokasi pedagang pasar di sana? Mungkin bisa menjadi masukan bagi pedagang dan pemkot Wonosobo agar geliat ekonomi di pasar relokasi bisa bergairah. Walaupun ya, jangan bayangkan kalau kondisinya akan tetap sama seperti dulu.

    1. Amin.. amin… terimakasih doanya mas Wijna..
      Iya mas, setuju dengan njenengan, meskipun saya dan suami blm observasi ke Solo dan Semarang , tapi alhamdulillah dari gerakan Sekolah Pasar dan IKAPPI (Ikatan Pedagang Pasar Indonesia) sangat memberikan ‘suntikan semangat’ bagi kami disini.
      Kapan ‘mblusuk’ ke Pasar Wonosobo mas 🙂

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s