jurnal, marriage life, mbakyublogger, memory, wonosobo

Tragedi Buka Bersama

Semalam, kami diajak buka bersama dengan sepupu kami yang baru bulan Mei kemarin menikah. Kebetulan, si perempuan adalah sepupu kami, sedangkan suaminya adalah teman lama suami saya. Karena kami juga jarang bertemu, akhirnya kami manfaatkan momen puasa isi untuk menyambung silaturahmi kembali. Dan terpilihlah hari Selasa kemarin, untuk buka bersama.

Jam sudah menunjukkan pukul setengah lima. Tapi suami saya belum pulang. Sedangkan daritadi siang jam 12, sepupu kami sudah whatsapp saja memastikan kami bisa ikut buka bersama mereka. Akhirnya, saya biarkan mereka memilih tempat karena saya dan suami belum bisa memastikan waktu.

“Di Red Cobek ya… pesen apa?”. Begitu isi pesan whatsapp yang dikirimkan ke saya.

“Oke. Ayam/ikan boleh. Minum teh/jeruk panas”, jawabku.

Jalanan mulai ramai. Suami sudah datang menjemput saya. Setelah menunggu suami sholat ashar, kami langsung berangkat. Sampai disana, masih sangat sepi. Ternyata tidak seperti yang kami bayangkan.

Setelah duduk di lantai 2, kami mulai ngobrol, pesanan pun mulai datang. Tidak lama kemudian, sirine berbunyi dan kami berbuka. Saat itu, warung makan mulai ramai. Mungkin karena kelaparan, menghemat tenaga untuk ngobrol. Tapi setelah terdengar sirine tanda berbuka, suasana mulai ramai dan riuh. Hahaha, selamat berbuka.

Setelah menikmati makanan kami, suami mengajak kami sholat. Kebetulan, musholla juga sudah tidak dipakai. Lalu kami bergantian wudhu. Sepupu saya sedang tidak sholat, jadi dia menunggu tas dan kursi hehe.

Ketika akan mulai sholat, tiba-tiba suara musik terdengar sangat keras. Lalu, saya menutup pintu. Jeglek. Begitu pintu tertutup, kami bertiga saling berpandangan. Aku menelan ludah. Apa yang terjadi saudara….

Gagang pintu di dalam tidak ada!

Seketika kami terdiam. Saya mulai panik karena tidak membawa handphone. Masak mau teriak-teriak kayak di filem-filem. Zonk. Lalu, dengan santai, suami saya dan suami sepupu saya menyarankan untuk sholat dulu, sambil  nanti pasti ada orang yang sholat lagi dan membuka pintu dari luar. Baiklah..

Dan, setelah salam mengakhiri sholat kami, belum ada yang membuka pintu. Haha.

Kami menelusuri ruangan, menggunakan segala cara untuk berusaha membuka pintu.

Dengan sarung? Gagal.

Dengan mukena? Apalagi.

Sajadah? You wish.

Mereka menoleh ke arah saya, seakan berkata :”Awas ya, kalau gak bisa dibuka”

Lalu, mata saya tertuju pada sisir yang ‘nylempit’ di kaca.

Suami saya langsung ‘oglek-oglek’ pintu itu dengan sisir.

Daan, jeglek….. Akhirnya! Pintu terbuka.

Kami menghela nafas bersama. Yaayyyyyy!!!!

Keluar musholla, mereka tertawa cekikikan. Saya hanya bisa tersenyum simpul. Menyadari kebodohan menutup pintu yang tidak bergagang. Hahahaha.

 

 

Nb. Untuk pengelola RM . Red Cobek, tolong gagang pintunya di musholla diperbaiki yaaa, thanks. 😀

Advertisements

3 thoughts on “Tragedi Buka Bersama”

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s