Tentang Hidup

Siang ini saya masih berselimut diatas kasur springbed merah yang kira-kira hampir 3 tahun suami saya beli di sebuah toko di jalan Sudagaran, Bukan karena malas menyambut udara di Wonosoboso yang sedang dingin-dinginnya. Saya sudah cuci muka dan sikat gigi ketika suami saya bangun tidur dan bersiap-siap mandi untuk melakukan tugas ‘jalan-jalannya’. Sebelum suami saya berangkat,  saya dimasakkan air untuk mandi dan disuruh di rumah saja karena sedang batuk parah. Entah karena pergantian musim atau karena debu tanah beterbangan di ujung jalan, yang katanya ada ladang yang sedang diurug untuk dijadikan perumahan.

Ya. Kami menikah hampir dua tahun lamanya. Meskipun belum dikaruniai anak, tapi kami selalu merasa punya ‘anak’ karena teman-teman kami (saya dan suami)  banyak yang sebagian usianya jauh di bawah kami. Sekedar menginap di rumah, sekedar mentraktir mereka makan (yang ini saya juga heran, kami tidak punya uang banyak, tapi ketika akan mentraktir teman-teman ataupun keluarga kami, kami pasti ada uang di dompet. Ah, Tuhan). Lalu, tidak masalah ketika seseorang asing bertanya nama, kemudian status menikah atau belum, dan yang terakhir adalah sudah punya anak berapa. Sungguh saya tidak mempermasalahkannya. Bukan berarti saya tidak menginginkan anak. Kami sangat menantikannya. Saya terlebih. Tapi tidak apa. Toh, uang, pekerjaan, anak itu juga rejeki.

Lalu ketika internet di rumah mati, yang bisa saya usahakan hanya reset, restart, dan copot pasang kabel power. Saya menunggu email proposal dari seorang aktivis dan budayawan yang meminta bantuan kepada saya untuk memfordwardkan email proposal kepada sponsor untuk mendapatkan payung saat acara ngabuburit menjelang puasa Ramadhan ini. Tiba-tiba, mata saya tertuju pada tab Social, yang berisi update-an blog suami saya. Saya klik.

https://erwinabdillah.wordpress.com/2015/06/15/curhatan-di-awal-pekan/

Di awal-awal paragraf, saya ketawa terpingkal-pingkal. Namun, ketika membacanya lagi, kata demi kata. Tidak terasa air mata saya menetes. Ah, saya mah gitu orangnya. Saya mudah menangis dan mudah terharu. Bahakan ketika saya ‘nginthil’ suami wawancara di pasar penampungan yang semua pedagangnya mengeluh sepi (hingga akhirnya kami buat film berjudul SEPI) saya juga hampir menangis.

Kembali pada postingan curhat suami saya tadi. Saya masih ingat ketika ibu mertua saya menelpon malam-malam, yang kebetulan suami saya baru saja pulang, dan menanyakan keadaan kami. Tapi, sepertinya beliau agak tidak enak bertanya masalah uang kepada saya, dan kemudian beliau menanyakan ini kepada suami saya. Saya hanya mendengar suami saya menjelaskan berapa banyak uang yang dia dapat selama sebulan, lalu selama perminggu, dan seterusnya. Saya hanya geli mendengarnya. Ibu mertua saya mengkhawatirkan kami, ternyata.

Berbicara tentang hidup, saya juga beranggapan hampir sama dengan suami saya. Kami terbiasa hidup sederhana. Bahkan saya dan suami juga tidak gampang tergoda untuk membeli kursi baru, tv baru (tv kami kecil seperti layar monitor komputer PC), dan lainnya. Kami membeli baju jika sudah rusak atau kekecilan. Meskipun kadang kami juga ingin berganti jaket, hehe. Itupun kami biasakan dengan menabung. Saya banyak diajari suami saya tentang berhemat dan menyisihkan uang.

Mungkin ayah, ibu, dan mertua saya tidak yang menyangka kalau kami sering makan enak di luar sana. Entah itu digratisi teman baru kenal, teman akrab, entah itu dapat rejeki dari siapa. Tapi, Tuhan Maha Asyik. Maha Penuh Kejutan.

Honor saya sebagai guru memang tidak seberapa. Gaji suami saya menjadi seorang wartawan memang tidak seberapa. Tapi kami tidak pernah menghitungnya. Jujur, jika berbicara tentang debet kredit, mungkin gaji kami berdua sudah minus dikurangi dengan pengeluaran-pengeluaran. Namun, ajaibnya kami selalu cukup.

Di baris terakhir catatan suami saya, saya merasa ada kerinduan yang sangat pada suami saya terhadap rumah kakek neneknya. Besok puasa, insyaAllah kami pulang ke Parakan. Mencicipi sup kacang merah dan ikan asin pedas. Sabar ya, sayang.

Selomerto, 16 Juni 2015.
Di kasur, berkaoskaki dan berselimut. Sambil batuk-batuk. Disamping ada minyak kayu putih, air hangat dan obat batuk sirup pembuat kantuk. Dan mata memerah setelah membaca postingan suami. 🙂

Advertisements

6 thoughts on “Tentang Hidup

  1. Oya, lapor, tadi pagi aku makan di hotel (lagi), kemarin di Kresna tadi di Surya Asia. siangnya dapat nasi lagi tapi dihibahkan.. hehe sekian dan terimaskasih. Oya satu lagi, ada oleh2 keripik wortel dari ibu2 penggiat UMKM.

  2. Aku nulis, terus aku hapus. Aku nulis lagi, terus aku hapus lagi. Terus aku bingung mau nulis apa mbak, hahaha.

    Yaa… aku doakan agar kalian berdua tetap kuat dan sabar mengarungi bahtera rumah tangga.

    Ya akhirnya doa saja lah. Semoga dihijabahi Allah SWT.

    • aaaaakkk, halo… lama tak berjumpa mas Wijna 😀
      masih mblusuk kemana aja?
      untuk semua doa yang tertulis ataupun tidak, kami amini, hehe.. Amiiinn.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s