Membacamu

Mulai membacamu lagi. Membaca ribuan kata yang pernah kau jejalkan paksa di mataku. Entah paksa, atau aku yang merasa dipaksa. Baru satu bait, hangat di sekitar telingaku, hidungku. Lalu aku berkaca, apakah ini yang disebut perona pipi ? Ah, kamu.

Entah jampi-jampi apa. Mungkin sebelum menulis, kamu akan mandi kembang tujuh rupa, dan bertapa untuk mendapatkan mantera ajaib yang bisa membuat dadaku bergedup. Dag dig dug.

Aku membacamu di temaramnya lampu kamar kita. Saat kamu tersenyum dalam lelap, mungkin sedang mimpi menciumku yang sedang merajuk. Iyakah?

Puisi-puisimu masih terangkai bagai kalung liontin yang dipajang, tanpa rela dikenakan. Aku mulai membacamu lagi. Cinta? Bukan. Adakah diksi yang maknanya lebih dalam dari cinta? Entah.

Saat kita bertemu, sewindu yang lalu. Kembali membacamu. Senyum di matamu masih sama.

Kamu adalah buku, yang tidak pernah habis kubaca.

Karena, membacamu adalah syahdu.

Membacamu adalah haru.

Membaca mu.

 

-o-

Wonosobo, 26 April 2015.
Untuk sang moderator acara #SetahunMbakYuBlogger 🙂
Kami, aku dan MbakYuBlogger bersyukur. Ada kamu.

Advertisements

2 thoughts on “Membacamu

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s