Pergumulan Kopi

Tik tok tik tok..
Mataku awas memandang jam dinding yang tergantung di atas pintu menuju dapur. Sementara mulutku manyun, hah huh hah huh suara yang keluar dadi bibirku, berirama dengan suara ketikan di ponselku.

Jadi berangkat? Aku mengirim sms ke banyak.

Lalu, 1 jam bisa kuhitung dalam kedipan mata.

Sudah 3 jam dan hampir putus asa aku menunggu.

Sementara, tadi ramai komentar di lapakmaya, di ruangan ini masih sepi. Kontras. Air panas yang kuseduh mulai dingin, hujan pula.

Lalu beberapa hitungan menit kemudian, mas Jusuf mengirimiku kabar. Memberikan sedikit rasa byur di dada. Baiklah, mutungku kusimpan.

Dimas datang. Aku tersenyum.kupanaskan air. Dan segera kutawarkan kopi. Dia tersenyum. Dan sejenak, dia terlarut dalam perbincangan entah tentang Wonosobo Hebat, buletin, dan sebagainya. Tanganku masih mencumbu ponsel. Kalau dia manusia, pasti sudah terkintil-kintil denganku.

Mas itok sakit gigi. Baiklah. Semoga dia tidak terbayang kopi yang akan kuseduh nanti.

Lalu, mbak nessa datang. Syukurlah. Dia terlalu banyak rapat dimana mana. Dasar
artis.

Olif sedang dijemput Dimas. Semoga dia tidak mengira diculik. Meski Dimas bertampang sangar, tapi dia humoris, romantis, dan banyak -is is lainnya. Jomblo dan jomblo, kenalan. Tak mengapa bukan?

Mas jusuf pun datanglah. Air kupanaskan lagi, kuseduh dua cangkir kopi. Untuk mas Jusuf, untuk mbak Nessa.

Olif dan Dimas datang, disambut dengan cie cie. Mereka hanya tersipu.

Agus, dimana? Ditunggu teman-teman”, kataku.

Kata “Siap, meluncur” terdengar sangat menggembirakan.

Acara untuk Vanera dan launching buku kita besok, rencana kita adakan di Pendopo Wakil Bupati (bahkan masih ada yang bertanya dimana Pendopo Wakil, hehe) tanggal 15 Februari 2015 pukul 18.00-selesai. Launching , tahlilan, diskusi, ajang tampil para seniman. Sesimpel itu. Mufakat kami.

Agus datang, disodori seruling. Lalu mulailah pergumulan kopi.
Engkoh Liend dan Dimas memangku gitar. Mas Jusuf menimang buku Air Mata Kopi-nya Gol A Gong. Membuka satu demi satu lembar. Para perempuan yaitu aku, mbak Nessa, Olif : backing vokal saat dibutuhkan, padahal tidak. Kami (red : mereka) meracik setiap lembar buku. Alunan gitar dan seruling, suara bass mas Jusuf yang membuat hujan menyingkir. Suasana syahdu, kataku. Sampai, kata pengantar buku itupun beliau puisikan. Kami tertawa.

Mbak Hening sedang memantau kami dari ujung rapat yang lain. Semoga kita berjodoh, di pergumulan kopi lainnya. Harus.

Ibu Maria Bo Niok dan suami datang. Membubuhkan sepuluh puisinya untuk karya antologi kami. Kuseduh lagi si kopi, dua cangkir. Lalu kami asyik bergumul dengan kopi dan obrolan yang semakin menjadi seperti pasar.

Adzan mengganggu, kata seseorang. Kami tersenyum terbahak. Tapi kemudian satu persatu beranjak membasuh hati, dan bersujud.

“Fakih kok tidak datang?” Kata Olif.

Kami beradu pesan singkat.Dia akan datang. Kata Mbak Nessa, “Kita akan menunggunya”. Baiklah. Air kupanaskan lagi.

Mas Erwin datang. Cangkir kopi kukeluarkan. Sementara itu, cangkir kopi mas Jusuf, Ibu Maria Bo Niok dan suami, serta Agus juga sudah kumasukkan.

Brummm… brummmm. Mungkin itu Fakih. Ooo, bukan. Itu Mas Ruskim mengantar pizza. Fakih tersesat. Mbak Nessa menunggunya di depan pintu. Dan, dia datang. Kopi kuseduh lagi.

image

Kopi.
Kami beragam seragam. Kami beragam kepala. Tapi, pergumulan kopi ini membuktikan bahwa kami ada. Meski ada yang jauh disana, tapi hati mereka kutahu ada disini. Apalagi Vanera.

Hei, tidakkah kamu senang disana melihat kami disini?
-0-

Selomerto , 28 Januari 2015
Kumpul Komunitas Sastra Bimalukar Wonosobo, membahas launching buku antologi puisi, peringatan 40hari meninggalnya kawan kami Vanera El Arj aka Ahmad Muazin.

Advertisements

15 thoughts on “Pergumulan Kopi

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s