jurnal, mbakyublogger

Setelah Hujan

Jangankan duduk dengan jarak sejengkal dengan mereka,

Bahkan,
melihat senyumanmu yang dilahirkan orang lain pun, hatiku akan menjadi didih.

Kamu tak tahu bagaimana rasanya,
Menjadi aku.

Dan kamu masih saja bertanya,
“Kenapa awan hitam yang selalu kulihat?”
Aku akan menjawab: “Karena gerimisku tak sanggup menyapu debu abu abu”

Cahaya kilat yang membekukan waktu,
Menemukan sosok dengan senyum culas mengganggu.

Ah, kuharap kamu bisa menemukan alasan untuk tidak disana.
Segera.

Selomerto, 25 Januari 2015. Setelah hujan sepagi siang malam.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s