jurnal, marriage life, mbakyublogger, memory, notetoself, referensi, review, wonosobo

Selamat Jalan, Pak Bi

image

Pak Bi. Begitu kami memanggilnya. Jangan salah, dengan muka sangar alias serem seperti itu, berbanding terbalik dengan sikapnya yang gemar bercanda dan tersenyum.

Pak Bi. Beliau guru sejarah saya ketika bersekolah di SMK.
Tidak pernah memanggil murid dengan sebutan anak-anak, tapi Mas dan Mbak. Katanya, biar kami lebih dewasa, hehe..

Subiyatno nama panjangnya. Saya dan keenam teman saya saat kelas 2 pernah dua minggu tidak diabsen dan tidak dianggap ada padahal masuk kelas, itu karena saya dan temanteman telat masuk kelas karena antri beli eskrim. Setiba di kelas, Pak Bi sudah masuk dan pintu diganjal dengan kursi (*pintu kami tidak bisa dikunci karena rusak) dan kami bertujuh tidak bisa masuk. Akhirnya kami menunggui beliau mengajar di perpus samping kelas. Seselesainya mengajar, kami mengejar beliau dan meminta maaf, namun belum dimaafkan 😦
Lalu setelah peristiwa itu, dua minggu kami tidak pernah diabsen dan tidak pernah dianggap ada di kelas. Kemudian kami beranikan diri untuk sowan ke rumahnya. Lalu kami meminta maaf, berbicara tersendat sendat karena ketakutan. Pak Bi akhirnya bercerita panjang lebar, dan hasil akhirnya kami dimaafkan. Namun beliau berpesan bahwa seaktif-aktifnya berorganisasi atau mengikuti kegiatan diluar sekolah (Osis, Pramuka, dll) harus tetap menghargai guru. “Mbak, Mas… boleh kalian di organisasi itu ampuhh, disegani guru. Tapi, ketika pelajaran, kalian harus sadar kalau kalian juga menjadi murid dan tanggungan saya”, pesan beliau. Kami mengangguk dan tersenyum lega.

Tiga tahun setelah saya lulus, saya mendengar kabar bahwa beliau terkena stroke. Sehingga beberapa waktu sudah tidak bisa mengajar. Namun, tidak disangka, walaupun separuh tubuhnya sudah tidak bisa digerakkan, beliau masih semangat untuk mengajar. Menggunakan tongkat dengan langkah terseret, beliau memasuki kelas kelas (*padahal di sekolah kami tangga naik turun).

Ketika saya diminta mengajar di smk saya, yang pertama kali menyambut saya adalah Pak Bi. Ketika upacara pertama, beliau yang mengajari saya bahwa harus lebih pagi, berbaris di lapangan sebelah selatan, dan lain lain.
Tanpa saya tahu, beliau banyak memberikan motivasi kepada anak kelas XII dengan bercerita bahwa saya dulu alumni smk yang sekarang mengajar di smk. Katanya, beliau bangga kepada saya.
:’)

Belum genap setengah tahun saya mengajar, pagi ini saya dikejutkan dengan berita sedih. Pak Bi, guru kami meninggal dunia pukul 00.10WIB hari ini, Jumat, 2 Januari 2015. Tepat dua hari setelah kita merayakan tahun baru.

Pak Bi, selamat jalan. Semoga diterima amal dan perbuatannya. Terimakasih atas semua pelajaran hidup yang diberikan.

Wonosobo, 2 Januari 2015.

Advertisements

3 thoughts on “Selamat Jalan, Pak Bi”

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s