Pakaian Punya Agama?

pakaian agama

Status facebook suami saya

Siang tadi, kami sedang duduk-duduk santai di kantor suami saya. Ada mas Agus, salah satu wartawan senior dan juga istrinya. Tadinya kami sekedar mampir hanya untuk mengambil barang, namun hujan mengguyur dengan deras dan dengan ‘terpaksa’ kami berada disana agak lama, sambil bercengkrama.

Tibalah, mas Agus berseru “Waah, ada orang Natalan pake baju koko, sarung, dan peci!”. Ternyata setelah ditelusuri, ternyata itu berita artikel dari Vivanews,ย Jemaat Rayakan Natal dengan Sarung, Peci, dan Baju Koko.
Ketika kami melihat fotonya, awalnya memang agak terlihat ganjil. Coba dilihat…

286859_baju-adat-betawi-pada-natal-di-gereja-katolik-santo-servatius-_663_382

sumber : viva.co.id

 

Sebelum kami selesai membaca artikelnya, Mas Agus sudah memulai argumennya. “Lha masalahnya apa?, toh gak masalah kan ya?”. Suami saya juga,”Pakaian kan gak beragama”.

Hanya sajaa… ketika kita secara tidak langsung melihat gambar itu, maka kita tidak akan percaya jika itu acara Natal. Karena, pakaian dan atribut yang mereka kenakan, lebih sering digunakan oleh yang beragama Muslim. Padahal, sudah jelas. Pakaian tidak beragama. Dan itupun digunakan karena sehubungan dengan budaya dan adat Betawi, yaitu dengan sarung, koko, dan kebaya. Asal pakaian koko dan juga kebaya sebenarnya juga dari China. Jadi, tidak bisa diklaim oleh satu agama atau kepentingan tertentu.

Seperti juga ada yang mengharamkan atribut Natal digunakan pada karyawan muslim. Padahal, adakah ajaran Islam yang melarang tersebut? Jujur, saya malah suka dengan hiasan Natal, cemara, dan lainnya. Dan saya Islam.
Dan lebih tepatnya, mungkin itu disebut kapitalisme? Penggunaan atribut Natal bagi karyawan itu digunakan untuk meningkatkan penjualan. Titik.

Lalu sampai pada pandangan bahwa orang Muslim dilarang mengucapkan selamat Natal kepada teman yang memeluk agama Nasrani, jika ada makaย harus mengucap kalimat syahadat lagi? Lalu, dimana toleransi dan dimana Indonesia yang mengakui adanya lebih dari satu agama dan kepercayaan yang diyakini?

Sekedar mengucapkan selamat menurut saya pribadi tidak menjadi masalah. Niatnya untuk mempererat persaudaraan dan juga bertoleransi antar umat beragama. Toh, saya juga sering diucapi Selamat hari Raya Idul Fitri oleh teman yang beragama bukan Islam.

Terlepas dari banyaknya pro dan kontra, sebenarnya semuanya kembali pada niat dan keyakinan kita sendiri.

Saya dan orang lain juga pasti punya pandangan yang berbeda, kan? Yang penting, semuanya damai. ๐Ÿ™‚

Jadi, menurut saya pakaian tidak beragama. Dan menurut saya, benar kata suami saya bahwa jika pakaian itu beragama maka mereka adalah uang.

***

Selamat Natal untuk teman-teman yang merayakan, dan Selamat menyambut Tahun Baru 2015 bagi kita semua,
Semoga apa yang akan kita dapatkan di tahun depan bisa lebih baik lagi dari tahun sebelumnya & lebih banyak memberi hal positif, manfaat dan kebaikan. Amin.

Advertisements

6 thoughts on “Pakaian Punya Agama?

  1. Mungkin karena mayoritas warga negara kita ini terlalu fanatik dengan mengidentik-identikkan sesuatu dengan hal-hal tertentu. Seperti macamnya hal-hal berbau Arab itu erat dengan Islam. Padahal kan ya nggak. Ada injil ditulis pakai huruf Arab dan juga ada umat Nasrani asli Arab yang namanya ya nama Arab. Ya toh mbak?

    • iyaaaa! dan sebenarnya untuk hal yang dianggap prinsip oleh sebagian orang, sebaiknya ya jangan ‘dipaksakan’ ke orang lain, karena tiap orang punya pandangan sendiri kan ya, asal tidak mengganggu kepentingan orang lain si sah-sah saja , iya begitu kan mas Wijna ๐Ÿ™‚

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s