jurnal, marriage life, mbakyublogger, notetoself, temanggung, wonosobo

Children Learn What They Live

“Dimana? Gue mau pinjem buku . Kalo ada ya sukur, kalo gak ada ya udah gue cari yang lain aja.”

“Tugasnya gak usah pake di-print segala dong, pusing tau!”

“Gak pernah bales SMS-ku ngapain sih?”

—————

Berikut penggalan tanya murid kepada gurunya lewat pesan singkat di ponsel. Suatu ketika beberapa teman saya sesama guru di beberapa sekolah bercerita kepada saya tentang pesan ini, ada yang janggal-kah?

Seiring perkembangan teknologi dan perkembangan pendidikan, memang diharapkan orangtua atau guru menjadi sosok “teman” bagi sang anak atau murid. Namun, tanpa disadari, batas antara orangtua/guru dan murid menjadi semakin kabur dan tidak jelas. Mengingat kasus diatas, sedekat apapun hubungan guru dengan murid, harusnya bisa saling membatasi. Guru lebih bisa tegas, dan murid juga tentunya harus bisa lebih menghargai keberadaan guru yang menjadi pendidik baginya. Menjadi orangtua di sekolah mereka. Lalu, jika kasus diatas tadi terjadi di Jawa Tengah yang masih sangat kental menjunjung unggah ungguh, sekalipun berbicara apalagi bertindak, lalu siapa yang bertanggungjawab atas kejadian ini?

Saya teringat puisi fenomenal dari seorang pendidik dan ahli konseling keluarga bernama Dorothy Law Nolte, Ph.D (Amerika Serikat) dengan judul puisi “Children Learn What They Live” (Anak-anak Belajar dari Kehidupannya), yang terjemahan puisinya kira-kira seperti ini:

Jika anak dibesarkan dengan celaan, ia belajar memaki.
Jika anak dibesarkan dengan permusuhan, ia belajar berkelahi.
Jika anak dibesarkan dengan cemoohan, ia belajar rendah diri.
Jika anak dibesarkan dengan hinaan, ia belajar menyesali diri.
Jika anak dibesarkan dengan toleransi, ia belajar menahan diri.
Jika anak dibesarkan dengan dorongan, ia belajar percaya diri.
Jika anak dibesarkan dengan pujian, ia belajar menghargai.
Jika anak dibesarkan dengan sebaik-baiknya perlakuan, ia belajar keadilan.
Jika anak dibesarkan dengan rasa aman, ia belajar menaruh kepercayaan.
Jika anak dibesarkan dengan dukungan, ia belajar menyenangi dirinya.
Jika anak dibesarkan dengan kasih sayang dan persahabatan, ia belajar menemukan cinta dalam kehidupan.

Orangtua sangat berperan penting dalam pengembangan kehidupan sang anak. Karena hasil akhir dari pengajaran adalah bagaimana sang anak menemukan cara untuk berpikir kritis dan kreatif yang berhubungan dengan intelektual. Sementara hasil akhir dari pendidikan adalah perilaku atau akhlak yang baik.

Maka, sebagai orangtua, kita harus banyak belajar lagi untuk menjadi role model yang baik bagi anak-anak kita di setiap aspek kehidupan, agar nantinya sang anak bisa lebih bisa menghargai orang lain, bagaimana belajar menempatkan diri, dan belajar bersikap.

children-learn-what-they-live

Pepatah bijak mengatakan :  

“Jangan mengkhawatirkan bahwa anak-anak tidak mendengarkan nasehat Anda, khawatirkanlah bahwa mereka selalu mengamati dan mencontoh Anda”


Jika kembali ke fenomena tadi diatas, jangan salahkan anak sepenuhnya. Mari kita sebagai orang tua juga memperbaiki kualitas mendidik anak-anak kita agar menjadi generasi yang juga berakhlak baik. Orang tua harus menjadi contoh yang baik dalam kehidupan anak diawali dengan cara mendidik dari lingkungan paling kecil yaitu di rumah, keluarga, lingkungan masyarakat, dibantu di sekolah dengan peran guru yang juga mendidik di sekolah. 

Jadi, sepakat untuk hal ini?

Bagaimana pendapat lain menurut para pendidik (orang tua / guru)?

-0-

#Reminder

Advertisements

9 thoughts on “Children Learn What They Live”

  1. Contoh sms siswa terhadap gurunya tersebut memang kasuistis mbak, bisa jadi tidak semua siswa seperti itu. Sesembrononya siswa saya kira tidak banyak yang sampai bersikap macam begitu. Saya malah curiga, jangan-jangan siswa sampai begitu, karena sikap, tutur kata, dan perilaku gurunya yang memancing kenaifannya sendiri. Maksudnya,
    guru itu sendiri juga tidak bisa menjaga diri alias tak bisa dicontoh siswa. Mungkin perkataannya yang seronok atau sikapnya yang memancing respon negatif. Akibatnya siswa menjadi tidak hormat dan menganggap remeh gurunya. Guru yang tidak bisa membawa diri, overacting, kekanak-kanakan, hanya bisa tebar pesona, ‘tak cerdas’, belum dewasa menghadapi permasalahan kehidupan, tidak memahami karakter siswa, dan lain-lain bisa memanen perilaku negatif siswa. Mudahnya, sesuai pepatah Jawa : Ngundhuh wohing pakarti. Jadi kalau siswanya tak hormat yang pantas saja. Kan ada pepatah, “Guru kencing berdiri murid kencing berlari”. Belum lagi kalau guru tersebut juga otoriter dan ortodoks, tidak bisa memahami perkembangan zaman. Bisa-bisa jadi bahan tertawaan siswa. Karena itu guru harus terus meningkatkan diri agar PD saat mengajar maupun membimbing siswa dalam berbagai aktivitas sekolah. Guru juga harus pandai-pandai membawa diri dalam perkataan maupun perbuatan. Bukankah pelajaran paling berharga adalah keteladanan dari orang tua, guru dan masyarakat?. Cara mendidik yang terbaik adalah dengan contoh kongkrit bukan teori atau sekedar opini. Guru syah-syah saja berakrap ria dengan siswa tapi tetap tahu diri dan jaga jarak. Jadi meksi dekat tetap disegani dan dihormati siswa.
    Lepas dari kesalahan pihak guru, perlu dipahami bersama bahwa pendidikan sejatinya bukan hanya di pundak guru saja. Namun, tanggung jawab orang tua (paling utama) dan masyarakat juga. Jadi munculnya kasus seperti tersebut di atas, bisa jadi karena faktor guru, bawaan dari keluarga siswa, atau pengaruh lingkungan masyarakat yang kurang baik. Untuk menengarai lebih detail, bisa dengan surve ke keluarga dan masyarakat, bila pihak guru tidak ada indikasi seperti saya deskripsikan di bagian awal. Pihak sekolah juga harus responsif, misalnya dengan menugaskan guru BK dan wali kelas untuk melakukan home visit.
    Faktor lainnya juga akibat adanya perkembangan teknologi komunikasi yang canggih. Di antaranya dapat mengaburkan norma-norma, etika atau tata krama pergaulan. Siswa yang lepas kontrol sejak dari rumah dan sekolah, cenderung menjadi orang yang apatis, cuek, pemalas, pemarah, penentang, dan sebagainya. Siswa macam begini adanya hanya mengeluh, suka protes, cari jalan pintas, dan tak ada inisiatif untuk belajar dan berkembang dalam mempersiapkan diri sebagai generasi penerus dan pemegang estafet peradaban. Wah, bakal runyam masa depan kita. Untuk itu, mari kita bergayung sambut, mendidik dan mengajarkan siswa dengan kasih sayang yang tulus agar lahir generasi yang beradab dan cerdas dalam menghadapi berbagai permasalahan hidup. Dengan landasan iman dan taqwa, balutan tata krama, dan penguasaan pengetahuan serta keterampilan hidup yang ‘mumpuni’, mudah-mudahan tumbuh generasi yang siap memimpin masa depan yang lebih baik. Tinggalkan keluh kesah, sumpah serapah, tak percaya diri, dan sikap-sikap tak tahu diri. Karena kesulitan demi kesulitan hidup itu sejatinya adalah proses belajar menuju kedewasaan dan sesungguhnya pelajaran yang hakiki ya kehidupan itu sendiri. Mari kita belajar menjadi guru kehidupan.

    1. Aaakkkk, super sekali bu Eko 🙂 jadi banyak masukan, terimakasih..
      Iyaaa benar sekali bahwa peran orangtua juga sangat penting selain peran guru dan lingkungan.. semoga kita selalu menjadi orang yang mau belajar menjadi guru kehidupan 🙂 Aminnn

  2. hehe… fenomenal ya. beberapa kali saya mendapat email tugas dari siswa. pengantarnya cuma: “ini”
    penting juga ya mengajarkan mereka bagaimana komunikasi yang baik dengan teknologi.

  3. yah, sangat fenomenal mas Jusuf. Pengaruh teknologi yang canggih memang dhasyat, harus diimbangi dengan tata krama berkomunikasi. Tantangan bagi guru masa kini memang berat, tidak hanya mengajarkan ilmu dan keterampilan tapi menanamkan karakter dengan melawan arus negatif IT yang terus menggerus nilai-nilai budi peketi.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s