giveaway, jurnal, lomba blog, marriage life, mbakyublogger, wonosobo

Bunda, Malaikat Tak Bersayap

Pesan yang dikirimkan Bunda kepada saya tepat di hari Ibu
Pesan yang dikirimkan Bunda kepada saya tepat di hari Ibu

Demikian kira-kira pesan singkat yang Bunda -begitu saya memanggil Ibu saya- kirimkan kepada saya di hari Ibu, tepat tanggal 22 Desember tahun 2013 silam. Pesan yang membuat hari saya diawali dengan sesenggukan terharu. Pesan yang saya baca ketika saya bangun tidur, dan sudah ada tangan pria memeluk saya dengan hangat. Tapi, saya sempat merasa bersalah. Harusnya, saya duluan yang mengucapkan selamat Hari Ibu kepada Bunda, bukan malah sebaliknya.

Ya, saya sudah menikah dengan pria yang sangat saya sayangi, yang juga menyayangi saya, ibu saya, juga keluarga saya kira-kira setahun lalu. Dan saat ini kami menempati rumah yang terpisah dari keluarga kami. Meskipun jaraknya tidak jauh, namun tidak pernah mengurangi rasa kangen saya jika sampai lebih dari tiga hari saja tidak mendengar suara Bunda, atau sekedar berkirim SMS.

Saya anak perempuan pertama dari empat bersaudara di keluarga saya, adik saya yang pertama dan kedua laki-laki, dan yang terakhir perempuan tapi masih usia sekolah dasar. Jadi, saat ini ketika saya sudah tidak satu rumah dengan Bunda, saya kadang merasa beliau ‘kehilangan’ teman curhat atau sekedar ‘fashion stylist’ untuk bertanya, “Baju ini cocoknya jilbab yang mana yaa…”, atau “Bagusnya bahan ini dijahit model gimana?”. Kadang, ketika saya pulang kantor dan suami saya belum pulang atau pamit pulang malam, saya sempatkan sesekali untuk datang ke rumah Bunda dan sekedar mengobrol dan makan bersama.

Bunda adalah seorang wanita yang mandiri. Walaupun beliau adalah anak tunggal dari almarhum kakek dan nenek, tapi sejak kecil beliau tidak pernah manja. Beliau tidak bisa mengendarai sepeda motor ataupun mobil, dikarenakan trauma saat belajar naik motor saat muda  dulu, dan jika mau kemana-mana beliau lebih mending naik angkot atau bus daripada tergantung dengan Ayah atau kami, anak-anaknya. Sampai kadang saya harus memaksa Bunda untuk mau saya antarkan ke kantor, namun beliau selalu beralasan “Kasihan kamu, nanti capek…”. Padahal saya tahu, Bunda lebih capek dari siapapun di rumah ini. Beliau mengurus nenek yang sakit, mengurus Ayah dan adik-adik, mengurus rumah dan juga mengurus pekerjaan di kantor. Apapun selalu diberikan kepada kami, anak-anaknya. Apapun itu, entah waktu, entah materi, entah segala sesuatu yang dipunyainya atau yang harus diusahakannya. Saya tahu semua ibu akan melakukan hal itu. Tapi bagi saya, Bunda tetap paling teristimewa.

Suatu ketika, saya butuh fotokopi ijazah SD, SMP, SMA yang dilegalisir untuk melengkapi persyaratan tenaga pendidik. Saat itu, saya tidak bisa keluar sekolah karena jam padat dan sedang mengejar materi untuk persiapan ujian tengah semester. Suami saya sedang bertugas ke Solo, dan saya kebingungan. Akhirnya, saya ngobrol dan curhat kepada Bunda. Padahal, saat itu beliau sedang banyak kerjaan di kantor, namun beliau tetap memaksa saya untuk bisa mengurus dokumen-dokumen tersebut. Awalnya saya menolak, tapi akhirnya dengan berat hati saya menerimanya. Bisa dibayangkan, dari pagi setelah dari kantor, beliau datang ke SD saya, ke SMP saya, dan yang terakhir ke SMA. Kemudian baru mengantarkan ke tempat saya mengajar. Sendirian, tidak diantar siapapun. Mengandalkan angkot dan jalan kaki. Saat Bunda mengetuk pintu di ruang kelas saya mengajar, hampir ingin menangis rasanya. Lebay sih. Tapi, harusnya saya yang meluangkan waktu saya untuk membantu beliau, bukan beliau yang harus seperti ini. Saya hanya membayangkan bagaimana beliau berjalan sendirian, harus menunggu angkot. Bagaimana jika hujan? Bagaimana jika beliau kecapekan? Ahh, itu hanya sepenggal kisah yang tidak ada apa-apanya dibandingkan dengan perjuangan Bunda untuk saya.

Bunda itu romantis. Di masa pernikahan saya yang menginjak satu tahun ini, Bunda masih saja romantis. Tidak ada yang berubah dari perlakuan beliau kepada saya dan kepada kami. Hampir di setiap ulang tahun kami, selalu dirayakannya – walaupun sangat sederhana – dengan makan bersama, dengan pesan singkat yang manis, sampai dengan memberikan hadiah yang sederhana. Tindakan sederhananya pun kadang membuat saya meleleh. Pernah beliau memperhatikan baju saya yang kancingnya lepas, lalu beliau langsung menyuruh saya melepasnya, dan langsung menjahitkan kancing baru. Ketika Bunda pulang dan membawa lauk lebih, beliau selalu menelpon rumah saya dan meminta kami, saya dan suami untuk makan bersama disana.

Seingat saya, beliau tidak pernah marah. Tidak pernah juga menunjukkan rasa kecewanya. Hanya saja kami tahu, ketika Bunda sudah diam, maka kami harus bisa memperbaiki sikap dan langsung meminta maaf, dan Bunda akan langsung memeluk kami. Dan tak habis pikir, dengan waktu jam kerja dua puluh lima jam sehari (padahal sehari hanya dua puluh empat jam, hehe) Bunda hampir tidak pernah sakit. Beliau selalu sehat. Sesekali jika kecapekan, minum madu lalu tidur, keesokan harinya pasti sudah kembali ke sedia kala.

Begitu banyak liku-liku hidup yang pernah beliau lalui. Gelombang pasang surutnya berumah tangga, kenakalan kami anak-anaknya, mengurus pekerjaan di kantor dan juga mengurus pekerjaan di rumah, dan sederetan masalah disepanjang perjalanan beliau. Saat Ayah sakit, saat Nenek juga sakit, saat Kakek meninggal, saat adik saya sekolah jauh, saat saya menikah, beliau selalu yang paling tegar. Namun, Bunda hampir tak pernah mengeluh. Bunda selalu sabar dan berprasangka baik kepada Tuhan. Sampai-sampai, Bunda selalu melupakan semua ‘kesenangannya’ hanya untuk kami.

Beliau mengajarkan kami (saya, khususnya) banyak pengalaman berharga tentang ilmu ikhlas, tulus mencintai, dan juga kemandirian. Saya masih ingat, dulu sewaktu saya belajar naik motor, Ayah saya menentang keras, namun, Bunda membela saya dan dengan diam-diam saya diijinkan belajar naik motor, akhirnya, saya sudah bisa kemana-mana tanpa kendala. Juga tentang ilmu ikhlas, Bunda banyak mengajarkan saya bagaimana belajar mengikhlaskan sesuatu dan mengambil hikmah dari suatu hal. Kembali ke pedomannya, bahwa : Jadikan semua itu sebagai ladang amal untuk bekal di akhirat. Ketiga, tulus mencintai. Saya belajar bagaimana cara mencintai suami, mencintai anak-anak, dan mencintai keluarga.

Saya berani bertaruh, tidak akan pernah berhenti doa yang dipanjatkan seorang ibu untuk keluarga dan anak-anaknya. Dan itu yang membuat saya merasa belum bisa memberikan apapun untuk beliau. Semoga, kami anak-anaknya bisa selalu membuat Bunda bahagia dan bangga. Karena, di waktu ini yang bisa kami lakukan hanya berdoa dan berusaha untuk membuat beliau bahagia, dengan cara kami.

Saat Bunda berulang tahun ke-52 :') semoga panjang umur dan bahagia selalu. Amin...
Saat Bunda berulang tahun ke-52 bulan Januari lalu :’) semoga panjang umur dan bahagia selalu. Amin…

Bunda,

Dirimu adalah malaikat tak bersayap, malaikat tercantik di surga yang dikirimkan Tuhan.

Jika ada diksi yang maknanya melebihi cinta, akan ku ucapkan berkali-kali hingga dirimu bosan.

Bunda,

Hatimu seluas samudera..

Semoga senantiasa sehat, panjang umur dan bahagia…

Dengan cinta,

Dari putrimu yang belum bisa memberikan apa-apa.

Tapi, percayalah… kami akan selalu berusaha membuatmu tersenyum bahagia. Amin…

-0-

Artikel  ini diikutsertakan pada Kontes Unggulan: Hati Ibu Seluas Samudera

Hati-Ibu-Seluas-Samudera-300x295

 

Advertisements

10 thoughts on “Bunda, Malaikat Tak Bersayap”

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s