jurnal, marriage life, mbakyublogger, memory, notetoself, wonosobo

Jadi, Dipanggil Mbak atau Ibu?

Bagi perempuan, kata panggilan akan terkesan seperti sesuatu yang penting. Apalagi kalau yang masih merasa unyu-unyu (hehe) dipanggil Ibu itu rasanya tuaaa banget. Iya apa iyaaa…

Tapi tidak bagi saya. Di usia saya yang menginjak 25 tahun ini, sebenernya masih pantas juga kan dipanggil Mbak? Saya yang sudah menikah hampir setahun ini, meskipun belum jadi ‘ibu seutuhnya’ (if you know what I mean), saya paling tidak sudah memegang gelar Ibu Erwin (*nama suami saya) kan… hehehe

Dulu saat kerja di Bank, paling banyak nasabah manggil saya juga dengan panggilan Mbak, yang memanggil Ibu ,jarang. Namun, setelah saya sekarang ‘latihan’ ngajar di suatu sekolah, mau tidak mau, saya harus menanggalkan panggilan Mbak dong ya.. Jadilah, Ibu Wening 🙂

Padahal, sebelum saya mengajar di sekolah ini, saya lumayan banyak kenal anak-anak kelas XI dan kelas XII, karena kebetulan mereka pernah ada yang Praktek Kerja di lembaga kursus kami, satu komunitas, sering main bareng, seru-seruan bareng. Dan, panggilannya saat itu, masih Mbak Wening.

Pernah suatu ketika, di lingkungan sekolah, saking akrabnya saya dengan anak-anak, mereka masih “kagok” manggil saya Ibu. Jadilah panggilannya : “Mbaaa ehh Bu, eh MbakBu…” Saya ngakak geli. Mereka malah yang salting sendiri. Padahal saya juga gak masalah panggilan Mbak atau Bu, hanya saja, sudah diwanti-wanti juga sih dengan guru senior kalau di lingkungan sekolah “diusahakan” memanggil Ibu. Untuk anak kelas X sih karena kami juga baru ketemu hanya saat ngajar, jadi kedekatan kami memang dibentuk dari guru dan murid, meskipun saya malah lebih nyaman jadi kakak atau teman mereka *pssttt, ada juga yang memanggil Bunda, hehe. Tapi, untuk kelas XI dan XII ada juga yang memanggil Mbak, ada juga yang memanggil Bu.

Dulu saya sempat berpikir, untuk di luar sekolah, saya lebih senang jika masih dipanggil Mbak, bukan berarti panggilan Ibu tidak senang lho ya… tapi lebih kepada rasa “lebih dekat” 🙂 Eh tapi sekarang sih intinya… mau dipanggil apapun gak masalah. Mbak boleh, Ibu boleh, Bunda juga boleh 🙂 Sama saja. Karena ternyata “kedekatan” bukan hanya pada panggilannya, tapi lebih kepada rasa tulus yang “terasa” disiniiiii *nunjuk hati :’)

 

#selfreminder

Advertisements

2 thoughts on “Jadi, Dipanggil Mbak atau Ibu?”

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s