jurnal, marriage life, mbakyublogger, wonosobo

Guru yang Baik dan Hebat …

Guru yang baik dan hebat..bukan guru yang memberikan jawaban atas pertanyaan muridnya, melainkan mengantar sang murid untuk menemukan sendiri jawaban atas pertanyaan-pertanyaan itu… dan percayalah…proses penemuan jawaban itu sungguh luar biasa…meski untuk itu harus menghadapi situasi yang terasa berat dan kadang seolah membawa pada titik batas kemampuan….

(repost status dari dosen idola saya, dan seorang inspirator :  Ibu Ratna Wardani

Advertisements

2 thoughts on “Guru yang Baik dan Hebat …”

  1. Setelah saya baca tulisan mbak Wening ini saya jadi teringat sama seorang temen saya. Dia pas kuliah dulu baru lulus setelah nyaris 12 semester mbak. Klasik sih, dia punya masalah pas ngerjain skripsi.

    Sama dosen pembimbingnya (dosen = guru juga toh?), temen saya itu disuruh berulang kali membahas topik yang sama karena teori yang dia pakai “belum ngena”. Temen kebingungan karena itu dosen nggak ngasih petunjuk yang jelas.

    Saya jadi mikir setelah baca ini tulisan. Mungkin dosen itu memang nggak ngasih petunjuk yang pasti. Mahasiswa sendiri yang harus menemukan jawabannya.

    Menurut saya, cara sang guru menuntun muridnya untuk menemukan jawaban itu seperti menemukan kepingan puzzle dan merangkainya hingga utuh. Mirip seperti bagaimana menyusun petunjuk kejahatan dalam cerita komik Detektif Conan.

    Cuma ya itu. Ada murid yang jeli banget bisa langsung menemukan, menyusun, dan akhirnya menemukan jawabannya sendiri. Ada juga murid yang seperti temen saya itu. Butuh waktu lama hingga akhirnya dia bisa menemukan jawabannya. (Entah gimana caranya itu temen dapat jawabannya).

    Gimana menurut Ibu Guru Wening akan yang seperti ini?

    1. Hahaha… begitulah Mas Wijna, menurut saya pribadi sebenarnya merupakan keberhasilan dan kepuasan sendiri dari seorang guru jika sang murid bisa memecahkan ‘clue’ dari sang guru.
      Tapiiii… (*ada tapinya), mungkin setiap siswa memang punya ‘cara’ dan ‘waktu’ sendiri-sendiri untuk memecahkan ‘clue’ tersebut. Saya juga jadi paham, kenapa dulu pas saya kuliah ada matkul psikologi pendidikan. Ternyata itu cara guru agar bisa menganalisis tiap siswa. Dan harusnya memang metodologi pengajaran tiap siswa tidak bisa disamakan, namun memang belum bisa untuk kelas besar.
      Dan ‘mudengnya’ siswa dipengaruhi oleh dua faktor itu, pengajar/guru dan juga muridnya sendiri. Saya juga masih terus belajar untuk bisa memahami dan menerapkan. karena, teori kadang lebih mudah daripada prakteknya hehe…
      Tapi temennya Mas Wijna kereennn, tidak pantang menyerah. Salut!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s