Catatan Hati Seorang Guru

Baru sekitar 2 minggu ini saya mulai mengajar di suatu SMK di kota saya. Ya. Jadi guru, ceritanya. Sebenarnya kata guru itu agak berat untuk saya sendiri. Guru, digugu lan ditiru. Dan saya belum bisa untuk menyandang predikat seberat itu. Cukup intermezzonya.

Cerita ini bermula dari kebingungan saya ketika waktu istirahat kedua di lab bawah. Mau ke ruang jurusan jauuh, mau ke ruang guru masi malu-malu dan juga tidak ada meja, hehe.. akhirnya kebingungan saya dirasakan oleh salah seorang guru senior yang mengajak saya masuk ke ruang guru untuk sekedar berbincang-bincang dengan guru-guru lain.

Kemudian, di dalam suatu percakapan (4orang ibu-ibu, termasuk saya heehe) , ada seorang Ibu yang mengaku terlalu berat mengajar dalam seminggunya yaitu 29jam. Beliau merasa sebagai guru senior, jika bisa dicarikan jam mengajar seminimal mungkin paling tidak 20-24jam saja seminggu. Suaranya yang hampir hilang karena menderita flu dan batuk yang tak kunjung hilang. “Gimana mau sembuh Mbak, obat apapun udah dicoba. Tapi wong pulangnya saja jam 5 baru sampai rumah. Obat mujarabnya ya istirahat. Tapi, apa bisa?”, jawabnya menggebu ketika saya tanya sudah minum obat apa.

Guru ke-2, baru kemarin sembuh dari kecethit tangannya. Setelah dikerok dan dipijat, akhirnya sembuh dan bisa beraktifitas. Kata tukang pijetnya, karena kecapekan.

Guru ke-3 yang membuat saya agak terkejut. Beliau yang berumur 35 tahun, ketika mengajar di SMK ini sudah mengalami 2 x keguguran. Yang pertama tidak butuh dikiret, yang kedua harus dikiret. Alasan utamanya adalah karena jam mengajar yang panjang, moving class (banyak aktivitas jalan-jalan yg agak berlebihan), stress dan kecapekan.

Dari 20menit percakapan kami, yang bisa dibilang singkat, kembali membuat saya berpikir bahwa setiap pekerjaan adalah mempunyai risikonya sendiri-sendiri, yang jelas sawang sinawang. Selama hal itu tidak merugikan orang lain dan diri sendiri, sepertinya masih layak untuk dipertahankan. Dan beruntungnya, saya pernah mengalami yang “lebih” dari itu.

***
Dalam umur seminggu ‘menjajal’ menjadi guru

Masih merasakan sepet sepet senengnya 🙂

Advertisements

16 thoughts on “Catatan Hati Seorang Guru

  1. Saya kok gumun mbak. Jam mengajar 29 jam dalam seminggu itu terlampau berat? Kalau sekolah di Wonosobo masuk 6 hari dalam 1 minggu kan? Berarti rerata per hari sekitar 5 jam mengajar. Kalau dibandingkan sama orang kantoran kan bisa 8 jam lebih waktu kerjanya?

    Saya juga gumun. Jadi guru pulang jam 5 itu apa sebabnya? Apa jarak rumah-sekolah memang jauh banget atau gimana? Yang kedua, apa memang benar moving class itu rentan bikin keguguran? Apa memang 2 kali keguguran itu tergantung kondisi fisik guru tersebut saja?

    Maaf saya banyak gumunnya. Karena kalau saya “sawang-sinawang”, pekerjaan saya yang “menggila” ini jauh lebih berat daripada tugas mengajar seorang guru. Mungkin saya salah dalam “sawang-sinawang” ini, tapi ya… saya butuh penjelasan supaya gumun saya ini tidak berlebihan mbak.

    • hahaha.. saya juga gumun kok Mas.

      saya malah kemungkinan dapat 33 jam seminggunya tuh, hihihi.. masuknya iya 6 hari, tapi memang sekarang si anak-anak juga dapet pelajaran sampe jam 4.. jadi kemungkinan waktu pulang-di rumah bisa 30-45menitan..

      yang masalah keguguran itu, saya juga anggap itu sebagai kondisi fisik ibu-nya saja, buktinya orang hamil juga sebenarnya harus banyak gerak kok (*referensi dari ibu bidan, hehe)

      nhaahhh, yang mau saya bahas disini adalah “sawang sinawang”nya. setiap orang mungkin menganggap rumput tetangga jauh lebih hijau, tapiiii… ternyata tergantung kondisi setiap orangnya kok. mungkin memang belum pernah mengalami hal yang lebih berat dari itu, jadii… hal yang ringan (bagi kita) ya dianggap berat bagi mereka.
      dulu saat saya kerja di bank malah pulang jam 10-11 malam, ternyata setelah tau “kondisi” disini… hanya senyum-senyum aja dehh… hihihi

  2. wkwwk wah bisa ngalahin catatan hati seorang istri nie mbak wening hehe kereennn adem puooll dah sukses ya mbak wening hehe kalo kecapekan jadi guru boleh loh refresh” ke Jogja hehe pizz

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s