Batik Kembang Keli yang Kian Mewangi

Setelah kami dolan ke Desa Bowongso Kalikajar untuk mengobati rasa penasaran pada Bowongso Coffee ,kami menyempatkan juga untuk berkunjung ke desa Campursari Kertek untuk sehelai batik khas Wonosobo, batik Kembang Keli . Kali ini tidak dengan mewek-mewek karena jalan yang rusak, hehe.. karena jalan yang dilalui adalah jalan Provinsi. Tepat di sebelah utara SD 1 Kertek Wonosobo, Campursari no. 258, ada sebuah rumah mungil yang di depannya dipasang papan nama yang mencolok dengan tulisan “Batik Wonosobo, Kembang Keli”.

Bakal batik dalam proses penjemuran

Bakal batik dalam proses penjemuran. (Dok pribadi)

Sebelumnya saya memang sudah janjian dengan Mbak Yohana Wiera, pemilik Rumah Batik Kembang Keli untuk bisa main ke gerai-nya (karena kalau tidak janjian dulu, Mbak Yohana ini sangat sibuk sering bepergian untuk pameran batiknya). Sesampainya kami disana, Mbak Yohana sedang asyik men-canting batik pesanan pelanggannya. Tampak juga dua orang ibu-ibu, karyawannya yang juga sedang sibuk dengan pekerjaannya masing-masing. Dengan wajah yang ceria dan sambutan yang hangat, kami dipersilahkan masuk untuk melihat ruang kerja karyawannya dan juga melihat ruang kerja beliau.

Dua karyawan sedang asyik men-canting

Dua karyawan sedang asyik men-canting. (Dok pribadi)

Suasana di ruang kerja karyawan

Suasana di ruang kerja karyawan.  (Dok pribadi)

Di ruang tamu, sudah berjejer rapi kain display batik Kembang Keli-nya, namun kebetulan karena kemarin baru ada tamu dari luar kota dan memborong kain batiknya, stok hari itu belum komplit.  Dan juga karena beliau minggu kemarin ikut pameran di Banyuwangi dan Bali, jadinya peralatan display juga masih digunakan untuk kepentingan pameran.  Ruang kerja beliau ada di ruang tengah, yang menurut saya ruang kerja yang cozy dan “desainer banget”, hehe.. Ada nuansa etnik dan modern yang bercampur jadi satu namun tetap manis. Ada komputer, mesin jahit, display gantungan, kaca kuno, dan kain batik ada di setiap sudut sebagai display.

Ruang display Batik Kembang Keli

Ruang display Batik Kembang Keli. (Dok pribadi)

Sambil berbincang, sesekali beliau bercerita tentang awal mula beliau tentang ide “batik Kembang Keli” sebagai ikon atau batik khas Wonosobo. Awalnya, Sarjana Sains (SSi) program studi Biologi Universitas Duta Wacana Yogyakarta ini mengambil Akta IV untuk mengajar di SMA Kristen Wonosobo, namun karena merasa bukan bidangnya, beliau ingin mencoba hal yang sesuai dengan minat dan bakatnya, yaitu desain. Kemudian, dengan tekat bulat, beliau bersekolah lagi dengan mengambil studi keterampilan di Jurusan Desain Fashion LP PAPMI Yogyakarta, dan saat itu beliau memang sudah concern untuk mengambil “desain batik”.

“Tadinya saya hanya bisa menjahit yang lurus-lurus saja, seperti sarung bantal untuk kursi dan tas-tas simpel. Dan Ibu saya juga pernah menawarkan ke tetangga-tetangga. Namun, memang karena saya suka kain blacu, jadilah kain itu saya padukan dengan batik”, ceritanya bersemangat.

Mbak Yohana sedang menunjukkan ketika beliau diliput dan masuk majalah

Mbak Yohana sedang menunjukkan ketika beliau diliput dan masuk majalah. (Dok pribadi)

Berkali-kali beliau mengikuti seminar dan pelatihan-pelatihan membatik. Hingga akhirnya pada tahun 2006, beliau bertekad untuk membuat dan menciptakan batik khas Wonosobo, yang dinamakan batik Kembang Keli. Kembang adalah bunga, dan keli adalah hanyut. Inti dari Kembang Keli adalah, Mbak Yohana ingin membuat batik ini seperti bunga yang terhanyut indah di aliran sungai yang dapat membawa keharuman dan keindahan di setiap aliran yang membawanya. Goresan motif yang ada pada batik Kembang keli milik Mbak Yohana ini terinspirasi dari potensi yang ada di Wonosobo, maka tidak heran, jika kita akan melihat banyak bentuk dari buah carica, daun carica dan juga Purwaceng yang ditonjolkan dalam semua batik buatan putri bungsu dari pasangan almarhum Bapak Sudiyono dan Ibu Rastati ini.

Berbagai motif bati Kembang Keli. Daun Carica dan Purwaceng

Berbagai motif bati Kembang Keli. Daun Carica dan Purwaceng. (Dok pribadi)

Lika-liku yang dijalani pemilik Rumah Batik Kembang Keli ini membuat beliau semakin tangguh dan bersyukur. Dari awal beliau merintis memang banyak tanggapan miring, namun seiring waktu beliau bisa membuktikan bahwa batik yang dibuatnya memang berkualitas, memiliki seni dan budaya yang kental, serta tidak dipungkiri lagi memang sudah siap bersaing dengan batik-batik di luar daerah. Terbukti dengan banyaknya pesanan batik dari luar daerah Wonosobo, dan berkali-kali beliau sempat diliput oleh banyak majalah fashion dan disejajarkan dengan perancang kelas internasional. Berkali-kali pula beliau mengikuti Fashion Show di kota Yogyakarta, Solo, Semarang, Flores, dan juga Bali. Berbagai penghargaan yang beliau raih antaranya adalah The Best Desainer di acara Proklamasi Indonesia Award dan Nasional Culture Show di Semarang bersama Exsis Modelling Bayu Ramli, lalu sebagai Trens News Year Model di Yogyakarta, Jogja Fashion Festival, dan juga pernah mengikuti acara Kampung Lerep bersama perancang kondang dari berbagai kota.

Saya dan batik Mbak Yohana, Batik Kembang Keli

Saya dan batik Mbak Yohana, Batik Kembang Keli. (Dok pribadi)

Mbak Yohana dan para model yang memamerkan batik Kembang Keli saat Fashion Show di Cafe Tujuh Bintang di Yogyakarta

Mbak Yohana dan para model yang memamerkan batik Kembang Keli saat Fashion Show di Cafe Tujuh Bintang di Yogyakarta. Gambar dari sini.

Dari minat dan bakat desain itulah beliau merancang sendiri semua model dan desain batiknya. Namun, khusus untuk proses canting, pewarnaan dan lainnya memang dibantu oleh karyawan yang berjumlah sekitar 5 orang. Mbak Yohana juga mempersilahkan dan sangat senang jika ada yang berminat untuk belajar atau sekedar ingin mencoba membatik. Beliau juga pernah mendampingi banyak anak sekolah dasar yang belajar membatik, bahkan sampai maju di tingkat Provinsi dan menang.

“Kepuasan dan kebanggaan tersendiri, Mbak. Anaknya dari awal belum pernah pegang canting, eh bisa jadi juara. Kalo yang bisa gambar di kertas banyak, namun gak semua bisa pegang canting dan “melukis” di kain”, sambil tertawa puas

Dalam sebulan, Mbak Yohana dibantu karyawannya mengaku bisa membuat hingga 20-25 potong batik yang dibandrol dari harga Rp 95.000 – Rp 250.000 , tergantung bahan dan desainnya. Beliau yang mempunyai cita-cita yaitu Wonosobo mempunyai sebuah area public untuk wisatawan berbelanja oleh-oleh khas Wonosobo dalam satu tempat, memang mendesain sendiri dan selalu memunculkan “khas” Wonosobo, karena dia ingin bisa menjelaskan “keunikan” batiknya kepada pelanggannya.

Batik, aksesoris, topeng dengan desain "Khas Wonosobo"

Batik, aksesoris, topeng dengan desain “Khas Wonosobo”. (Dok pribadi)

“Jadi, misal ada yang bertanya, Batiknya Mbak Yohana yang seperti apa? Saya bisa jawab : Yang ada motif Carica atau Purwacengnya! Khas Wonosobo!” Jawabnya sumringah.

***

BATIK WONOSOBO
RUMAH BATIK KEMBANG KELI
Jl. Parakan 258 kertek, wonosobo
Telp ; 028 6329 216 HP : 081 227 065 08
Email : yohana.kmb@gmail.com | Facebook : Yohana Wiera | Blog : http://kembangkeli.wordpress.com/

 

 

@weningts

 

Advertisements

One thought on “Batik Kembang Keli yang Kian Mewangi

  1. Pingback: Selamat Hari Batik Nasional | Wening Tyas Suminar

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s