Demi Sebungkus Bowongso Coffee, Saya Rela…

Siang tadi, saya dan suami memang sengaja ingin berkunjung (red : dolan) ke usaha pengolahan kopi Arabika yang ada di Bowongso, Kalikajar, Wonosobo. Karena belum pernah kesana, kami berpedoman pada petunjuk lewat SMS yang dikirimkan oleh Pak Yusup (Ketua Kelompok Tani Bina Sejahtera)

“Arah kembaran, lurus terus. Saya desa paling atas”

Begitu kira-kira SMS-nya. Kami berprasangka baik dengan “tidak begitu jauh” dan “jalannya tidak rusak”, tapiiii… hehehe, begitulah cinta, deritanya maniiisss sekali. Sampai di desa Kembaran, kami naiiik terus. Kebetulan kami menggunakan motor, jadi bisa sambil berhenti-berhenti untuk bertanya kepada orang-orang (agar tidak kesasar, hehe). Sampai di suatu desa, tiba-tiba jalan beraspal sudah habis, tinggallah batu-batu yang besar, batu kerikil yang berserakan mirip seperti “kali asat” atau “sungai kering”. Karena agak riskan, kami sempat bertanya kepada bapak-bapak yang sedang merenovasi rumah, ternyata ada juga jalan yang bisa ditempuh lewat desa Bakalan, namun alhasil kami harus memutar balik dan membutuhkan waktu yang lama lagi. Akhirnya, ditunjukkanlah jalan yang “katanya” bisa lewat jalan baru (seperti setapak di pinggiran sawah dan ladang) yang akhirnya bisa menuju Bowongso, soalnya kata sang Bapak, kami bisa “mewek-mewek” (nangis) kalo lewat jalan yang lurus. Ancer-ancernya masjid besar kanan jalan, lalu ikuti jalan setapaknya. Namun, ketika bertanya lagi kepada orang, tetap diarahkan lewat jalan lurus yang “katanya” lagi lebih cepat, mungkin sekitar 20menitan sudah sampai Bowongso, sedangkan kalau lewat desa Bakalan bisa jadi 45menitan. Akhirnya, bingung melanda. Dan akhirnya, kami tetap nekat lewat jalan yang lurus, dengan resiko, bukan lagi lewat jalan, tapi lewat bebatuan. Eh tapi beneran lho, sampai tanah saja tidak terlihat, hanya batu bertebaran. Sempat di tengah jalan kami beberapa kali berhenti, dan beberapa kali pula saya  ‘ngalahi’ untuk berjalan, karena jalannya yang tidak stabil. Bertanya pada orang, juga jawabannya “mencurigakan” alias mereka merasa “kasihan” kepada kami yang harus menempuh jalanan itu. Tapi, nasi sudah menjadi bubur kan, balik pun percuma. Saya cuma takut gimana nanti baliknya kalo memang harus lewat jalan ini. Namun, kami cukup dihibur oleh seorang yang ditemui di jalan dan menyarankan (karena sudah kadung sampai sini), nanti pulangnya lewat Bakalan, meskipun agak jauh. Gakpapa deh, jauhpun asal bukan jalan kayak gini, huhuhu…

Jalan terjal berliku

Jalan terjal berliku

Sepanjang jalan yang seperti "kali asat"

Sepanjang jalan yang seperti “kali asat”. Mau balik nanggung, mau terus pikir-pikir dulu.

Kami berulang kali pula merasa kegirangan saat kami menemukan tanah kecil di sepanjang tepi jalan (meskipun sedikit), yang bisa untuk lewat motor kami, hehe.. Katrok banget pokoknya, kayak musafir di gurun yang menemukan oase, hehe. Terakhir bertanya kepada orang, dia hanya bilang sekitar 1 km. Dan, bagi kami.. itu 1 kilometer terpanjang, terjauh, dan terlamaaa… Tapi akhirnyaaaa… aaaaaakkkk!! Aspalll! Ada jalan aspaaal! Alhamdulillah, setelah menempuh perjalanan kurang lebih  1jam, kami sampai di daerah yang sudah diaspal, dan itu ternyata sudah masuk daerah desa Bowongso. meskipun aspalnya tidak panjang, namun jalan kampungnya sudah batu rata, jadi lebih enak, daripada tadi.

Ketika lewat SD 2 Bowongso, di depannya ada lapangan, mungkin biasa untuk upacara, atau sepak bola. Dan, kalau percaya, lapangan itu diselimuti kabut tebal, kami yang berada di atasnya, merasa berada di atas awan, hehe… Kemudian, saya raih ponsel dan SMS Pak Yusup, kebetulan beliau orang yang cukup ‘terkenal’ di desanya, jadi gampang deh menemukan rumahnya. Karena pak Yusup ada acara dadakan, jadi kami diminta menunggu dan mau dipertemukan dengan Mas Eed, pengurus kelompok Tani juga. Kami juga sempat melihat kebun kopi yang tadi kami lewati sepanjang perjalanan, lalu melihat alat-alat pengolahannya (kebetulan baru saja selesai mengolah, jadi belum ada dokumentasi pengolahan).

Sebagian mesin yang digunakan untuk mengolah Bowongso Coffee

Sebagian mesin yang digunakan untuk mengolah Bowongso Coffee

Mas Eed, adalah salah satu penggerak Kelompok Tani Bina Sejahtera, yang menghasilkan ternak sapi dan tentunya kopi Bowongso ini. Beliau menceritakan bagaimana cara mengolah kopi yang baik, dan perjuangan mereka yang ternyata membuahkan hasil :  Juara I Kategori Uji Cita Rasa Kopi (Arabika) Propinsi Jawa Tengah pada acara Peringatan Hari Perkebunan Nasional ke-56 di Propinsi Jawa Tengah Tahun 2013 , dan Juara III Kategori Kelompok Tani Kopi pada tahun 2012 Tingkat Propinsi Jawa Tengah. Sungguh prestasi yang tidak main-main untuk usaha pengolahan kopi yang (sebenarnya) sudah cukup lama, hanya saja tadinya memang hanya untuk konsumsi pribadi dan pesanan. Di acara Wonosobo Fair 2014 kemarin pun, Bowongso Coffee ini menjadi juara II untuk lomba Packaging antar produk UMKM Wonosobo. Kami juga pernah mencicipinya saat event Wonosobo Fair 2014 ini, karena di stand Bowongso Coffee ini juga disediakan “Coffee Corner”, dimana kita bisa menikmati kopi seduh langsung disana, dan rasanya… Hmmmmm, Nikmaaat! Mantap kopinya! Saya yang biasanya bukan penikmat kopi, mencicipi Bowongso Coffee ini membuat saya merasakan sesuatu yang mungkin dirasakan penikmat kopi lainnya, hehe…

Salah satu penghargaan Bowongso Coffee di tingkat Provinsi

Salah satu penghargaan Bowongso Coffee di tingkat Provinsi, yaitu sebagai Juara I Kategori Uji Cita Rasa Kopi (Arabika) Propinsi Jawa Tengah pada acara Peringatan Hari Perkebunan Nasional ke-56 di Propinsi Jawa Tengah Tahun 2013

 

Mas Eed sedang menjelaskan bagaimana mengolah kopi yang menciptakan citarasa yang enak

Mas Eed sedang menjelaskan bagaimana mengolah kopi yang menciptakan citarasa yang enak

Rahasia dari kopi Bowongso ini kenapa rasanya bisa sangat berbeda dan nikmat, menurut Mas Eed, adalah bagaimana menerapkan SOP dalam prosesnya. Dari proses penanaman, panen/petik kopi, sampai pengolahannya ada standar dan aturan yang memang harus dipatuhi. Karena kopi enak bukan hanya pada penyajiannya, namun lebih pada proses pembuatannya. Ada teknik memilih biji kopi yang berkualitas (yang sudah matang benar), teknik menyangrai hingga didapatkan tingkat kering yang pas, ada teknik waktu yang digunakan dalam jangka waktu petik hingga olah, dan lain-lain. Semua itu dilakukan hanya untuk menemukan dan menciptakan rasa yang mantap dan nikmat. “Di ketinggian kita yang mencapai (-+) 1300 dpl, harusnya sangat bisa mendapatkan citarasa kopi arabika yang “lebih”, semuanya tergantung kita, mau atau tidak”, lanjut Mas Eed. Musim panen kopi di Bowongso ini biasanya di bulan April-Juni, dan di bulan Mei adalah masa puncaknya. Kebetulan kami terlewat, sehingga tahun depan insyaAllah bisa kembali berkunjung dan mengikuti proses dari awalnya.

Sampel kopi arabika

Sampel kopi arabika

Sungguh tidak sia-sia kami melakukan perjalanan yang penuh perjuangan ini, hehe. Bisa mendengarkan cerita tentang kopi dari penggerak tim Kelompok Tani Bina Sejahtera, bahkan kami juga belajar bagaimana semangat dan tak mudah menyerahnya usaha ini dalam hal bertahan hingga berkembang, belajar mengolah kopi, dan bonusnya, dioleh-olehi dua jenis Bowongso Coffee dan sampel “green bean” atau biji hijau kopi yang berasal dari proses pengeringan. Bonusnya juga ada lagi, suasana desa yang sejuk, nyaman, tenang. Hawa dingin yang menyeruak di hidung kami memberikan kesejukan dan ketenangan tersendiri. Penduduk desanya yang sangat ramah dan menyenangkan, membuat kami betah berada disana. Tiap kali berpapasan dengan orang di jalan, pasti disambut dengan senyuman dan ajakan “Mampir Mbak, Mas… “

Berfoto bersama Mas Eed, dan produk Bowongso Coffee

Berfoto bersama Mas Eed, dan produk Bowongso Coffee

Sebenarnya, kami juga tak ingin segera pulang karena masih banyak sekali yang diperbincangkan, namun mengingat ini bulan puasa, menjelang buka puasa, dan hari sudah mulai mendung, kami pun pamit untuk pulang. Tidak lewat jalan yang tadi lhoo… kami lewat arah Bakalan, yang katanya lebih jauh namun lebih enak daripada arah berangkatnya yang sambil mewek-mewek, hehe… Alhamdulillah, jalannya tidak sejauh yang kami bayangkan, memang kadang menemukan jalan yang bergerenjul alias batu-batu, tapi tentu saja tidak se-ekstrem tadi.

Jalan pulang, sudah bisa senyum karena jalan yang dilewati tidak se-ekstream tadi, hehe :)

Jalan pulang, sudah bisa senyum karena jalan yang dilewati tidak se-ekstream tadi, hehe 🙂

Sungguh pengalaman yang tidak terlupakan. Kami rela menempuh jarak jauh, terjal dan berliku hanya untuk mendapatkan sebungkus kopi arabika khas Wonosobo, Bowongso Coffee yang nikmatnya bisa menggantikan rasa capek dan mewek-mewek, hehe…

Berminat mencoba kenikmatan Bowongso Coffee ? Bisa langsung kontak saya, akan saya hubungkan dengan pengurus Kelompok Tani Bina Sejahtera 🙂

Bowongso Coffee , Special Selection Arabica Coffee, Sumbing Mountain-Central Java

Advertisements

28 thoughts on “Demi Sebungkus Bowongso Coffee, Saya Rela…

  1. Pingback: Hadiah Para Pemenang Giveaway Artikel Potensi Wonosobo dalam Rangka #HariJadiWonosobo189 | Majalah online Go lokal

  2. Halo mbak, kebetulan saya suka jalan-jalan ke daerah-daerah untuk mencoba kopi khas daerah tsb. Saya baru dari daerah lumajang, Blitar dan lasem.. Daerah yg punya kopi khas yg ruar biasa manteb. Apakah bisa share ke saya info utk mendapatkan kopi bowongso? Makasih..

  3. saya tertarik untuk ke kebun kopinya kak tapi tidak menemukan jalan untuk menuju kesana, cuma sampai di desa bowongsonya 😦

  4. Assalammu’alaikum mbak,

    Saya tertarik nih beli green beans dari beliau2 itu, mungkin boleh dihubungkan dengan kelompok tani atau mas EED nya ? matur nuwun

    salam hormat dari Jakarta,

    Fahmi

  5. mba wening saya sedang cari green bean bowongso bisa di hub dengan kelompok tani atau koperasinya? (sdh sms tp ga di baca kayaknya)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s