jurnal, memory, temanggung, wonosobo

Bagaimana Rasanya Petik Kopi di Kebun Sendiri?

Hari Sabtu kemarin (21 Juni 2014), saya dan suami pulang ke Parakan, Temanggung. Rumah simbah suami, rumah saya juga kan, hehe.. Jadi, keluarga kakak  kami (Mas Tian dan Mbak Lely) yang berdomisili di Balikpapan pulang ke Temanggung karena menjemput sang putri (kakak, panggilannya) yang sudah lulus SMP, dan berencana mau ikut diboyong ke Balikpapan untuk melanjutkan SMA. Kebetulan karena sekarang sudah pulang, sepertinya Lebaran besok tidak mudik 😥 Jadi, kami sengaja datang untuk bertemu mereka.

Nhah, pas kami sampai di rumah, ternyata Mas dan Mbak sedang ke Temanggung. Jadilah kami bermain dengan para keponakan yang sedang ngumpul. Ada 3 keponakan cowok : Dek Aka, dek Alif dan dek Zota, plus satu keponakan cewek, Aisyah (kakak Asya). Si krucil-krucil cowok asyik main bola dan kejar-kejaran, karena saya sedikit ngantuk, alhasil saya dan Kakak Asya nonton TV di ruang tengah. Di tengah nonton dan mengantuk, saya dikagetkan dengan suami yang mengajak saya ke kebun Simbah. “Petik kopi yuk, Sayang”, ajaknya. Saya senyum sumringah. “Ajak kakak Asya ya…”, pinta saya.

Kebun Simbah tidak ada 5 menit dari rumah, tinggal jalan menyeberang jalan setapak, lewat rumah penduduk (yang ternyata sodara semua, hehe), nyampe deh.. Pertama kami disambut dengan barisan kebun oncang, lalu ada cabai, pare, dan kacang koro. Ternyata pohon kopi yang dimiliki Simbah hanya tinggal 5 pohon. Tapi, ada 1 pohon yang sangat besar. Pohon yang kecil-kecilpun buah kopinya sangat banyak.

Kopi Arabica, jenisnya. Kopi jenis ini menjadi pilihan untuk ditanam karena tumbuhan ini membutuhkan tempat tanam yang berhawa dingin (cocok dengan Parakan, Temanggung), lalu yang kedua karena harganya bernilai tinggi (apalagi sekarang sedang menjamur kafe dengan berbagai menu kopi), dan tanaman kopi inipun tidak akan merusak lingkungan dan karena tumbuh ke atas (bukan ke samping, hehe) tanaman ini sekitarnya bisa dimanfaatkan untuk menanam tanaman lain. Oiya, menurut informasi, kopi Arabica ini juga akan diekspor ke luar negeri, jadi sangat terbuka peluang untuk masyarakat Temanggung untuk menanam kopi.

Hamparan kebun di belakang rumah.
Hamparan kebun kacang, cabai, dan jagung di belakang rumah.
Segarnya cabai hijau
Segarnya cabai hijau
Serumpun oncang
Serumpun oncang
Di bawah teriknya siang
Di bawah teriknya siang
Jembatan tua
Jembatan tua
Kakak Asya membantu memetik kopi
Kakak Asya membantu memetik kopi
Suami 'ndlusup' di bawah pohon kopi yang besar dan rimbun
Suami ‘ndlusup’ di bawah pohon kopi yang besar dan rimbun
Selfie :P
Selfie 😛
Sampai nyeblung sungai kecil
Sampai nyeblung sungai kecil
Hasil petik kopi (baru 5 menit)
Hasil petik kopi (baru 5 menit)
Cantikny bunga kopi
Cantiknya bunga kopi

Ketika cuaca tambah terik, kami memutuskan untuk mengakhiri petik kopi. Sudah sekitar setengah ember lebih terisi. Setelah sampai di rumah, suami berniat memilih-milih yang benar-benar merah dan tua, dengan yang berwarna hijau atau rusak yang tidak sengaja terpetik. Rencananya, pingin kami bawa pulang dan eksperimen bikin kopi sendiri, hehe… Nhah, langsung keponakan cowok mengerubuti karena penasaran. Sambil mereka membantu memilih-milih, Mbah Su (kakek kami) menceritakan bagaimana kopi di kebunnya jaman dulu. Satu pohon kecil kopi bisa menghasilkan 6-8kg kopi arabica. Waaahh, keren sekali!

Sesampai di rumah dikerubuti ponakan-ponakan
Sesampai di rumah dikerubuti ponakan-ponakan
Proses pengayakan
Proses pengayakan
Mbah Su sedang bercerita tentang kopi yang ditanam di kebunnya di masa lalu.
Mbah Su sedang bercerita tentang kopi yang ditanam di kebunnya di masa lalu.

Setelah selesai kami pilih, kami masukkan ke dalam plastik. Saat pulang di rumah, akan langsung kami jemur langsung dibawah terik matahari dalam waktu beberapa hari, nanti setelah jadi, saya akan post lagi, hehe…

***

 

Advertisements

5 thoughts on “Bagaimana Rasanya Petik Kopi di Kebun Sendiri?”

    1. Hehehe, itu di tempat suami Mak, di Parakan..
      Kalo di Wonosobo, bibit buah sama tanaman biasanya di depan Wisma PJKA/ seberangnya RSIA Adina ada Mak.. tapi kalo bibit sayur gitu saya biasanya beli langsung di petaninya di Kertek,hehe..

  1. Wah asiknya petik kopi sendiri. Jadi ingat almarhum simbah yg memproses kopi sendiri dr mulai menjemur, sangar, ndeplok dll, tapi biji kopinya beli dipasar. Senengnya didesa tuh semuanya saudara ya. Kalau saudara dr lain daerah datang, semua setor wajah, sampai2 ada yg ngobrolnya dari jendela karena didalam gak ada kursi lagi hehehee

    1. Iya Mak, ni kita jadi kepingin nyoba nikin ngolah sendiri, semoga jadi, hehe..
      Di desa adem, semuanya itu saudara.. apalagi kalau di tempat tinggal suami, sederetan rumah itu ada budhe, mbak, bulik, dll (*belum bisa apal, hehe)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s