jurnal, marriage life, mbakyublogger, memory, referensi, tips & trik, wening's wedding

Belanja Kain – Wedding Preparation

Saya menikah bulan Oktober tahun lalu, dan salah satu persiapan yang memang harus dipersiapkan jauh-jauh hari adalah “Belanja Kain”. Kami mencari kain sekitar bulan Juli, karena Agustus itu Lebaran, dan dikhawatirkan tukang jahit pada antri, makanya kami memang menyegerakan dan menyempatkan waktu di bulan Juli untuk membeli. Sesuai rekomendasi, kami meluncur ke Yogyakarta. Bukan di Malioboro atau di Beringharjo, melainkan di sepanjang jalan Solo/ Jalan Urip Sumoharjo, sekitar depan Gardena, tepatnya di Toko Tekstil Zaara (Rajiv)  dan Toko kain (saya lupa namanya) kira-kira letaknya 4 toko dari Toko tekstil Zaara. Oiya di toko ini memang menyediakan brokat, tille, sprei hingga gordyn, dengan harga yang paling premium sampai harga termurah. Komplit, plit.

Seingat saya, proses beli kain ini tidak hanya 1 kali, melainkan 3 kali kami bolak-balik kesana. Padahal Wonosobo-Jogja makan waktu dan jarak yang lumayan lhoo..  dan satu lagi! Puasa Ramadhan, boo…

weningts - mencari kain (1)
Hamparan kain yang bikin puyeng
Sedang memilih kain untuk Bunda dan Ibu untuk akad
Bakal calon kebaya Bunda dan Ibu untuk akad
Memilih kain untuk para among tamu
Memilih kain untuk para among tamu
Bunda yang masih semangat
Bunda yang masih semangat

Beruntungnya, pas awal kesana saya dan Bunda sudah menyerahkan sepenuhnya kepada kakak sepupu saya, Mbak Fitri (putrinya Kakak Ayah saya) yang memang paling “bisa diandalkan” hahaha.. Jadi, proses pilih memilih kain bisa lancar jayaa.. Hanya memang pada awalnya, kita harus milih warna yang senada dan juga tentunya ukuran yang dipakai.

Jadi, karena baru bisa ketemu Mbak Fitri di hari berangkat ke Jogja, kami kembali mendiskusikan hal-hal ini di mobil saat perjalanan (rapat kilat, keren banget, haha) :

1. Tema dan Range Warna

Karena Akad diadakan tanggal sehari sebelum resepsi, maka kami harus membuat tema yang berbeda, khususnya warna yang dipakai Bunda dan Ibu. Akad si simpel, karena yang didandani cuma saya, hehe.. sedangkan Bunda dan Ibu hanya menggunakan pakaian yang seragam. Saya saat akad mengenakan kebaya putih, dengan corak emas dan salem. Jadi, untuk Bunda dan Ibu akan kita carikan yang juga simpel dan kalem. Termasuk untuk furing atau dalemannya. Kalo Ayah dan Bapak nanti kan pakai jas, jadi tujuannya cuma buat bikin kembar Bunda dan Ibu, hehe…

Untuk resepsi, sebenarnya, saya memang ingin temanya warna merah maroon. Kebetulan kebaya saya warna merah maroon, tapi kami mengimajinasikan dan memang sengaja membuat warna yang hampir tidak senada, alias agak nabrak, hehe.. Sebenarnya alasan utama karena bahan yang dipilih tidak tersedia panjangnya, tapi jadinya unik juga.

Yang jelas, bikin range warna. Misal pisahkan warna keluarga, among tamu, buku tamu, dll. Trus, kelengkapan juga, misal ada daleman/furing, trus jilbab untuk padu padan. Dan proses padu padan ini waaa… bikin puyeng. Karena, siwer sedikit aja untuk furing, warnanya jadi kelihatan beda lho..

Untuk bahannya saya juga gak paham kok, yang jelas asal warnanya cocok, tersedia sejumlah yang kami minta, langsung bungkus. Nhah disini juga ribet lho, karena harus ukur-ukur dan itung-itung agar sekalian dipotong jadi berapa bagian.

2. Budget

Oiya, harga juga harus benar-benar masuk ke perhitungan. Kalo kami memang membedakan antara bahan yang dipakai Bunda dan Ibu, dengan bahan yang dipakai keluarga ataupun among tamu. Untuk among tamu memang sengaja dipilih dengan harga yang menengah, namun kualitasnya juga standar, karena banyaaak 😀

3. Menentukan siapa saja yang diberi mandat (alias dibagi kain)

Nhah, disini Bunda sudah nge-list dari rumah, tinggal minta persetujuan aja dari kita (saya dan Mbak Fitri). Ajaibnya, muncullah  “rasa tidak enak”. Misal ini dikasih, itu gimana ya. Trus kalo itu dikasih, yang anu gimana ya. Stop! Beruntungnya ada Mbak Fitri, mbak super ini yang paling bisa mantepin Bunda untuk hal-hal kayak gini, hahaha… Alhasil, siapa saja yang dibagi kain, (tentunya cewek semuaa) begini pembagiannya:

  1. Bunda dan Ibu – Warna salem untuk akad, merah maroon untuk resepsi
  2. Keluarga inti (Adik saya dan Kakak perempuan Mas Erwin) – Warna pink muda
  3. Simbah Putri (simbah putri saya, Ibunya Bunda), Mbah Fat (bulik Ayah saya) dan Mbah Mah (simbah putri Mas Erwin, Ibu-nya Ibu) – Warna ungu tua
  4. Budhe – Bulik (dari keluarga saya dan Mas Erwin) *kebetulan Bunda anak tunggal jadi yang kebagian di keluarga saya ya dari keluarga Ayah, hehe..  – yang ini warna ungu,  *namun kebetulan lagi Mbak Leli (mbaknya Mas Erwin) juga membantu balik ke toko buat membeli untuk bahan untuk keluarga dari pihak Mas Erwin yang belum ke-list. Big thanks Mbak :* dapetnya warna pink agak tua dan pink muda
  5. Penerima tamu – Warna biru nyala
  6. Among tamu (terdiri dari tetangga, teman kantor Ayah dan teman kantor Bunda) – Warna salem agak ke oranye

4. Pendistribusian kain

Jangan lupa, minta kresek atau kantong plastik untuk per-kainnya. Ini membantu untuk pendistribusian. Kalau bisa lagi, setiap kantung dan bahan yang sudah disiapkan, ditulis nama atau keterangan, jadi gak bakalan tertukar. Untuk hal ini, kami lakukan “sowan” ke rumah mereka masing-masing. Karena, intinya kan kita yang meminta bantuan, jadi selain menerapkan “patrap unggah ungguh Jawa”, kita juga berusaha untuk meminta secara “personal”. Ada yang saya dan Mas Erwin langsung temui, ada juga yang Ayah dan Bunda, bagi-bagi tugas :))

***

Ini foto Akad nikah, kain Bunda dan Ibu ini bahannya lembuut banget, Enak dipakai. Warnanya juga soft
Ini foto Akad nikah, kain Bunda dan Ibu ini selain warnanya juga soft, bahannya lembuut banget, Enak dipakai.
Pas resep
Pas resepsi, Bunda dan Ibu warnanya senada dengan saya. Merah. Sebenarnya warna kebaya Bunda dan Ibu sama, hanya bunda pakai manset krem dan punya Ibu langsung ditempel furing merah.
Keluarga inti. Yang cewek cuman adek Wyu, dia dibuatkan dress dengan warna pink yang soft.
Keluarga inti. Belum komplit. Yang cewek cuman adek Wyu, dia dibuatkan dress dengan warna pink yang soft. Sedangkan Kaka, adek saya pakai beskap merah, hampir sama dengan Ayah. Adek saya satunya lagi lagi di Jerman 😥 Sedih sih, tapi dia juga lagi berjuang disana :’)
Ini keluarga inti dari Mas Erwin. Kakak-kakak perempuan semuanya juga pakai warna pink muda, dibuat model dress agar lebih nyaman
Ini keluarga inti dari Mas Erwin. Kakak-kakak perempuan semuanya juga dibagi bahan warna pink muda, dibuat model dress agar lebih nyaman. Yang kecil-kecil itu para ponakan. Untuk yang ponakan cewek juga dibagi kain, tapi warna pink-nya lebih soft dari punya kakak-kakak perempuan. Hahaha, jangan pusing 🙂
Keluarga dari Mas Erwin (ada Bulik, Budhe, dan Sepupu)
Keluarga dari Mas Erwin (ada Bulik, Budhe, dan Sepupu). Yang bahannya juga dibelikan Mbak Leli :*
Budhe dan Bulik dari keluarga saya (Adik dan Mbak-nya Ayah)
Budhe dan Bulik dari keluarga saya (Adik dan Mbak-nya Ayah). Diambil warna ungu tua.
Penerima tamu, biruuu nyala semua.
Penerima tamu, biruuu nyala semua. Biar mereka “kelihatan”
Ini pasukan Permadani (komunitas pranatacara pengantin) .Teman komunitas Bunda.
Ini pasukan Permadani (komunitas pranatacara pengantin) .Teman komunitas Bunda.

 

Para among tamu. ibu-ibu yang heboh semua. Ada tetangga dan teman kantor Ayah dan Bunda
Para among tamu. ibu-ibu yang heboh semua. Warna salem oranye muda yang segeer.  Ada tetangga dan teman kantor Ayah dan Bunda
My besties :') Mbak Ayu Wulan Trisnani yang jauh-jauh datang dari Jogja demi akuuu :') dan juga Lisna+cowoknya yang juga datang dari Jogja :')
My besties :’) Mbak Ayu Wulan Trisnani yang jauh-jauh datang dari Jogja demi akuuu :’) , dan juga ada  Lisna+cowoknya yang juga datang dari Jogja :’)

***

Dan dengan dicetaknya foto-foto ini, di resepsi pernikahan khususnya, bisa juga akhirnya terkembang senyum inget-inget tentang belanja kain. Hebatnya, belanja saat puasa, perjalanan jauh, banyak mumet, banyak debat,  tapi… pusingnya, ribetnya bisa terbayar dengan lihat mereka yang dimandati ngrasa seneng dan cantik-cantik dengan balutan gaun/kebaya dari bahan yang kemarin kami pilih.

Diminta belanja kain lagi? Gakpapa kalo cuma nganterin mah, kalo disuruh ngulangin mumetnya lagi? Terimakasiih :)))

***

Referensi tempat :

Zaara (Rajiv) Textile & Gordyn Exclusive

Jl. Urip Sumoharjo No. 33 (Depan Gardena) Yogyakarta

(0274) 523623 , 9158333,

081 7062 8236

Advertisements

5 thoughts on “Belanja Kain – Wedding Preparation”

    1. Seingetku, udah dapet kuranglebih 50an potong bahan gak sampe 1.5, udah diniati sih, jadi sengaja dianggarkan, hehe.. Kalau jahit enggak, kita nyerahin bahan aja, sebagai ucapan terimakasih buat mereka, dan harapannya bisa dipake mereka di acara lain juga 🙂

      1. harus ditentukan sebelumnya tema warna dan dananya… klo tidak memang pusing lihat pilihan kain segitu banyaknya, bagus2 pula. Jika tidak mau pusing2 cari kain dan jahit bisa sewa aja di wedding center yogyakartaatau bikin+kainnya dari wedding center yogyakarta. Jl. patangpuluhan no. 30 b atau jl. kaliurang km 5,8. 😉

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s