Lamaran

Farah duduk  di dekat pintu. Gelisah sesekali melirik jam tangan.

Map plastik bening bertuliskan Staf Pengajar TK Al-Ikhlas di pangkuan. Nampak berantakan isinya. Penggaris, lem, hingga guntingan kertas lipat berwarna berbagai bentuk.

Biiib..biibb..biibb.. Tiga SMS.

     Selamat ya Bu Guru! Setelah 5 tahun pacaran, akhirnya mau dilamar juga!

     Bismillah ya, Nduk. Semoga Arif bisa jadi imam yang baik.

     Sore ini kamu bolos ngajar trus debat sama Pak Karim cuman buat ketemu si Arif pacarmu yang cuek itu? Dasar gila! Gak takut kena pecat? Anyway, gudlak ya 🙂

Farah mengulum senyum. Sempat terbayang muka galak Pak Karim. Tapi bayangan Arif lebih nyata.

Tangannya sibuk menyentuh layar ponsel yang digenggamnya. Sesekali me-refresh notifikasi Facebook. Statusnya tertulis : In a relationship. Namun, sudah 5 tahun ini juga Arif belum meng-approve status itu di halaman Facebooknya. Berbagai alasan seperti tidak sempat, lupa atau status di Facebook itu tidak penting. Dan selama itu pula Farah mengiyakan, tanpa protes.

Hari ini aku akan melamarnya, gadis yang aku cinta. Begitu status Facebook Arif tadi pagi, yang membuat Farah banyak tersenyum hari ini.

Arif yang cuek berubah menjadi romantis 3 bulan ini. Farah merasa senang karena bisa lebih sering menemui Arif. Sampai-sampai ketika Farah pulang mengajar, sering Arif terlihat sudah menunggu di depan kamar kos, walaupun sekedar basa-basi menanyakan kabar, lalu selintas pergi. Tadinya, boro-boro bisa bertemu, Arif seakan punya dunia sendiri, tanpa Farah di dalamnya. Komunikasi lewat SMS pun sangat jarang, namun Farah berusaha menerima alasan Arif yang sibuk bekerja dan kegiatan lainnya.

 “TVRI ! TVRI !”, teriak kernet bis.

“Kiri!”, sahut Farah tergeragap.

Kakinya melangkah setengah berlari, jilbabnya berkibar tertiup angin.

Hari mulai petang. Senja menggantung di ujung barat.

“Sudah lama, Mas ?”, tanya Farah. Terengah-engah.

“Lumayan, Dek. Maaf, mendadak. Soalnya penting”, jawab Arif.

Farah mengangguk dengan mata berbinar.

Pikiran Farah memproyeksikan salah satu scene dalam film romantis. Dalam ekspektasinya, Arif pasti akan memberi bunga, berdiri di depannya, berlutut, memakaikan cincin dan memintanya menjadi istrinya.

“Kamu kenal Rani?”, tanya Arif dengan bergetar.

Agak kaget Farah menjawab, “Rani, teman kosku?, I..i..ya, kenapa?”.

“Aku akan menikahinya. Toh selama ini aku merasa kita sudah tidak cocok. Maaf, aku baru bisa bilang sekarang. Kita tidak bisa bersama. Malam ini keluargaku akan melamarnya, mungkin seminggu lagi kami menikah”.

Semua yang dikatakan Arif membuat dunia Farah seketika berhenti berputar. Matanya berkunang-kunang. Tiba-tiba semua menjadi gelap. Bruugggg!

***

10334248_759228994108867_3047482542478766455_n

 

Flash Fiction ini ditulis untuk mengikuti program #FF2in1 dari www.nulisbuku.com di Facebook dan Twitter @nulisbuku

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s