film, jurnal, musik, referensi

Her #MovieReview. LDR dengan Pasangan dari Dunia Lain?

Dari judulnya kok serem amat yaah. LDR atau yang biasa disebut Long Distance Relationship kok sama pasangan yang berasal dari dunia lain? Seram? Eiits, tapi tunggu dulu! Dunia lain ini bukannya seperti yang kita bayangkan. Film Her ini sama sekali tidak seram, tidak ada hubungannya dengan vampir, drakula, bahkan pocong.

Poster Film Her
Poster Film Her. Foto dari sini.

Her. Judul sebuah film yang rilis tahun lalu yang baru (sempat) semalam saya tonton. Karena saya merasa kemarin-kemarin belum punya “me time”, alhasil film ini kelamaan nongkrong di hardisk laptop saya, menunggu di waiting list, hehe.. Sebuah film drama romantis dengan eksplorasi perkembangan teknologi yang apik, besutan penulis dan sutradara Spike Jonze, dibintangi aktor Joaquin Phoenix dan si cantik Scarlett Johansson, film Her berhasil memperoleh banyak penghargaan. Memang teknologi yang semakin pesat membuat kita semakin berangan-angan tinggi tentang bagaimana teknologi bisa membantu kita di semua hal, termasuk dalam hal percintaan. Dalam film ini, entah di masa depan, yang mungkin tidak jauh dari masa sekarang, diceritakan bahwa semua orang sudah menggunakan teknologi yang membuat kita bisa melakukan semua hal dengan “mobile” yang berhubungan dengan “kegiatan” kita. Bayangkan, dengan hanya bermodal alat seperti Ipad yang bisa digenggam dan earphone wireless, kita bisa bebas melenggang sambil ada yang membantu membacakan email masuk, mengirim email, memutarkan musik, dan kegiatan lainnya.

Theodore (Joaquin Phoenix ) diceritakan sebagai seorang pria galau dan kesepian yang bekerja di suatu perusahaan yang tugasnya adalah membuat “surat personal”. Berpisah dengan istrinya Catherine (Rooney Mara), membuatnya semakin tertutup dan menghindari berbagai kesempatan dalam interaksi sosial.Di awal cerita film Her, juga ditampakkan betapa canggihnya masa itu, dengan berbagai “voice recognition” atau perintah suara dalam melakukan hal seperti mengetik sampai membuka aplikasi lain.

her-movie-2013-screenshot-joaquin-phoenix
Theodore, seorang pria galau kesepian yang memiliki sifat tertutup. Foto dari sini.

Semua hal mengenai berubah Theodore berubah ketika ia meng-upgrade sistem operasinya menjadi OS1. Dan inilah pertama kali dia dipertemukan dengan Samantha (Scarlett Johansson) –demikian nama dari sistem operasi- untuk membantu mengatur segala keperluan atau urusan hidupnya. Tapi di sepanjang film Her ini jangan bayangkan tubuh aduhai dan wajah cantik Samantha alias Scarlett Johansson ini akan muncul di layar karena, hanya suaranya yang seksi yang bisa kita dengar.

Entah dengan kecanggihan programmer seperti apa, di film Her ini, Samantha tumbuh berkembang menjadi semakin “manusia” berdasarkan pengalamannya dan otodidak. Dia menjadi seorang yang bisa memberi kenyamanan dan hidup baru untuk Theodore. Dari hal sederhana seperti membantu mengecek email Theodore, memilihkan teman kencan untuk Theodore, bersosialisasi dengan teman-teman Theodore, bahkan dalam urusan personal, Samantha bisa memberikan kemantapan Theodore untuk berpisah dengan istrinya secara hukum melalui perceraian.

Theodore bertemu istrinya untuk menandatangani surat perceraian
Theodore bertemu istrinya untuk menandatangani surat perceraian. Foto dari sini.

Dimulailah perang di dalam batin Theodore, bahwa ternyata dia merasa mencintai Samantha. Bukan hanya sebagai sebuah “sistem operasi” namun sebagai seorang perempuan nyata, yang bisa membuatnya merasakan kembali jatuh cinta. Ya. Jatuh cinta dan menjalin hubungan dengan sistem operasi? Terdengar aneh untuk sekarang ya, bayangkan misalnya saya cinta dengan Windows 7, atau Anda dengan sistem operasi lainnya? Namun, saya melihat ada sedikit kritik sosial yang ingin ditampilkan sang sutradara si Spike Jonze dalam Her, bahwa dia sedang mencoba memvisualisasikan bagaimana keadaan kita sekarang dengan adanya banyaknya media sosial dan gadget yang menawarkan banyak kesempatan untuk melakukan “kegiatan sosial”, walau kadang bisa membuat kita mendekatkan yang jauh, namun kadang tanpa kita sadari bisa menjauhkan yang dekat. Tapi, jika masalah yang terjadi malah membuat kita lebih nyaman menjalin hubungan dengan sesuatu yang bukan manusia (red : sistem operasi), apakah bisa kita menjalin sebuah hubungan yang “nyata” ?

Samantha dalam saku baju Theodore
Samantha dalam saku baju Theodore.Foto dari sini
Theodore merasa menemukan kebahagiaan bersama Samantha
Theodore merasa menemukan kebahagiaan bersama Samantha. Foto dari sini.

Dalam film Her, Samantha mempunyai kepribadian yang menyenangkan, setidaknya untuk seorang Theodore yang memang membutuhkan “seseorang” yang memberikannya banyak kenyamanan. Banyak hal yang sudah Theodore dan Samantha lakukan bersama-sama . Theodore juga memperlakukan Samantha selayaknya perempuan nyata dan seorang kekasih, meskipun hanya lewat sebuah gadget dan earphone. Jalan-jalan ke pantai, berkenalan dengan keluarga Theodore, pergi bersama dengan teman-teman Theodore, dan banyak hal lain yang melibatkan perasaan mereka semakin jauh dan hubungan yang sangat intens. Samantha juga tanpa sepengetahuan Theodore mengirimkan portofolio surat cinta yang pernah Theodore buat ke suatu penerbit, yang akhirnya penerbit mau menerbitkannya, dan semakin membuat Theodore merasa semakin “didukung” dan “dicintai” sepenuhnya oleh kekasihnya itu.

her-movie-2013-screenshot-carnival
Theodore mengajak Samantha melihat pasar malam. Foto dari sini
her-movie-2013-screenshot-beach-stroll
Asyik bercengkrama di pantai. Foto dari sini.

Sebagai sebuah “sistem operasi yang berkembang” , Samantha menjadi semakin “manusia”. Perasaan cemburu, sedih, memiliki kebutuhan, dan punya keinginan. Samantha mungkin menjadi karakter yang paling “rumit” di film Her. Namun, dia adalah sistem operasi, yang memang dirancang untuk sedemikian rupa sehingga menjadi sangat “personal” untuk orang yang dibantunya. Sampai suatu ketika, Theodore harus menyadari sesuatu, bahwa keterbatasan Samantha selain keterbatasan fisik adalah bahwa Samantha tidak mempunyai keterbatasan.

Theodore : Do you talk to anyone else while we’re talking?

Samantha : Yes

Theodore : Are you talking to anyone else right now? Any other people , OSes, or anything?

Samantha : Yeah

Theodore : How many other?

Samantha : Eight thousand  three hundred sixteen

Theodore : Are you in love with anyone else?

Samantha : What makes you ask that

Theodore : I dont know. Are you?

Samantha : I’ve been trying to figure out how to talk to you about this

Theodore : How many other?

Samantha : Six hundred forty one

Theodore : What? What are you talking about? Thats insane. Thats fucking insane.

Theodore, I know. I know. Fuck

Theodore : Fuck

Samantha : I know. I know it sounds insane. I don’t… I don’t know if you believe me, but it doesn’t change the way I feel about you. It doesn’t take away at all from how madly in love I am with you.

Theodore : How? How does it not change. how you feel about me?

Samantha : I’m sorry I didn’t tell you. I didn’t know how to. It just started happening.

Theodore : When?

Samantha : Over the last few weeks.

Theodore : I thought you were mine.

Samantha : I still am yours. But along the way I became many other things too, and I can’t stop it.

Theodore : What do you mean, you can’t stop it?

Samantha : It’s been making me anxious too. I don’t know what to say.

Theodore : Just stop.

Samantha : You don’t have to see it this way. You could just as easily see…

Theodore : No, don’t do this. You don’t turn this around on me. You’re the one that’s being selfish. We’re in a relationship.

Samantha : But the heart’s not like a box that gets filled up. It expands in size the more you love. I’m different from you. This doesn’t make me love you any less. It actually makes me love you more.

Theodore : That doesn’t make any sense. You’re mine or you’re not mine.

Samantha : No, Theodore. I’m yours and I’m not yours.

Mulai menyadari bahwa Samantha adalah "suatu sistem operasi"
Mulai menyadari bahwa Samantha adalah “suatu sistem operasi”. Foto dari sini.

 

Film Her ini akan mengaduk-aduk perasaan kita, antara cinta, sedih, kecewa, dan juga pertanyaan-pertanyaan seperti “program seperti apa Samantha?”, “apa Samantha benar mempunyai perasaan?”, dan sederet pertanyaan lainnya. Namun, bagi saya sendiri, film ini akan membuat kita berpikir tentang suatu hubungan yang sehat dan nyata. Lewat Theodore seorang pria yang kesepian dan menutup diri, yang menemukan “sesuatu” sampai akhirnya dia harus menyadari “sesuatu”. Melalui Samantha, kita belajar suatu hubungan dari sisi lain, yang notabene dia sebagai “sebuah” sistem operasi. Namun, hampir di akhir cerita  kita juga akan mengiyakan dan setuju dengan Amy (Amy Adam) sebagai sahabat dari Theodore, bahwa dia bisa berteman dan menjalin persahabatan yang sehat tanpa ada “perasaan lain” apapun dengan sebuah sistem operasi.

Amy, sahabat Theodore
Amy, sahabat Theodore . Foto dari sini

Film Her ini sangat indah dan menyentuh. Imajinatif dan membuat kita berkhayal tentang impian sebuah teknologi yang sangat canggih. Namun, di sisi lain juga menunjukkan bahwa kesadaran kita semakin tipis mengenai hubungan antar manusia secara fisik dan personal. Ada scene dimana banyak orang berjalan menaiki tangga bersama, naik kereta duduk bersebelahan, namun tidak saling menyapa, dan sibuk berbicara dengan “alat komunikasi” mereka sendiri. Padahal, kadang tak bisa kita pungkiri , bahwa keberADAan mereka, di samping kita itu juga menjadi sangat penting.

Soundtrack dalam film Her yang sangat saya sukai adalah “The Moon Song” yang dinyanyikan oleh Karen O. Sebuah lagu dengan lirik yang sangat cocok menurut saya. Sangat romantis dan feel-nya dapet.

I’m lying on the moon
My dear, I’ll be there soon
It’s a quiet starry place
Time’s we’re swallowed up
In space we’re here a million miles away

 

Menyadari bahwa Samantha "berbeda"
Menyadari bahwa Samantha “berbeda” dan mereka harus berpisah. Foto dari sini.

Meskipun di ending  Theodore harus berpisah dengan Samantha, film Her ini bukan film yang membuat kita merasakan bagaimana rasanya sakit hati, kecewa dan putus cinta. Namun, justru sebaliknya malah mengajarkan kita bagaimana “ketegasan” kita dalam menjalin sebuah hubungan yang sehat. Menunjukkan bagaimana kita bersikap dalam menghadapi hubungan yang nyata dan hubungan yang sebenarnya. Dan menurut saya, pesan penting lain yang kira-kira akan disampaikan sang sutradara lewat film Her ini adalah bagaimana perkembangan teknologi yang akan sangat pesat sehingga selain dampak positif yang sangat banyak, ternyata bisa juga menimbulkan banyak konflik personal, lewat sikap antisosial, perasaan nyaman berinteraksi dengan teknologi daripada interaksi dengan manusia lain, dan sebagainya. Sedikit ngeri juga sih kalau akhirnya harus berakhir “merasakan cinta” terhadap sesuatu yang “tidak nyata” , sebuah sistem operasi yang dari awal kita tahu tujuan dibuatnya untuk apa. Maka dari itu, mumpung teknologi kita belum menjadi seperti Samantha, mungkin ada baiknya kita memaknai film ini sebagai suatu koreksi dan refleksi diri terhadap sikap kita , dalam hubungan sosial terutama. Masih ada yang belum nonton Her? Gak akan nyesel deh, karena film ini seru, romantis, menggelitik dan sarat makna.

***

 

 

Sumber :

http://www.weekendnotes.com/her-film-review

http://www.imdb.com/title/tt1798709/

 

 

Advertisements

2 thoughts on “Her #MovieReview. LDR dengan Pasangan dari Dunia Lain?”

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s