Ditelepon “Penipu” yang Sama

Ceritanya aneh bin ajaib. Seolah-olah saya malah “menantikan” kebohongan dan aksi penipuan yang akan dilakukan oleh seorang Bapak ini.

Jadi, Ayah saya berjualan suatu produk lewat online, seperti blog dan facebook. Tanggal 27 Mei 2014 sore, beliau  ke rumah saya sambil meminta nomor rekening saya (karena Ayah agak ribet dan rempong mengenai transaksi lewat ATM dan lainnya, hehe) untuk mengurus proses transfer dari pembeli. Beliau mendapat pesanan produk senilai Rp 3.460.000 (Satu juta empat ratus enam puluh ribu rupiah) ditambah Rp 30.000 (Tiga puluh ribu rupiah) untuk ongkos kirim, sehingga total Rp 3.490.000 (Satu juta empat ratus sembilan puluh ribu rupiah). Pembelinya mengaku bernama Bp. Imam Susanto, beralamatkan di Bogor. Setelah beberapa kali menelpon Ayah, dia meyakinkan kalau besok pagi akan mentransfer uang sejumlah tersebut diatas ke rekening saya. Kebetulan saya menggunakan rekening BRI, dia juga mengaku menggunakan rekening BRI. Saya hanya berpesan kepada Ayah untuk jangan mengirim barang jika transferan belum masuk. Dari situ saya belum curiga dan belum berprasangka apa-apa.

penipu

Penipu mengaku bernama Pak Imam dengan alamat di Bogor

Sorenya, tanggal 28 Mei 2014 sekitar pukul 16.00 Ayah menelpon saya, beliau mengabarkan bahwa barusan Pak Imam menelepon karena sudah mentransfer uang ke rekening saya, dan saya diminta untuk mengecek. Kebetulan saya menggunakan SMS Banking, dan ketika saya cek saat itu belum masuk. Saya masih berpikiran positif, mungkin Pak Imam itu telepon Ayah ketika “mau” transfer, jadi paling masih di perjalanan atau antri di ATM. Saya SMS Ayah dan mengabarkan bahwa uang belum masuk dan saya akan mengecek sekitar setengah jaman lagi. Kemudian Ayah telepon saya lagi, bahwa Pak Imam meminta kembali rekening saya untuk dicocokkan, katanya sudah dikirim. Saya mengetik HP untuk mengirimkan nomer rekening saya ke Ayah, namun belum selesai saya mengetik, ada nomor baru masuk, saya angkat ternyata dari orang yang mengaku bernama Pak Imam itu.

Saya : “Assalamualaikum..”

(Orang yang mengaku) Pak Imam : “Waalaikumsalam.., maaf ini dengan Mbak Wening ya?”

Saya : ” Iya benar, maaf ini dengan siapa?”

(Orang yang mengaku) Pak Imam : “Maaf Mbak, saya dikasih nomor telpon dari Bapaknya Mbak, mau mengkonfirmasikan tentang transferan tadi”

Saya : “Oiya Pak, belum masuk”

(Orang yang mengaku) Pak Imam : “Sudah di ATM, Mbak?”

Saya : “Saya ngecek pake SMS Banking Pak, sudah saya cek tadi dan barusan belum masuk”

(Orang yang mengaku) Pak Imam :”Oo, gitu, soalnya saya tadi transfer lewat SMS Banking Mbak, memang belum ada laporannya sih, kayaknya SMS Banking lagi error deh” (nadanya menggebu-gebu)

Saya : “Nggg… (dari situ saya mulai curiga, yang bikin lucu SMS Banking BRI setahu saya maksimal Rp 1.000.000) ,punya saya gak error kok Pak ”

(Orang yang mengaku) Pak Imam : “Wah coba saya kontak call center-nya ya Mbak, maaf mengganggu, wah saya jadi tidak enak, maaf yaa..”

Saya : “Oiya Pak, monggo”

Tidak lama kemudian, sekitar 10 menitan dia kembali menelepon

Saya :”Assalamualaikum, iya gimana Pak?”

(Orang yang mengaku) Pak Imam : “Wah Mbak, tadi saya cek di ATM, uang saya sudah berkurang, saya juga sudah telepon ke call center-nya katanya memang SMS Banking sedang error se-Indonesia. Kata call center-nya kalau ngecek lewat ATM beda karena SMS Banking sedang pending”

Saya : “Nggg.. Iyakah?” (tanya saya ragu-ragu)

(Orang yang mengaku) Pak Imam : “Iya Mbak, soalnya lagi error gitu se-Indonesia, saya mau minta tolong Mbak Wening untuk ngecek di ATM bisa Mbak?”

Saya : (Agak lama menjawab, mengingat-ingat, kayaknya saya agak familiar dengan suara orang ini, tapi belum bisa menebak siapa) “Eeng.. iya bisa, tapi paling nanti soalnya sekarang sedang hujan, saya nunggu agak reda”

(Orang yang mengaku) Pak Imam :”Oiya gakpapa kira-kira jam berapa ya Mbak?”

Saya : “Waah, gak bisa memastikan Pak, soalnya kan lagi deres-deresnya, ya mungkin sebentar lagi”

(Orang yang mengaku) Pak Imam : “Oya, terima kasih Mbak, maaf mengganggu”

Saya : “Oya..”

Deg. Saya ingat suaranya. Ini suara orang yang mengaku bernama Pak Setiyawan. Logatnya saya masih hapal. Yang pernah “nyaris” menipu adik kos saya. Tahun 2010 saya dimintai tolong adik kos saya untuk mengangkat telepon orang ini, yang akhirnya orang ini saya marahi (hahahah) gara-gara mau menggunakan metode “hipnotis” lewat telepon di ATM. Intinya dia menggunakan modus menggiring kami ke ATM, meneleponkan callcenter, lalu yang berpura-pura menjadi callcenter (berkomplot dengan dia tentunya) menyuruh kita mengecek saldo lalu menggunakan pertanyaan -pertanyaan jebakan lainnya sehingga akhirnya nanti dia akan menyuruh kita mentransfer sejumlah uang ke rekening dia. Hahahahaha, saya ingat suaranya! Untung dulu saya menipu dia balik, saya bilang berpura-pura sudah di ATM, tapi akhirnya dia kesel sendiri hehehe….

Saya hanya tersenyum geli, menceritakan kejadian ini kepada suami saya dan ibu saya. Kebetulan ayah saya sedang pijetan, jadi saya hanya titip pesan kepada Ibu untuk menceritakan ini kepada Ayah, hanya saja ketika orang itu menelepon Ayah, langsung saya meminta Ayah untuk menyuruh orang ini menghubungi saya langsung. Saya ingin “dikerjai” lagi, hahaha…

Pukul 17.00, orang itu telepon lagi

(Orang yang mengaku) Pak Imam  :”Halo Mbak, sudah ke ATM? ”

Saya : “Sudah Pak, tapi belum masuk”

(Orang yang mengaku) Pak Imam : “Ini masih di ATM?”

Saya : “Sudah enggak”

(Orang yang mengaku) Pak Imam :”Ini kata callcenter-nya baru saja uangnya diproses, Mbak, bisa dicek lagi?”

Saya : “Wah saya sudah pulang, nanti paling, ini juga sudah mau maghrib”

(Orang yang mengaku) Pak Imam :”Saya minta tolong sekali Mbak, soalnya ini penting, masak saya transfer belum masuk padahal uang saya udah kepotong”

Saya : :Ya nanti ya Pak, setelah Maghrib”

(Orang yang mengaku) Pak Imam : “Ya Mbak, nanti kalo di ATM setelah ngecek, apapun keadaannya, sudah masuk atau belum, dan posisi Mbak jangan pulang dulu masih di ATM, saya di SMS ya Mbak, nanti saya langsung telpon call center biar langsung diproses”

Saya : (nahan ketawa) “Oiya…” (terlihat kan bahasanya ganjil dan aneh, belum tahu ni orang berurusan sama mantan orang Bank, hahahaha)

Gak tahu kenapa kejahilan saya muncul, saya pingin banget ikutan mengerjai orang ini, secara dunia sempit sekali kenapa saya dipertemukan dengan orang ini (lagi), (hehe, dosa yaaa, maaf-maaf jangan ditiru)

Kebetulan, setelah Maghrib saya diajak suami beli mi rebus Jawa, untuk Ayah dan Ibu juga, di dekat Polres Wonosobo. Tapi kebetulan disana tutup, lalu kami balik lagi untuk beli di dekat SMA 2 Wonosobo, dekat arah pulang. Eh, saya lihat ATM, sekalian ambil uang, sekalian saya SMS ke nomor orang tadi, hihi… Namun, ketika niat saya diketahui suami, suami langsung pegang dompet saya yang berisi ATM, dan menyuruh saya menelepon orang ini di luar ATM, takutnya saya kena hipnotis beneran hahaha…

Saya sudah di ATM, uang belum masuk. (Beginilah SMS saya)

Kriiing…. dia menelepon

(Orang yang mengaku) Pak Imam : “Mbak, masih di ATM”

Saya : “Iya..” (nahan ketawa)

(Orang yang mengaku) Pak Imam : “Jadi sebentar ya Mbak, jangan ditutup, saya akan sambungkan langsung dengan call center”

Saya : (gak kuasa menahan ketawa) “Pak, maaf, nomor call center BRI berapa ya?”

(Orang yang mengaku) Pak Imam : “Ya itu yang tertulis di belakang kartu ATM” (terdengar gugup)

Saya ” Iya.. saya tahu, tapi nomor yang bapak hubungi nomor berapa ya?”

(Orang yang mengaku) Pak Imam :(nada mulai marah) “Mbak gimana sih, ya nomor call center semua sama, yang tertulis di belakang kartu”

Saya : “Iya Pak, saya cuma nanya nomor yang dipencet bapak berapa?”

(Orang yang mengaku) Pak Imam :”Ya nomor 021 sekian sekian lah Mbak, saya gak apal!” (ketus)

Saya : (sambil ketawa) “Pak, saya kerja di Bank BRI lho…” (tadinya, wkwkwkwk)

(Orang yang mengaku) Pak Imam :”Eh, lha iya, tapi kan saya ngontak call centernya, Mbaknya gak bisa mroses kan?” (gugup dan marah)

Saya : “Ya belum bisa diproses, Bapak belum ntransfer”

(Orang yang mengaku) Pak Imam :”Ya ini, makanya saya kontakkan dengan call centernya!” (nada marah)

Saya : (nada usil sambil ngakak) “Iyaaa… nomornya yang berapa?”

Langsung mati handphonenya.

Saya dan suami ketawa sejadi-jadinya, ….Langsung SMS Ayah .

Kalau orang itu telepon atau SMS, jangan dibalas. Penipu.

Saya juga masih sempat usil SMS (orang yang mengaku) Pak Imam itu .

Pak, nomor call center BRI 14017. Dan maksimal transfer via SMS Banking hanya 1juta. Semoga Bapak sadar kalau menipu itu dosa, apalagi Bapak punya anak. (Pas telepon tadi terdengar suara anak kecil)

Dan setelah itu ponsel saya tidak berdering dengan nama di phonebook : Penipu.

Nomornya : 085696448901

Dunia memang sempit. Saya dipertemukan lagi dengan orang yang sama. Penipu yang sama. Namun ajaibnya, Tuhan masih melindungi saya dan keluarga saya, Alhamdulillah 🙂

Setiba di rumah, Ayah berkali-kali mengucap Alhamdulillah dan bersyukur karena barang juga belum dikirim. Namun semakin membuat beliau “takut” menggunakan ATM dengan alasan “Mboan ada penipuan lagi, biar urusannya sama kamu aja ya Nduk” , sambil ketawa dan menyendok mi rebus. “Yaaahhh….. (-.-“)

***

Oiya, ternyata penipuan online tidak hanya menghampiri pembeli yang melakukan transaksi di media online, tapi untuk penjual pun harus berwaspada. Berikut tips trik yang sekiranya bisa diperhatikan sebelum melakukan transaksi online lewat transfer ATM:

1. Untuk modus transfer ATM ini, hati-hatilah jangan mudah percaya dengan kata-kata yang digunakan, seakan-akan dekat dan ramah kepada kita sehingga kita tidak sadar jika sedang ditipu

2. Model penipuan ini pun bisa bermacam-macam, salah satunya membeli barang online, atau seperti mendapat hadiah, dan menjadikan kita lupa diri karena terlalu senang, hehe

3. Untuk setiap orang/khususnya orang tua yang memang belum begitu mantep atau melek teknologi, harus selalu didampingi jika di dalam ATM ketika melakukan transaksi yang “agak mencurigakan”, soalnya, jika terlanjur mengikuti instruksi yang “menjebak” kita bisa digiring untuk mengirimkan sejumlah uang pada si penipu, karena pastinya, si penipu juga sudah siap mengambil uang lewat ATM entah dimana.

4. Paling aman jika melakukan transaksi online memang menggunakan metode COD (Cash On Delivery) jadi jika ada barang ada uang, namun jika tidak bisa, harus tetap waspada dan diteliti yaa..

5. Tetaplah menyelidiki calon pembeli atau penjual kita dengan melihat reputasi di internet atau testimoninya.

6. Menjaga diri , berbagi informasi, dan juga tanggap akan penipuan. Jika ragu melakukan transaksi lewat ATM, langsung hubungi petugas keamanan (satpam/petugas bank) di tempat yang dipercaya bisa membantu

7. Selalu berdoa agar selalu dilindungi Tuhan karena kita harus menyadari kejahatan memang bukan hanya pada kesempatan tetapi para penipu memang sudah merencanakan dengan rapi dan sangat terorganisir.

 

Semoga bermanfaat 🙂

Advertisements

50 thoughts on “Ditelepon “Penipu” yang Sama

  1. Alhamdulillah Mbak sekeluarga masih dilindungi dari penipu itu.
    Saya juga dulu pernah mendapatkan telpon bahkan sampai transaksi ke ATM, untungnya mahasiswa saldonya kan cuma 3000, dan saat itu saya dalam kondisi yg sadar sesadarnya jadi ya balik saya kerjain itu penipunya.. hehehe… 🙂

    • hehee, ternyata sudah pernah juga ya Mbak, untung kita masih dilindungi Tuhan 🙂
      modusnya semakin aneh2 ya, harus lebih hati2 dan tanggap 🙂

  2. hehehe, bagus! Saya mau niru juga ah, kayaknya seru. 😀

    Eh, tapi beneran bisa ya hipnotis lewat telepon? Pas berdebat lama di telepon gitu nggak takut tiba2 kena hipnotis dari telepon gitu po mbak? Apa si penelpon dipancing2 biar ga konsen jadi nggak sempat menghipnotis?

    • hihihi, malah mau niru 😛
      sebenarnya si mungkin bukan hipnotis, tapi dibuat bingung dan dminta nunjuk2 tombol dengan arahan “kedua sebelah kiri, atau kanan nomor 3” jadi bukan dibaca maksudnya seprti “cek saldo atau transfer”. tadinya si agak ngeri juga, tapi suami udah pegang dompet dan ATM saya, jadinya emang murni pingin “ngerjain” tu penipu, hehehe

  3. hehe…jd ingat wkt adek sy kpn hr mengalami spt yg mak alami…alhamdulillah Allah msh melindungi adek sy…yg sdh mulai curiga dg ngototnya dia menyuruh adek ke ATM….”terlaluuuu” org2 ini ya mak…

    • Iya ya Mak, memang kita harus tanggap penipuan kayak gini, karena sekali ditransfer udah langsung lenyap deh.. Alhamdulillah masih dilindungi 🙂

  4. Widih.. Triknya bagus juga. Ngikut ah.. 😀

    Jaman sekarang, penipu memang makin cerdik. Nah, kita nggak boleh ketinggalan cerdiknya. Betul? Tapi, dari pola penipuannya, sepertinya mudah ditebak, dan itu-itu aja. Tinggal kitanya saja yang waspada.

    • Iya, polanya si akhirnya kita digiring ke ATM dan diberi petunjuk ngaco biar transfer, tapi harus tetap waspada, karena banyak orang yang dibikin seneng dulu jadinya lupa, hehe 🙂

  5. Dia salah sasaran hahaha… Kalau kasus bapak saya, ada yang ngaku lihat murid bapak saya kecelakaan. Saya yang nyemprot dia. Ngapain jauh-jauh bapak saya ngurusin! Lah tuh murid tinggal di asrama, hubungi ajaasramanya. bapak kok maksa, sih? Setelah itu telepon terputus tut…. tut….. hahaha Paling sedap marahin orang model gini. Ga dosa, kan? 😀

    • hihi, gemes ya Mak.. ngaconya kadang kelewatan. Ada juga yang kasus katanya yang nelpon kepala sekolah trus harus bayar uang untuk ujian, yaaa banyak modelnya, semoga mereka jera ya setelah kita semprot dan kerjain balik, hehehe

  6. Saya beberapa kali ditelpon model begitu mbak, untungnya sih selalu curiga (dasarnya curigaan. Hahaha). Yg kasihan adalah bapak temen saya yg kena sekian juta kena penipuan model ngabarin kecelakaan anak. Masalahnya pas si bapak mau ngecek keberadaan anaknya, anaknya pas gak bisa dihubungi, jd si bapak percaya dan transfer. Sekarang emang harus waspada dan gak boleh panikan, biar gak ketipu. Salam kenal ya ^^

    • Salam kenal Mbak :))
      Waah, bagus tuh, pnya rasa curiga kan boleh demi keselamatan dan keamanan hehehe.. Owalah, dulu saat saya kuliah d luar kota, pembantu saya juga ditelpon katanya saya kecelakaan, udah sampe nangis-nangis gitu, dan mereka (penipu) meminta nomor hape saya, kebetulan saat itu hape saya ada yang miskol banyaak bgt, kayaknya biar gak bisa dihubungi pihak rumah. Untungnya pacar saya (yang sekarang suami, hehe) kan deketan, jadinya ya gagal mereka mau menipu keluarga saya :))

  7. Jadi inget dulu pernah ditelp katanya dapet undian di salah satu bak swasta, untung saya ga punya rekening di bank tersebut, jadi ketahuan banget nipunya… hihihi…
    Sebenernya perlu perlindungan untuk transaksi on line agar dijauhkan dari penipu, tapi gimana ya, wong kadang juga maling lebih pinter dari polisi.. 😀

    • dulu waktu saya masih kerja di Bank juga hampir setiap hari ada orang yang nanya masalah penipuan gitu, tapi beruntungnya mesti apada nanya ke satpam atau petugas bank, selamat deh.. tapi ada lho yang ngeyel saking senengnya dapet hadiah, akhirnya, kena deh 😦
      Iya Mak, perlindungannya harus dari diri sendiri yaa..

  8. Mksh infonya… Sy masih gemes kenapa Emak gak lebih lama lagi ngerjainnya hehe… Suami juga pernah ditelepon penipu. Kalo itu modusnya pura-pura kenal, butuh bantuan. Lama-lama ngobrol suami ngerasa ini bukan temennya, trus suami nanya, “Ujang (misalnya namanya ini), ari ia keur ngobrol jeung saha?” Orangnya malah gelagapan, masih sok kenal, tapi malah dia yang nutup telepon.

    Aneh-aneh aja sekarang… (-_-“)(“-_-)

    • saya pinginnya lebih lama, tapi nahan kemekel pingin ketawanya yang gak nahaaan, akhirnya hahaha…
      waduh, modusnya aneh aneh aja, berarti itu pakai modus SKSD, sok kenal sok dekat hehehe

  9. Keren mak masi inget aja suara si pak tukang tipu..
    Hari gini penipuan model gitu banyak banget, tapi masih aja ada yang ketipu.
    Jadi inget dulu simbah di kampung seneng banget krn dapet “undian” uang sejuta. Kita udah jelasin, simbah tetep kekeuh ga percaya karena saking senengnya.
    😓

    • soalnya masih saja kesel dan gemes sama tipu-tipunya orang ini, hehe.. Iya, ya, dulu juga banyak yang kekeuh karena mungkin cara ngomong si penelepon juga agak meyakinkan, hehe

  10. Saya juga pernah dapat telpon yang mengabarkan dapat hadih dan ditransfer lewat atm. Tp malas buat ngerjain Mak.

  11. Asik ya bisa ngerjain orang haahaha 😆 apalagi penipuu
    Biasanya saya kalo ada beli apa2 dr internet selalu harus ngecek testimonial dll, dan alhamdullilah blm pernah kena penipuan

  12. Wah barusan nomor 085696448901 juga mau menipu saya dan tim2 saya.. untung teman-teman online saya sudah pengalaman, mau coba saya tulis peristiwa ini saya cek di google , eh mbak weningts punya pengalaman yang sama.. 🙂

  13. Terimakasih sharingnya, sayang teman saya kena bohong sama nih penipu kejadiannya 21-08-2014 sore hari, Tata bicaranya sopan mungkin sudah biasa nipu. moga nih orang tobat dan syukur2 mengembalikan uang teman saya. kalau tidak moga seluruh keluarganya yang ikut makan uang haram kena laknat

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s