giveaway, jurnal, lomba blog, marriage life, notetoself

Sejuta Inspirasi dari Segelas Teh dan Kecupan di Pagi Hari

Bagaimana sih rasanya hidup dibayang-bayangi ketakutan akan sesuatu? Ketakutan akan berkurangnya finansial, merasa tidak berguna, tidak berharga, merasa minim keterampilan? Belum lagi sangat iri melihat orang-orang yang sudah rapi di pagi hari untuk berangkat ke kantor, sementara kita hanya mengenakan daster, hanya duduk manis tanpa melakukan apa-apa. Saya pernah mengalaminya. Dan jawabannya? Tersiksa. Sakit sangat. 

Masa-masa itu saya lalui dengan malas beraktivitas, sering marah-marah tidak jelas, kadang juga menangis sendiri. Melakukan kegiatan di rumah pun jadi ogah-ogahan. Tumpukan cucian piring menggunung, tumpukan baju kotor di ember, kulkas kosong, dan rumah berantakan.

Kejadian itu saya alami setelah 2 minggu saya resmi keluar dari pekerjaan saya sebagai Customer Service dan Petugas ATM di suatu bank BUMN. Entah perasaan apa yang menghantui saya, sepertinya dulu saya merasa keputusan yang saya ambil sangat matang dan saya pikirkan dengan tenang. Namun, kenapa rasa menyesal membuat saya menyalahkan diri saya sendiri?

Saat tiga hari pertama, saya merasa ini hanya sindrom sesaat. Sindrom kaget atau apalah penyebutan lainnya. Saya memang seorang workaholic dan saya termasuk orang yang tidak bisa diam. Paling, sehari lagi sudah sembuh. Namun, tidak. Ketakutan saya justru bertambah besar ketika banyak orang yang mulai membicarakan tentang pekerjaan saya yang dahulu atau ketika berpapasan atau mengirim pesan kepada saya, menanyakan kabar, dan akhirnya menanyakan pekerjaan! Apalagi banyak sekali yang memicingkan mata dan menganggap saya mengambil keputusan yang salah. Dan Ooooh… saya kembali merasa dihantui ketakutan dan rasa bersalah.

Saat – saat itu adalah masa tersulit bagi saya, dan kami (suami saya). Dia harus menerima bahwa istrinya menjadi orang yang “berbeda”. Namun, ajaibnya… Setiap pagi saat dia bangun, selalu dia kecup dahi saya. Selalu sudah ada teh manis hangat di meja ruang tengah. Walaupun, akhirnya tak jarang pula saya marah-marah tidak jelas penyebabnya, hebatnya, dia sabar.

Sudah 1 bulan lebih saya berubah menjadi pendiam. Suami saya tidak tinggal diam. Dia aktif mencari informasi dari banyak teman dan ahli untuk menanyakan permasalahan saya ini. Dan, akhirnya, pada suatu kesimpulan bahwa : saya menderita stress yang diakibatkan ketakutan saya sendiri. Dan itu hanya bisa diobati oleh si penderita sendiri dengan banyak dukungan dari orang-orang terdekat.

Menurut dokter, obatnya hanya satu : saya hanya harus melakukan aktivitas yang menyibukkan saya dan selalu berpikir positif. Kelihatannya mudah ya. Namun, sungguh, melakukannya sangat sulit. Dan suami saya adalah orang yang membuat saya yakin bahwa saya bisa. Tidak lupa pula setiap pagi, teh panas dan kecupan di dahi.

Suami saya mengarahkan saya untuk membuat suatu komunitas menulis perempuan. Tadinya saya ragu, karena di kota saya belum begitu akrab dengan hal-hal menulis apalagi internet. Namun, suami saya menunjukkan kegigihannya untuk bisa meyakinkan saya. Disamping kesibukannya mengelola warnet dan job desainnya, dia selalu ada untuk saya. Dia membantu saya membuat sebuah acara launching dengan mendatangkan banyak sponsor, sehingga saya tidak usah bingung masalah pendanaan. Kemudian, dia juga menggerakkan semua keahliannya dalam bidang website dan desain grafis untuk membantu semua urusan per-publishing-an. Mengantar saya ke desa-desa pelosok sekalipun untuk memberikan bukti bahwa komunitas kami juga bergerak di bidang sosial. Bersedia ribet untuk membantu mengurus editing naskah yang dikirim ke penerbit. Bahkan ketika saya sendiri mulai merasa malas dan tidak bersemangat karena sambutan yang kurang menyenangkan dari banyak pihak, dia yang masih terus meyakinkan saya. Daaan, masih banyak lagi hal-hal yang dia lakukan hanya untuk saya.

Masih dengan segelas teh hangat dan kecupan di dahi.

Dan sampai suatu malam, saya melihatnya tertidur di depan ruang tivi. Terlihat lelah setelah mengantar saya bolak balik dari luar kota, lalu menunggui saya siaran di sebuah radio. Saat itu saya menangis. Sesenggukan. Betapa dia mencintai saya dan setiap apa yang dia lakukan, adalah untuk saya agar lebih baik. Saya bertekad, mulai malam itu saya akan berjuang sekuat tenaga demi apa yang dia dukung selama ini. Segelas teh hangat dan kecupan di dahi saya di setiap pagi hari membuat saya semakin bersemangat.

Dan, percayakah sekarang bagaimana nasib saya dan komunitas yang telah saya rintis? Kami menjadi komunitas perempuan menulis yang pertama di kota kami, Wonosobo. Saya sudah menjadi kontributor tetap di Tabloid Taman Plaza Wonosobo dan juga Majalah Online Go Lokal. Kami menjadi brand ambassador untuk sebuah butik di Wonosobo, juga sempat beberapa kali untuk model produk kecantikan. Kami juga menjadi partner Pemerintah Kabupaten Wonosobo dalam hal lomba menulis artikel di blog. Menjadi partner Moboweb, sebuah layanan penyedia jasa pembuatan website untuk kantor pemerintahan di Wonosobo. Aktif dalam kegiatan bakti sosial di desa-desa dan saya juga sebagai pengisi materi di kumpulan PKK ibu-ibu di desa-desa, dan masih banyak hal lainnya yang membanggakan.

Memang saya belum seutuhnya sembuh, ketakutan dan stress itu akan selalu ada. Namun saya selalu yakin saya pernah dan bisa melewatinya. Dengan pertolongan Tuhan dan dukungan cinta dari suami dan semua orang terdekat saya.

Ya. Suami saya adalah inspirator saya. Yang bersedia menemani saya di saat saya jatuh, membantu bangkit hingga akhirnya bisa berdiri tegak seperti sekarang ini.

Semoga Tuhan selalu memberikan kesehatan, panjang umur, dan rejeki yang melimpah untukmu, Sayang.

Masih ada segelas teh hangat dan kecupan di pagi hari, yang membawa sejuta inspirasi, selalu.

 

 

???????????????????????????????

 

 

Ps. Teruntuk Erwin Abdillah. Seorang suami, sahabat, worst enemy, dan tentunya jagoan saya.

 

 

Artikel ini diikutkan dalam

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s