giveaway, jurnal, sastra

Ikhlas : Sesuatu yang Pahit, namun Berbuah Manis

Ada yang pernah dengar pepatah yang bunyinya “Money can’t buy happiness” ? Mungkin ada yang setuju dengan pepatah itu, atau bahkan sebaliknya. Namun, bagi saya pepatah tersebut menjadi tamparan keras di pipi maupun hati saya, karena membuat saya harus memilih dan mengikhlaskan.

Ikhlas adalah kata yang sering sekali kita dengar, kita ucapkan, namun untuk praktek saya sendiri masih merasa nol besar. Dalam buku yang pernah saya baca, salah satu cabang dari ilmu ikhlas adalah merelakan sesuatu tanpa mengharapkan balasan kecuali ridho dari Allah. Apapun bentuknya.

Setelah saya lulus kuliah, saya langsung bekerja di suatu perusahaan pembiayaan kredit yang cukup besar di Indonesia, kebetulan saya ditempatkan di Cabang Yogyakarta. Hampir selama 1 tahun saya bekerja disana, dan hidup ngekos.  Waktu saya ditawari untuk tes pengangkatan pegawai tetap perusahaan tersebut, ada tawaran lain dari vendor outsourcing tempat saya dulu pernah memasukkan lamaran, yaitu runtutan tes untuk bekerja di suatu Bank BUMN yang penempatannya biasanya dikembalikan ke daerah asal. Dari kedua pilihan itu, saya memutuskan melepas tawaran tes pengangkatan pegawai tetap untuk mengambil runtutan tes di Bank BUMN tersebut. Baru ketika saya dinyatakan lulus tes psikotes, wawancara vendor, wawancara user, dan masuk tes terakhir yaitu kesehatan, saya mengajukan permohonan resign dari perusahaan pembiayaan kredit tersebut. Alhamdulillah proses berjalan lancar dan saya bisa ditempatkan di Wonosobo, kota asal saya.

Saya ditempatkan di unit yang kebetulan agak jauh dari rumah saya, dengan mengendarai motor sekitar 35menitan. Namun, saya berpikir tidak apa karena ada kabar bisa juga ada mutasi dan rolling-an untuk lebih dekat dari rumah. Oke, Insya Allah saya mantap.

Pada awalnya, saya masih didampingi oleh senior saya di Bank tersebut, tapi karena petugas senior tersebut mendapatkan promosi jabatan, tinggallah saya seorang diri sebagai Customer Service, padahal pengalaman saya masih 1 bulan belajar dan saya merasa belum bisa apa-apa. Namun,dengan banyak bantuan dan tekad saya yang kuat untuk belajar, Alhamdulillah saya bisa menyesuaikan diri dengan pekerjaan dan ‘ceritanya’ mendapat penghargaan sebagai karyawan terbaik.

Satu tahun berlalu, saya mulai merasakan ‘tidak nyaman’ dalam lingkungan kerja. Tidak tahu yang salah sistem dari pusat, atau malah lingkungan saya bekerja disana. Orang-orang mulai terlihat ‘mengenakan topeng’ dan ‘bermuka dua’ (Astaghfirullah, tapi itu yang benar saya rasakan). Saya benar-benar merasakan tidak nyaman dan tidak betah. Kebetulannya lagi, kepala unit saya dan teman kerja saya lebih ‘mempercayakan’ pekerjaan untuk dikerjakan saya padahal itu bukan tanggungjawab saya. Saya memang tipe orang pekerja keras dan ‘perfect’ dalam bekerja, itu yang membuat saya sering pulang malam untuk lembur pekerjaan. Kalau ada yang berpikir kami para pegawai Bank bisa pulang setelah jam layanan tutup, itu salah besar. Paling awal saya pulang kantor setelah Isya, paling malam pernah sampai pukul 11 malam. Sampai suatu ketika, saya harus lebih sering ‘berbohong’ kepada nasabah. Kenapa saya bilang ‘berbohong’, karena saya harus menyampaikan sesuatu yang tidak benar hanya untuk melindungi perusahaan atau kepentingan tertentu. Dan masalah kesehatan, setiap hari Sabtu Minggu bukannya saya bisa bersantai, tapi saya harus ‘kerokan’ atau ‘pijetan’ karena saat hari Sabtu Minggu saya merasakan masuk angin dan capek yang bertumpuk-tumpuk jadi satu. Lalu satu hal lagi, ada kebiasaan-kebiasaan yang menurut saya kurang pas (apalagi untuk banyak orang yang sudah berkeluarga) yang mungkin bagi lingkungan tempat saya bekerja dianggap rahasia umum dan hal lumrah. Sungguh, bukannya saya merasa sok suci, tapi saya benar-benar tidak nyaman.

weningts - ikhlas 1
Saat saya masih bekerja di bank tempat saya bekerja dulu, wajah capek dan rasa tidak nyaman.

Dari pandangan orang luar, mungkin bekerja di bank itu sangat bahagia. Ada yang beranggapan uangnya / gaji yang diperoleh banyak, lalu lebih kepada prestise seseorang yang bekerja di kantoran. Memang tidak bisa dipungkiri, gaji yang saya dapat saat itu tiap enam bulan sekali ada kenaikan, dan cukup untuk menambahi uang saku untuk adik-adik saya atau sekedar ingin membeli sesuatu, namun ada perasaan ganjil dan janggal di hati saya.

Tepatnya bulan Juni 2013, saya dilamar pacar saya. Dan rencananya di bulan Oktober 2013 kami melangsungkan pernikahan. Ada sedikit perasaan galau yang melanda hati saya mengenai pekerjaan saya. Sebenarnya calon suami saya ini tidak begitu mempermasalahkan pekerjaan saya, kebetulan dia berprofesi sebagai wiraswasta, jadi waktunya fleksibel. Namun di hati kecil saya, ingin sekali menjadi istri yang bisa sewaktu-waktu menemani suami, bisa setiap hari memasak, bisa makan siang bareng, bisa setiap kali berkunjung ke rumah bapak ibu dan mertua saya, dan lainnya yang tidak bisa saya lakukan selagi saya masih berada di pekerjaan saya ini. Saya hanya ingin mempunyai waktu saya untuk keluarga saya.

???????????????????????????????
Suami saya yang selalu ada disampng saya dan mensupport saya :*

Akhirnya, dengan berbagai pertimbangan saya memutuskan untuk keluar dan tidak memperpanjang kontrak per 1 Desember 2013. Saya sempat goyah dan mulai muncul sedikit rasa penyesalan. Ketika saya akan resign, ada wacana bahwa semua frontliner akan dipromosikan, akan diberikan gaji sampai tiga kali lipat, tunjangan , dan lain-lain. Namun, ketika saya kembali merenungi tujuan saya sebelumnya, saya harus ikhlas melepasnya. Harus.

Ikhlas saya tidak langsung berbuah manis.  Banyak tanggapan dan komentar miring yang masuk bersliweran di telinga dan kepala saya. Banyak yang menyayangkan, namun tak sedikit juga yang mendukung keputusan saya. Pernah suatu ketika ada yang mengatakan sesuatu yang tidak benar tentang alasan keluarnya saya dari pekerjaan saya ini, semacam fitnah, bujukan dan lainnya. Namun, saya memantapkan diri untuk mencoba insya Allah ikhlas, menutup kedua telinga saya dan menganggap semua itu adalah ujian. Dan, ajaib.. meskipun  dari segi materi saya tidak seperti dahulu (gaji bulanan, dll), Alhamdulillah saya juga jadi tidak pernah sakit, jerawat juga jadi jarang singgah,hehe (kata Dokter dulu karena stress), lalu saya jadi bisa sering-sering bersilaturahmi ke tempat keluarga, dan benar-benar bisa sepenuhnya menemani suami. Hati saya semakin nyaman, tenang, tentram dan damai. Bahagia sekali rasanya

Tidak lama berselang, dengan doa, support dan dukungan dari suami, saya membentuk sebuah komunitas perempuan. Awalnya komunitas kami memang non profit, namun dengan adanya banyak pelatihan ketrampilan yang juga menghasilkan, kami mendapatkan banyak dukungan. Alhamdulillah, sudah bisa memberi banyak wadah kreasi dan membuka lapangan pekerjaan bagi banyak orang. Saya dan komunitas kami sudah mulai banyak dikenal masyarakat di Wonosobo, mengikuti banyak kegiatan bekerjasama dengan Pemerintah dan komunitas lainnya. Disitulah saya merasa bahwa uang tidak akan pernah bisa membeli segalanya. Tidak bisa membeli rasa nyaman, apalagi bahagia. Kuncinya, hanya satu : Ikhlas.

weningts - ikhlas
Komunitas kami yang sudah mulai dilirik dan dikenal banyak orang 🙂

 

Saya yakin, ikhlas memang tidak mudah. Ikhlas memang sulit. Ikhlas itu sesuatu yang pahit, namun buahnya akan manis.

 

Tulisan ini diikut sertakan dalam GIVE AWAY TENTANG IKHLAS

QuotesCover-pic58

Advertisements

2 thoughts on “Ikhlas : Sesuatu yang Pahit, namun Berbuah Manis”

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s