giveaway, jurnal

[A Place To Remember] Rumah Simbah

Tiba-tiba saya kangen rumah Simbah.

Dulu, sewaktu saya kecil, kami (bapak, ibu, mbah kakung, mbah putri) tinggal bersama-sama dalam satu rumah. Rumah Simbah. Lantainya masih berplester, dindingnya masih semi permanen (kayu dan tembok), atapnya masih seng, jika hujan berisik sekali suaranya. Namun saya begitu ingat warna catnya, warna hijau aneh tapi segar. Ingat bau catnya. Bahkan saya ingat detil perabotan yang ada, seperti rak TV, kursi, korden coklat, rak piring, tangga untuk ruang sholat dan jam dinding antik Simbah yang tiap setengah jam berdentang sekali dan tiap satu jam berdentang sesuai jumlah jam berapa sekarang.

***

wening - place to remember

Saya anak pertama dan cucu pertama dari keluarga Ibu. Menyenangkan sekali. Saat saya kecil, saya hampir setiap hari dimandikan Bapak. Kemudian, diganti baju oleh Ibu, disuapi oleh Ibu. Baru diajak bermain dengan Mbah Kakung dan Mbah Putri. Tak lupa, muka saya penuh bedak bayi yang cemang-cemong, khas anak kecil.

***

wening - place to remember (4)

Hampir setiap tahun saat bertepatan dengan hari lahir, di rumah Simbah, saya dibuatkan tumpeng, dan dirayakan kecil-kecilan dengan keluarga. Saya ingat saya dapat banyak kado dari budhe, simbah, bulik, kakak sepupu, dan masih banyak lagi.

***

wening - place to remember (3)

Bapak dan Mbah Kakung sangat terobsesi dengan saya sebagai anak dan cucu pertama. Bahkan ketika mereka senggang, mereka akan mendekorasi ruang tamu di rumah Simbah seperti layaknya studio foto, meski hanya dengan jarik atau slendang. Lalu saya dirias dan dipakaikan kostum dan ‘dipaksa’ untuk berpose.. Saat itu, jika saya sedang mood saya semangat sekali. Namun, jika sedang capek, saya bisa sampai menangis, hehe.

***

wening - place to remember (1)

Rumah Simbah adalah tempat bermain saya yang pertama, yang paling menyenangkan. Bahkan ketika adek saya lahir, saya tambah bahagia karena bertambah teman. Ketika liburan pun, banyak saudara sepupu dari luar kota seperti Temanggung, Muntilan dan Jakarta menginap di rumah Simbah. Mereka bisa sangat betah bermain karena suasana rumah Simbah yang sejuk dan menyenangkan.

***

Ya. Rumah Simbah. Sepetak rumah kecil sederhana yang jauh dari kata mewah. Namun, satu-satunya tempat yang benar-benar saya rindukan. Tempat terhangat yang benar-benar membekas di hati saya. Tempat pertama saya mendapatkan semua cinta yang saya butuhkan didunia ini. Dari Bapak, Ibu, Mbah Kakung, Mbah Putri, Adek, dan keluarga kami. Memang sekarang rumah Simbah sudah tidak berwujud seperti dulu. Sudah tidak ada lagi Mbah Kakung yang mendongengkan “Driji Lima”, Mbah Putri yang sudah tidak bisa menemani saya bermain bekel. Namun, rumah Simbah ini yang membuat saya yakin dan percaya bahwa cinta keluarga itu kekal abadi. Tak tergantikan.

***

Rumah Simbah. A place to remember. Tempat pertama saya belajar tentang cinta. Yang  kenangannya akan selalu saya bawa, dan akan saya bagikan kepada anak cucu saya, nanti.

***

“A Place to Remember Giveaway”
“A Place to Remember Giveaway”
Advertisements

1 thought on “[A Place To Remember] Rumah Simbah”

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s