jurnal

My Childhood Memory : Makan Gulai Otak di Warung Makan Padang bersama Mbah Kakung

Saya termasuk beruntung, dilahirkan dari rahim seorang anak tunggal (Ibu saya), jadi anak pertama,  bahkan cucu pertama di keluarga Ibu (Kalau dari keluarga Bapak ramai sekali, saya cucu ke-9, hehe). Untuk jadi anak pertama mungkin hal spesial hanya akan dilakukan oleh Bapak dan Ibu saya. Tapi, jadi cucu pertama? Menyenangkan sekali. Apalagi saat saya lahir, usia Mbah Kakung dan Mbah Putri yang masih sehat, masih bugar untuk selalu mengajak saya kemana-mana. Mbah Kakung dan Mbah Putri yang selalu ada disaat Bapak dan Ibu saya bekerja. Bahkan, bisa dibilang saya ini anak Mbah Kakung dan Mbah Putri.

60002
anak dan cucu pertama :’)

Jalan-jalan ke kolam renang tiap hari Minggu, main ke Kebun Binatang, dan banyak hal lain yang kami lakukan bersama. Mbah Kakung dan Mbah Putri sangat sayang kepada saya. Namun, kelahiran adik saya yang pertama, membuat mereka (Mbah Kakung dan Mbah Putri) harus berbagi perhatian. Mbah Kakung lebih cenderung ke saya, dan Mbah Putri lebih cenderung ke adik saya. Sebenarnya hampir sama, tidak dibeda-bedakan dan tidak begitu tampak, tapi saya dan adik saya berusaha memahami hal itu dengan pikiran anak-anak kami.

Meskipun begitu, saya jadi lebih sering menghabiskan waktu dengan Mbah Kakung daripada Mbah Putri. Ketika Mbah Putri di rumah bersama adik saya, saya akan dijemput pulang sekolah oleh Mbah Kakung (berangkat sekolah diantar Bapak dan Ibu). Setiap kenaikan kelas, saya diajak ke pertokoan di kota. Saya diminta memilih satu tas dan satu sepatu plus kaos kakinya di toko langganan Mbah Kakung, nama tokonya Surahono. Pemiliknya teman satu angkatan Mbah Kakung, sehingga menurut Ibu saya, selain Mbah Kakung bisa reunian dengan temannya, bisa juga dapatkan harga miring, hehe.

Setiap kali Mbah Kakung rapat PWRI (pensiunan), saya selalu diajak beliau. Berjalan dari rumah menuju tempat perkumpulannya, yang sebenarnya tidak begitu jauh, namun ketika kami pulang, saya selalu ‘dipaksa’ untuk digendong di punggung Mbah Kakung dengan alasan takut saya lelah.

Dan, hampir setiap hari Minggu saya diajak beliau jalan-jalan ke kota. Makan nasi gulai otak di warung makan Padang Citra Minang. Mungkin sudah sekitar 17 tahunan berlalu, namun saya masih ingat sekali rasa kuah pedasnya, bau sambalnya, dan segarnya daun singkong rebus dan timun potongnya. Saya selalu dipilihkan menu gulai otak, lengkap dengan es teh gelas besar. Kami makan berdua dengan lahap. Kadang tanpa cerita, hanya sesekali mulut saya diusap menggunakan tissu karena makan saya yang belepotan. Kadang Mbah Kakung ‘menanggap’ saya bercerita tentang sekolah dan lainnya. Masih teringat dengan jelas juga bagaimana ritual Mbah Kakung ketika selesai makan. Mengambil timun, meremasnya diatas piring yang sudah selesai dipakai. Dicucinya tangan beliau menggunakan air yang sudah disediakan dalam mangkok, kemudian mengambil tusuk gigi, menuju wastafel, cuci tangan lagi dengan air mengalir dan sabun, lalu membersihkan gigi dengan tusuk gigi dan berkumur-kumur. Setelah itu melap tangan dengan kain lap, dan diakhiri dengan tissue. Minuman favorit Mbah Kakung adalah Soda Gembira. Dulu kadang saya juga ikut mencicipi, namun hanya sedikit karena menurut saya-yang-masih-kecil, rasanya aneh.

Ya, hal sesimpel ini, makan gulai otak bersama Mbah Kakung. Hal kecil yang membuat saya kangen beliau. Sangat.

Pernah sesekali saya ingin mencoba ke warung makan Padang yang itu, yang dulu sering kami singgahi. Namun, kadang saya hanya membayangkan bagaimana ketika saya terlalu mengingat detil kejadian bersama Mbah Kakung. Apakah akan sedih, ataukah akan bahagia. Saya masih takut menebak perasaan yang muncul setelah itu.

kakung
saya dan mbah kakung

Mbah Kakung, apa di surga juga ada gulai otak dan soda gembira?

Saat ini saya hanya sedang kangen Mbah Kakung :’)

Advertisements

2 thoughts on “My Childhood Memory : Makan Gulai Otak di Warung Makan Padang bersama Mbah Kakung”

  1. gulai otak itu kesukaan nenek saya (dari ayah) jd klu lebaran ada tradisi ngantar nenek makanan dia hanya minta gulai otak utuh aja..tidak mau lauk lain…udah lama nenek sy meninggal..hiks jd sedih ingat Almh…tp sy juga suka gulai otaknya..skrg klu ke pasar suka mampir ke rumah makan yg mmg menyediakan gulai otak..yummi

    1. Waah, ternyata kesukaan simbah kita sama, hehe..
      Malah sekarang blas hampir gak pernah makan gulai otaknya, takutnya di warung makan malah mewek keinget simbah,* haiyaaahh

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s