Kami Punya Pilihan

“Bismillah. Rejeki sudah diatur Tuhan. Saya yakin pasti lebih bahagia”

Oya, ini bukan hanya pada memilih calon pendamping hidup atau jodoh ya. Ini soal memilih kehidupan.

Kami dulu pernah bekerja dalam suatu perusahaan. Saya masuk dulu sekitar hampir 1 tahun, baru kemudian dia masuk. Disaat pertama kali dia masuk, dari percakapan kami saat istirahat makan siang bersama, saya jadi teringat waktu masih pertama kali menginjakkan kaki di kantor ini. Masih menggebu, masih mengalir. Dia juga nampak terheran dengan jawaban saya yang sudah terkesan ‘tidak semangat’. Saya hanya berkata, “Kalau kita berjodoh pendapat, mungkin kita akan sependapat bahwa suatu ketika ada kata yang ajaib yaitu, Ada fasenya.”

Dan hingga akhirnya, tepat per 1 Desember tahun kemarin saya mengakhiri status sebagai karyawan kontrak si suatu perusahaan BUMN. Tanggapan orang sangat banyak, bervariasi. Ada yang mendukung, namun lebih banyak juga yang nyinyir. Pernah saya tulis juga catatan seperti ini di suatu post disini. Toh, ini bukan tentang orang lain, saya hanya cukup menunjukkan bukti kalau saya bisa lebih bahagia dan lebih produktif.

Delapan dari sepuluh orang yang saya ceritakan tentang ‘keluarnya saya dari perusahaan’ mungkin boleh marah, menganggap saya tidak bersyukur, memandang sebelah mata dan sebagainya. Namun dua dari sepuluh orang itu menguatkan saya. Membuat saya tambah yakin. Ya. Saya terbiasa berada di sebuah minoritas. Dan saya harus kuat, saat itu.

Di lingkungan kerja saya dulu, saya dituntut harus bisa membuat suatu keputusan yang cepat. Harus bisa mengerjakan sesuatu dengan tepat. Diantara tali-tali yang mengikat leher kuat-kuat. Tapi, saya bukan malaikat. Saya melakukan banyak salah. Saya punya masalah. Dan saya juga punya lelah. Selama kita punya pilihan, memangnya harus selalu pasrah?

Saya tipe orang yang ketika mengerjakan sesuatu, hasil akhirnya harus sempurna. Saya tidak suka menunda. Saya orang yang keras kepala. Jika saya merasa saya tidak salah, saya akan berusaha meyakinkan orang lain. Saya tidak suka semuanya dinilai dengan uang. Saya lebih suka diapresiasi dalam hal yang lebih manusiawi. Namun, saya tidak bisa melakukan hal “saya” ini di lingkungan saya bekerja dulu. Hingga akhirnya membuat saya jadi Si-Tukang-Protes dan Tukang-Ngeyel. Mungkin jika ini hanya menyangkut pribadi saya, tidak akan jadi masalah. Namun, dalam suatu lingkungan kerja hal tersebut ternyata terbawa hingga ke dalam pola kerja dan satu lingkungan. Membuat kantor kami jadi sering jadi bulan-bulanan juga, hehe…

Akhirnya saya memutuskan untuk KELUAR. Saya tidak menyerah, Saudara. Saya hanya PUNYA PILIHAN. Dan ini saatnya saya tunjukkan.

Bukan hal ringan memutuskan untuk bisa keluar begitu saja. Saya harus mempertanggungjawabkannya kepada orangtua saya, suami saya, dan orang lain. Saya harus bisa menjelaskannya kepada banyak orang. Itu Pe-ernya.

Dan, tepat hari ini, 3 hari sebelum sahabat saya juga MEMILIH. Saya paham bagaimana rasanya. Bagaimana perasaan-perasaan deg-degan, penasaran, seneng, sedih, campur aduk. Dia harus menutup mata dan telinga dan tidak perduli dengan gaji yang semakin bertambah (bahkan 30%, katanya), dia juga harus tidak perduli dengan rayuan-rayuan lain yang terkesan ‘mengiming-imingi’. Bahkan dia cukup cantik dan elegan dengan menjawab “Mantap” kepada semua orang yang bertanya perihal ketidakberlanjutannya. Salut untukmu!

Welcome to the jungle, Mbak. Siap-siap untuk senyum setiap hari ya… 🙂

 

25-04-2014

 

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s