(Giveaway) Mbah Kakung dan “Driji Lima”

Cover Kumpulan Dongeng Anak Karya Hastira Soekardi

 

Dulu, sewaktu saya masih kecil seumuran TK atau SD kelas 1, saya tinggal bersama kedua orang tua saya di rumah Mbah Kakung. Kebetulan ibu saya anak tunggal dan membuat saya menjadi anak pertama dan cucu pertama di keluarga Ibu (bayangkan rasanya, perhatian dan kasih sayang dimana-mana!). Mbah Kakung sangat sayang dan juga sangat memanjakan saya. Tiap kali liburan kenaikan kelas, saya selalu diajak ke Toko Surahono (Toko sepatu langganan Mbah Kakung), dan diminta memilih sepatu. Tiap kali lebaran, saya juga diberi uang THR untuk beli jajan, baju, sandal sampai mainan keinginan saya. Bahkan tiap kali beliau rapat PWRI, saya selalu diajak serta. Betapa dekatnya saya dengan Mbah Kakung, membuat saya hampir tidak percaya jika beliau sudah meninggalkan saya untuk selamanya (waktu itu saya kelas 4 SD). Saya tidak menangis saat itu, berusaha tegar disamping Ibu saya yang hampir tiap 10 menit jatuh pingsan, diantara banyaknya pelayat yang memeluk dan berurai air mata. Tapi saat itu hati ini rasanya kosong. Sangat.

Banyak hal yang kami, saya dan Mbah Kakung lakukan bersama. Hal menyenangkan. Naik sepeda setiap sore di penggilingan padi depan rumah, bermain layang-layang di pematang sawah (saya cukup tomboy saat kecil, hehe). Bahkan untuk saya, beliau sudah seperti bapak dan ibu dalam satu paket yang sempurna. Hal yang sangat saya kagumi dari Mbah Kakung adalah bahwa beliau sangat pandai mendongeng. Setiap malam, sebelum saya tidur saya selalu didongengi. Bahkan ketika kami (Bapak, Ibu, aku dan adikku) sudah tidak serumah dengan Mbah Kakung (kira-kira sekitar 500meter dari rumah Mbah Kakung), beliau selalu datang setelah ke rumah kami setelah sholat Isya, dan selalu menemani saya sebelum tidur, menceritakan sebuah dongeng, dan pulang setelah saya tidur (So sweet, bukan? :’D ). Sebenarnya, banyak dongeng yang Mbah Kakung ceritakan, namun saya sangat suka dongeng yang menokohkan “Driji Lima” .Mungkin ada yang roaming ya, hehe… Jadi, “Driji Lima” ini jika di bahasa Indonesiakan artinya jari lima, atau kelima jari.

Jadi, “Driji Lima” ini menceritakan tentang kelima jari tangan kita. Menurut versi Mbah Kakung, Ibu jari adalah ibu dari 4 orang anak (jari telunjuk, jari tengah, jari manis, dan jari kelingking).

  • Si Ibu Jari,  meskipun besar, pendek, namun selalu berkata baik, sabar, dan sangat menyayangi anak-anaknya. Sosok penengah diantara anak-anaknya.
  • Jari telunjuk, anaknya nakal. Gemar menunjuk-nunjuk kesalahan orang, dan senang sekali memerintah.
  • Jari tengah sangat sombong, dan selalu berpikiran negatif, selalu menghasut jari telunjuk untuk nakal
  • Jari manis adalah anak yang paling baik, dia sangat sopan dan selalu dipuji oleh ibu jari sehingga diberi hadiah cincin.
  • Jari kelingking adalah adik yang paling kecil. Dia sangat lemah namun sangat pemaaf, selalu patuh jika dimintai tolong ibu, dan kakak-kakaknya.

Dari kelima jari yang Mbah Kakung ceritakan, saya diminta memilih salah satu jari yang paling disenangi. Dan otomatis saya memilih jari manis (yang ada hadiahnya,haha). Namun, kemudian beliau meminta saya melakukan hal seperti menulis, menggaruk, mengambil sesuatu menggunakan satu jari itu saja. Tentu saja saya tidak bisa melakukannya. Kemudian, saya masih ingat kata-katanya, kurang lebih seperti ini :

“Nhah, kelima driji kuwi podo wae koyo uwong. Nduwe kelemahan, nduwe kelebihan. Nduwe elek, nduwe apik. Ning buktine driji wae bisa dadi siji. Bareng-bareng nglakoake gawean, sing penting mbener”

 (Nhah, kelima jari itu sama dengan manusia. Punya kelemahan, punya kelebihan. Punya sifat kurang baik, punya sifat baik. Namun buktinya kelima jari bisa jadi satu. Bekerjasama melakukan sesuatu, yang penting benar)

Yang bisa saya petik adalah, bahwa setiap manusia itu diciptakan berbeda-beda dan tetap pada kodrat bahwa manusia adalah makhluk sosial. Jika jari telunjuk nakal, dia harus ingat bahwa dia juga membutuhkan jari lainnya untuk melakukan sesuatu, dan sebaliknya. Kita semua harus  memiliki rasa saling menyayangi, saling menolong, dan saling melengkapi.

Mbah Kakung bercerita tidak menggunakan media buku cerita atau buku bacaan lainnya. Beliau menggunakan media anggota tubuh yaitu jari tangannya yang bergerak-gerak sesuai karakter tokoh yang diciptakan. Dengan suara-suara yang juga beliau sangat pandai merubah-rubahnya. Si Ibu jari yang berbicara dengan gaya ibu-ibu dan sangat bijaksana. Saya ingat ada suatu scene (*ceileee) disaat si Ibu jari memperingatkan jari telunjuk dan jari tengah untuk tidak nakal terhadap jari kelingking. Bijak sekali. Ada juga suara Mbah Kakung berubah jadi seperti anak kecil yang ketakutan, saat memerankan jari kelingking yang sedang mengadu ke ibu jari dan kakaknya si jari manis, imuuut. Semua dongeng diceritakan menggunakan bahasa Jawa, komplit dengan berbagai kombinasi dan penerapannya sesuai unggah-ungguh, bagaimana anak seharusnya berbicara kepada orangtua dan sebaliknya, seperti ngoko alus, krama, sampai krama alus (Itulah sebabnya kenapa nilai Bahasa Jawa saya selalu bagus, hehe)

Sebenarnya masih banyak dongeng yang Mbah Kakung ceritakan, indahnya, selalu beliau kemas dengan banyak guyonan dan menarik, disisipi tembang-tembang Jawa seperti “Kidang Talun”, “Semut Ireng”, dan tembang macapat lainnya. Di akhir, selalu beliau memberikan kesimpulan dan penekanan pada pelajaran yang bisa dipetik dari sebuah dongeng yang beliau ceritakan, suatu ketika juga saya sampai terbawa mimpi bertemu tokoh-tokoh ibu jari dan jari manis yang saya kagumi.

 

Semut ireng anak anak sapi

Kebo bongkang nyabrang kali bengawan

(Dhandhanggula – Semut Ireng)

kakung

Apakah saya sudah bilang kalau saya sayang Mbah Kakung?
Belum?Saya sayang Mbah Kakung. Sangat. 

Ahh, jadi ingat Mbah Kakung, sedikit sedih sih, tapi lega sudah berbagi 🙂

 

Daaannn…  ini Giveaway kedua saya. Bismillah semoga menang lagi, hehe *kedipkedip mata ke Mak Tira

Advertisements

8 thoughts on “(Giveaway) Mbah Kakung dan “Driji Lima”

  1. Kok sama dg salah satu dongeng mbah kungku dl ya mbak…driji limo…trus lagunya itu jg samaaa….selain itu ada lagi “bapak pucung…sirahmu madep menduwur….dst”……waaa…jd kangen mbah kung nih…

  2. Wahh..dongengnya keren ya. Inspitatif. Entar klo dah punya cucu mo dongengin driji limo ah…hehe

  3. Menarik ya dongengnya. Dari 5 jari jadi seabrek cerita. Jadi inget lagu five finger yang kayak Gini: father finger2x how are you..here I am2x how do you do…dst

  4. Ahhh, ikutan sedih, Mbah Kakungku udah tiada. Meski sama cucu kesayangan Mbah Kakung juga, tapi saya nggak punya kenangan didongengin, Mak. 😀

    Sukses ya buat giveawaynya semoga menang.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s