Death Will Come Like a Thief in the Night

Hari Selasa, 4 Maret 2014 kemarin mungkin merupakan hari yang paling aneh bagi adik laki-laki saya, Kaka. Dia dan salah satu temannya diminta Ayah untuk mengambil alat musik yang dipesan untuk kelengkapan studio musik. Berangkat dari Wonosobo ke Temanggung, mereka naik bus karena rencananya pulangnya sekalian diantar dengan mobil yang mengangkut alat musik.

Namun, karena hujan, alat musik tidak busa dibawa dengan pickup. Sehingga, ketika alat diangkut menggunakan mobil Kijang, mereka harus naik bus lagi karena tidak cukup mengangkut. Dan, kejadian aneh ini dimulai disini.

Di dalam bus jurusan Magelang-Wonosobo yang lumayan penuh, mereka duduk di belakang sendiri, di bangku panjang, dekat pintu. Bus melaju lumayan pelan karena sambil berhenti mengangkut penumpang. Tidak lama setelah sampai di Maron, Temanggung, tepatnya di pinggir jalan depan suatu pemakaman, kemudian naik seorang ibu-ibu separuh baya. Berkerudung biru, memakai celana kain, di pundaknya terselempang tas perempuan berbahan vinyl kecil, dan tangan kanannya membawa keranjang belanjaan. Menurut cerita, sempat beberapa detik perempuan itu mengangguk dan tersenyum kepada adik saya, dan kemudian memilih tempat duduk persis di depan tempat duduk Kaka dan Mamo. Selang beberapa waktu kemudian, sampailah mereka di Kledung, perbatasan Kabupaten Temanggung dan Kabupaten Wonosobo.

Tiba-tiba, suara riuh dan histeris memenuhi bus tersebut. Ibu-ibu yang duduk di depan adik saya, tiba-tiba terjatuh dari tempat duduknya dan tergeletak di lantai bus, di tengah-tengah jalan sempit antara kursi dengan kursi. Sontak adik saya, temannya, dan kernet serta bapak-bapak membantu mengangkat perempuan itu. Namun, yang sangat aneh, tubuh perempuan itu kaku mengejang dan matanya hampir membalik, bola matanya sudah naik ke atas. Langsung tanpa pikir panjang sopir membawa ke tenaga medis paling dekat, yaitu Bidan di Kledung. Menurut informasi bu bidan, ibu itu harus langsung dibawa ke rumah sakit terdekat karena ketika diperiksa denyut nadinya sudah sangat lemah. Akhirnya, seperti kesetanan bus melaju menuju Rumah Sakit Islam yang berada di kota Wonosobo. Sesampainya disana, perempuan itu diangkat langsung masuk IGD. Adik saya dan temannya bercerita, ketika mengangkat tubuh perempuan itu, bagian punggungnya sudah basah keringat dan bibirnya sudah berubah ungu, seluruh tubuhnya dingin. Tidak lama setelah masuk IGD, perempuan itu dikabarkan sudah meninggal. Innalillahi wainnaillaihi roji’un…

Setelah agak lama, keluarganya baru datang. Adik saya dan temannya, kebetulan bertemu langsung dengan keluarganya dan menjelaskan detail kejadiannya. Ruangan yang tadinya riuh suara kepanikan berubah jadi suara tangis. Ada seorang perempuan juga yang duduk disamping ibu-ibu yang meninggal itu menerangkan kalau tadinya almarhumah ibu itu (yang kemudian diketahui namanya Bu Muji, tinggal di Purbosono, Kertek, Wonosobo) sedang asyik sms-an. Tubuh bu Muji sempat ambruk sekali di pundaknya dan dikira mengantuk, namun ketika bus melaju kencang dan ada lubang, beliau terjatuh dan baru diketahui kalau ambruk bukan karena mengantuk.

Ketika saya tanya ke adik saya apa diagnosa dokter tentang penyakit atau penyebabnya, jawabnya masih simpang siur, kemungkinan penyakit jantung. Soalnya adik saya juga sudah kadung bingung, gemetaran, kaget, shock dan perasaan campur baur lainnya, sehingga udah gak begitu ngeh dengan dokter, perawat dan penumpang lainnya.

Adik saya bercerita, dia masih merasa tidak percaya bahwa kejadian itu benar-benar dia alami. Melihat proses kematian seseorang di depan mata. Masih terbayang saja bagaimana si ibu tersenyum menyapanya. Untuk umurnya yang masih 16 tahun, mungkin kematian adalah hal yang masih belum terpatri di kepalanya. Namun, saya tahu, kejadian ini mengajarkan dia sesuatu.

Dan, begitulah kematian. Tidak akan pernah kita tahu kapan datangnya. Marilah berlomba-lomba dalam kebaikan dan introspeksi terhadap iman kita kepadaNya, untuk memperbanyak bekal kita. Because death will come like a thief in the night. Sudah siapkah kita menghadapi kematian?

Semoga Bu Muji khusnul khotimah, amin.

Untuk keluarga almarhumah selalu diberikan kesaaran dan ketabahan.

Salut untuk adik saya, teman adik saya, pak sopir, pak kernet, dan penumpang lainnya, dan pihak yang terkait yang sudah melakukan yang terbaik. Hanya Tuhan yang dapat membalas kebaikan kalian.

Advertisements

10 thoughts on “Death Will Come Like a Thief in the Night

  1. Masya Allah. Ngeri banget. Menyaksikan proses kematian itu membuat kita tawadu. Hikmahnya banyak. Semoga adiknya yang masih muda itu mengerti bahwa dia beruntung.

    • Amiiin, saya juga gak mbayangin kalau saya ada di posisi adik saya. Tapi, semoga kita bisa memetik semua hikmah dari kejadian ini, termasuk adik saya, dan kita semua.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s