Semua yang Besar Berawal Dari yang Kecil

Belum selesai dengan pemberitaan Sinabung, Gunung Kelud pun ingin “diperhatikan”. Persis tanggal 14 Februari 2014, abunya menyebar kemana-mana sampai ke kota saya juga, Wonosobo. Padahal jika dihitung secara jarak, Wonosobo lebih dekat dengan Gunung Merapi di Yogyakarta, tapi dari tebalnya abu yang disemburkan sampa ke wilayah Wonosobo dan sekitarnya, abu Gunung Kelud ini lebih tebal daripada abu Gunung Merapi kemarin. Mungkin faktor angin dan seberapa kuat semburan saat letusan terjadi.

Berdasarkan banyak studi, ternyata tingkat kerusakan lingkungan menjadi salah satu faktor penting yang menentukan tinggi rendahnya risiko bencana di suatu kawasan. Jika kita telaah, sebagian besar bencana alam seperti banjir, gempa bumi dan gunung meletus sangat erat hubungannya dengan lingkungan. Saya jadi ingat kata-kata Almarhum Mbah Marijan sebagai “juru kunci” Gunung Merapi, saat ditanyai tentang bagaimana cara menjaga gunung berapi tersebut. Simbah menggunakan kata kerja seperti “memanusiakan” Gunung Merapi, contohnya :”Jangan buat Merapi marah”, “Merapi hanya batuk-batuk saja”, “Jangan merusak tubuh Merapi dengan penambangan pasir liar”, dan masih banyak lagi. Di suatu wawancara juga Mbah Marijan ini mengatakan bahwa sebenarnya Merapi juga butuh dirawat, diobati dan disayang-sayang seperti manusia. Tapi yang kadang dilakukan sebagian orang adalah melakukan penebangan liar, penambangan pasir liar, dan contoh paling simpel adalah membuang sampah tidak pada tempatnya. Padahal satu sampah kecil, bisa membuat banjir se-Jakarta lho, percaya gak? Hehe… Coba bayangkan, jika 1 hari ada orang yang membuang 1 plastik bungkus permen ke sungai, padahal populasi penduduk di satu kota berapa coba? Bisa dibayangkan kalau 1 minggu? 1 bulan? 1 tahun? Hiii… Ngeri ya!

Sebenarnya sudah ada sistem untuk solusi menjaga lingkungan yang sangat murah, mudah dan praktis, khususnya pada masalah sampah. Namanya sistem 3R yaitu Reduce, Reuse, dan Recycle. Penerapan sistem ini kenapa dibilang mudah? Karena semua orang dapat melakukannya, dan hebatnya lagi sistem ini sangat berhubungan dengan kegiatan sehari-hari sehingga tidak akan memberatkan deh!

A. Reduce

Dari perbendaharaan katanya, dapat kita simpulkan bahwa arti dari kata Reduce adalah mengurangi. Mengurangi apa sih? Nhah, reduce disini yang dimaksud adalah mengurangi penggunaan barang-barang yang mengandung bahan yang bisa merusak lingkungan.

Contoh kegiatan reduce yang bisa kita lakukan sehari-hari:

  1. Kita bisa memilih produk dengan kemasan yang dapat diisi ulang (refill)
  2. Melakukan efisiensi terhadap penggunaan air, listrik dan bahan bakar lainnya. Contohnya mematikan lampu di siang hari, jika menggunakan mesin cuci gunakan sistem sekali bilas.
  3. Mengurangi penggunaan bahan sekali pakai. Contohnya mengurangi penggunaan tissu dan mengganti dengan sapu tangan.
  4. Jangan konsumtif terhadap pembelian furniture atau barang-barang yang belum prioritas.

B. Reuse

Reuse berarti menggunakan atau memakai kembali. Dalam hal ini, kegiatan Reuse dilakukan agar suatu barang setelah dipakai tidak dibuang dan akhirnya menjadi sampah yang menumpuk dan mencemari lingkungan.

Contoh kegiatan reuse yang dapat kita lakukan sehari-hari :

  1. Menerapkan penggunaan kantung belanja yang dipakai berkali-kali. Contohnya ketika belanja selalu membawa tas sendiri, tas belanja dari kain atau bahan lain yang bisa digunakan berulang-ulang
  2. Memaksimalkan penggunaan alat-alat penyimpan elektronik yang dapat dihapus dan ditulis kembali.
  3. Menggunakan kembali tempat/wadah yang sudah kosong untuk fungsi yang sama atau berbeda. Misalnya menggunakan botol bekas minyak untuk wadah minyak refill.
  4. Menggunakan kembali kertas bekas untuk dimanfaatkan menjadi kertas coretan misalnya. Dulu ibu saya membawa banyak kertas bekas print-print-an dari kantor dan saya gunakan untuk kertas coretan saat mengerjakan Matematika, hehe…

C. Recycle

Kalau berbicara recycle, jadi ingat Recycle Bin yang ada di Desktop ya hehe… Recycle disini adalah mendaur ulang barang. Sudah banyak lho, kampung yang menerapkan sistem daur ulang ini, di Wonosobo juga masih trend Bank Sampah, jadi mengumpulkan sampah dan didaur ulang sehingga menghasilkan produk yang bisa digunakan dan dijual.

Contoh kegiatan recycle yang bisa kita lakukan sehari-hari:

  1. Memilih produk dan kemasan yang dapat didaur ulang dan mudah terurai. Contohnya, ada kantung kresek sekali pakai dan bisa terurai.
  2. Memilah-milah sampah organik dan anorganik.
  3. Tidak membuang wadah kemasan plastik, kaleng ataupun kertas. Bisa juga diolah lagi dan didaur ulang lho… Kertas yang tidak terpakai bisa dibuat bubur kertas dan dibentuk macam-macam. Botol minuman bekas atau kaleng cat bisa dimanfaatkan sebagai pot tanaman.
  4. Sampah-sampah organik yang terkumpul, bisa kita jadikan kompos. Contohnya sisa makanan dan daun-daun kering.

Sebenarnya banyak hal yang bisa kita lakukan untuk ikut menjaga dan merawat lingkungan kita. Salah satunya adalah pengelolaan sampah. Mungkin saja bisa sedikit mengurangi banjir dan bencana lainnya. Dimulai dari lingkungan rumah kita dulu. Hal kecil memang, namun semua yang besar berawal dari yang kecil, bukan?

Advertisements

4 thoughts on “Semua yang Besar Berawal Dari yang Kecil

  1. Sepakat Mak… Slogan 3R itu sudah lama namun tetap & tambah relevan buat sekarang ya… Belum semuanya sudah dilakukan, tapi sedapat mungkin belajar sedikit demi sedikit turut berkontribusi untuk alam ya… Salam 🙂

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s