Perjuangan (Bukan Lagu Qasidah)

Sore tadi, hujan deras, dari rumah kami di Wonosobo, suami berangkat ke Jogja. Naik motor, memakai mantel orange. Demi beratus lembar undangan agar  tidak mengecewakan pelanggan, sebuah keyboard netbook yang sudah buluk , dua buah laptop yang disulap menjadi sebuah laptop. Melihatnya semangat menerjang hujan, saya terharu. Betapa perjuangannya yang selalu dia bilang : belajar menjadi seorang suami. Yang disayang istri, dia menambahkan. Ah, tanpa dia melakukan apapun, dia sudah saya sayang.

Masih hujan, sayang. Masih di percetakan. Semoga lancar semua, doakan.

Malam ini, urusannya belum selesai. Mungkin malam ini dia tidak pulang. Tidak memeluk saya ataupun menyelimuti saya. Tentunya saya tidak pantas merengut kan, melihat perjuangannya tadi? Mengingat semua perjuangannya kemarin, seminggu yang lalu, sebulan, setahun, dulu? Baiklah, saya juga ingin berjuang. Saya juga ingin bilang : belajar menjadi istri.

#catatanhariansangistri

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s