jurnal

Balada Sang Istri (Pasangan Muda)

“Pliiiisss… kamu kan ikut Kumpulan Emak Blogger… disharekan dong ceritaku, biar aku punya banyak masukan. Katamu, kamu termasuk paling muda kan.. Pasti anggota lainnya Ibu-ibu bijak semua deh, Ya…Ya…Ya…”, suaranya merengek di telepon. Sudah satu jam teman saya ini curhat, telinga saya juga sudah panas, untung saya pakai headset, jadi bisa tak sambi bikin lauk dan sayur buat makan malam suami dan temannya yang sedang les desain.

Namanya Lalita (nama disamarkan), dia teman baik saya dari SD. Kami tinggal satu kampung yang membuat kami cukup atau dibilang sangat dekat. Dulu, sewaktu kami kelas 1 SMP, hampir setiap orang (tetangga kami) salah panggil nama karena kami hampir mirip, dari perawakan sampai model rambut pendek kami. Bedanya hanya,  kulit saya lebih sawo matang dan dia  kuning langsat (berasa iklan alas bedak, hehe). Sebenarnya, kami juga berbeda selera. Dari makanan, sampai fashion baju, dan tentunya sifat kami. Saya cenderung cuek sedangkan dia sangat sensitif. Tapi, dia sudah saya anggap seperti kakak, adik bahkan saudara sendiri. Kami saling berbagi cerita. Kami jadi “rem” untuk satu sama lain. Hanya saya yang bisa memarahi dia, tanpa dia sakit hati dan sebaliknya. Semenjak kami  kuliah, kami tidak pernah terlihat bersama dan (sebenarnya) jarang juga berkomunikasi. Tapi, kami tetap “ada” dan “nyambung” untuk setiap obrolan kami. Daaan… begitulah kami.

Lalita menikah bulan November tahun lalu, tepat 20 hari setelah saya menikah. Kami sama-sama pasangan muda dalam mengarungi bahtera rumah tangga (aiishhhh…bahasanya). Kami masih umbrus dalam hal masak-memasak, dalam hal hemat-menghemat, dan marriage-things lainnya. Satu hal yang paling tidak saya sukai dari dirinya adalah lebay dan selalu grusa-grusu (Sorry Mbak Bro, kalo baca yang ini, tapi beneran lho, hihi). Dia selalu meribetkan hal-hal yang (menurut saya) kurang penting. Mungkin karena saya sedikit cuek saja jadi kalau bukan hal urgent , saya sering menganggap itu angin lalu. Berbeda dengan Lalita.

Masalah Lalita, sebenarnya sudah cukup lama. Suaminya punya seorang teman. Perempuan. Dan dari mereka pacaran, hubungan Lalita dan wanita itu memang tidak begitu baik. Lalita mengklaim hak milik pacarnya (dulu masih pacar) dan wanita itu (seakan) menggunakan “pertemanannya” untuk kepentingannya. Kebetulan saya juga kenal dengan suami Lalita dan juga temannya itu. Suami Lalita sangat cuek dan sangat rasional, dia tidak akan suka hal-hal yang tidak masuk di akal, namun saya tahu betapa Mas Wika (nama samaran juga) sangat mencintai Lalita. Lalita pun tahu itu, dan sangat menyadari dan memahami kecuekan suaminya. Tapi tidak dengan hal satu ini, wanita temannya itu.

Saya juga tahu bagaimana mas Wika memang sudah agak “berbeda” dalam hal “berteman” dengan perempuan temannya ini, semenjak istrinya “ngangluh”. Sedikit menjaga jarak, mungkin hanya kurang tegas saja. Daaaan,  tapinyaa teman perempuan mas Wika ini seolah selalu punya “alasan” untuk meng-ada adakan komunikasi dengan mas Wika. Sebenarnya saya paham perasaan Lalita. Bukan cemburu karena merasa disaingi. Toh, wanita itu kalau dibandingkan dengan Lalita secara fisik ataupun kognitif, jauuuhhh… (Bukan karena saya teman Lalita, tapi kenyataan). Bukan cemburu karena merasa akan direbut. Hanya tidak nyaman. Dan perasaan seperti ini memang tidak ada di kamus manapun. Hanya ada di hati wanita. Tidak ada diksi yang tepat untuk mewakili perasaan seperti ini. Benarkah ?

Pertama-tama saya mendengar cerita Lalita, awalnya saya menganggap angin lalu karena yaaah, saya tahu Lalita seperti apa. Tapi, setelah saya amati dan sempat nginjen apa yang teman mas Wika ini tulis di media sosial dan beberapa kali bertemu secara agak intens, saya agak khawatir. Saya sempat berpikir, jangan-jangan Lalita benar. Ekstrimnya, si perempuan ini menggunakan tiket masuknya sebagai teman ini agak kebangetan. Apapun ditanyakan kepada suami Lalita. Apapun. Dari hal rekomendasi buku, filem, tempat makan, baju yang dia kenakan, dan hal-hal aneh lainnya. Sekarang kan jaman Google, dan maklumlah kalau sekali dua kali dia bertanya, tapi kalau berkali-kali? Saya juga punya teman laki-laki, teman hangout , teman sharing-sharing laah… tapi setelah saya punya pacar dan sampai sekarang menikah, teman-teman saya ini sudah dengan penuh kesadaran “menjaga jarak” (if you know what i mean). Dan sahabat suami saya juga banyak yang perempuan, tapi mereka juga “menghargai” posisi saya, sangat. Mengikutkan saya dalam banyak hal, percakapan, dan malah sahabat perempuan suami saya ini malah jadi lebih dekat sama saya, hehe.

Saya kurang paham dengan pemikiran teman mas Wika ini, dengan umur yang terpaut tiga tahunan dengan kami, dengan banyak tulisan dia yang saya baca, dengan banyak sikap yang ditunjukkan, dengan banyak “berita-berita” yang dimunculkan untuk membuat reputasi Lalita agak kurang baik di mata teman-teman mas Wika yang lain. Setau saya, Lalita tidak pernah (terlalu) menunjukkan sikap “tidak sukanya”, hanya mungkin pernah sekali-dua kali Lalita sedikit menyindir lewat tweet sekitar dua tahun lalu. Lalita me-retweet hal tentang “menjaga sikap dan menghargai pasangan temanmu”. Cuma satu tweet ini, dan blaammmmm… ada yang merasa, hehe. Pernah teman Mas Wika ini sedikit blak-blakan, bertanya lewat sms kenapa Lalita seperti itu. Lalita hanya menjawab, “Pernah merasakan cinta yang sangat terhadap seseorang?”, dan jawab teman mas Wika ini dengan tegas, “Tidak”. Jawabannya mungkin Lalita sudah tahu, karena (mungkin) teman mas Wika ini belum pernah berada di posisi seperti Lalita.

Teman mas Wika ini menggembar-gemborkan kejadian yang setahu saya tidak pas mengenai Lalita ke teman-teman lainnya. Pernah Lalita rasan ke mas Wika, tapi jawaban mas Wika tidak sesuai dengan yang Lalita harapkan, memang sangat logis dan rasionalnya lelaki, tapi kemudian akhirnya membuat Lalita bersabar dan bersabar.

Sampai pada akhirnya, kejadiannya tepat tadi siang. Lalita curhat lagi kepada saya. Tentang tak sengaja terbacanya tulisan teman mas Wika dan Lalita mengira itu dirinya yang sedang diceritakan disana, penuh dengan bumbu dan begitulah… Saya mau tidak percaya, tapi… saya sebagai teman Lalita juga sedikitnya bisa paham siapa yang dimaksud teman mas Wika itu. Saya tidak bisa berkata apa-apa, kok ya ada yang “tega”.

Akhirnya, saya hanya bisa bilang, “Sabaaar… Lingkaran kebaikan itu ada”. Lalita hanya diam sejenak, saya tahu dia mengiyakan. Dan seperti biasa dia mengalihkan pembicaraan, “Kamu masak apaaa?”. Satu hal yang saya kagumi, hatinya luaaasss sekali.

Untuk masalah ini, mungkin untuk renungan diri saya juga sih. Anggap saja perempuan itu tidak pernah “mempunyai” rasa cinta yang dalam terhadap sesuatu. Atau anggap saja perempuan itu “belum paham” bagaimana seharusnya bersikap dan bersosialisasi tanpa membuat tidak nyaman sekelilingnya. Mungkin dia belum paham saja dan belum melihat dari sudut pandang lain. Saya jadi mikir, apa yang terjadi jika seandainyaaa… seandainya… suatu saat dia dicurhati ibu-nya akan sikap teman bapak-nya yang seperti itu? Semoga dia paham. Dan segera menemukan seseorang, tanpa harus merasakan seperti ini. Amin.

Saya tahu dia memang terlalu muda untuk menikah. Saya juga menikah muda. Kami hanya perlu menata hati dan latihan “dewasa”. Untuk hal-hal yang sekiranya tidak ada manfaat, harus dibuang jauh-jauh. Daripada menyimpan grundelan di hati, ungkapkan saja ke apapun yang kamu percaya, buku diary atau blog private mungkin? Hehe…

Advertisements

6 thoughts on “Balada Sang Istri (Pasangan Muda)”

  1. Ihh.. gemas aku baca tentang temannya mas wika itu. Kenapa lalita gak bilang ke suaminya bagaimana perilaku temannya itu yang sudah ke arah memfitnah lalita? Tunjukin dong tulisannya si teman wanita itu ke suaminya. Aku jadi gemas.
    Nih ya. Kalo teman menghargai kedekatan hubungan itu adalah keharusan. Tapi kalo ada perempuan yg tidak menghargai pasangan maka bisa dikata bahwa si perempuan itu jangan2 suka ma suami kita? Hati2 loh… pelan pelan dia sedang menebarkan rasa keterikatan suami lalita tuh. Jadi nanti kalo suatu hari dia gak cerita dan gak curhat dan gak hadir suam lalita mulai merasa ada yg kurang. Hati2 bener deh… cinta itu tumbuh karena sebuah kebiasaan sederhana yang bisa jadi dibiasakan.

    1. iya e mbak, aku juga jadi gemes banget. udah berkali-kali bilang sama suaminya, tapi (mungkin) suaminya berusaha “ngadem-adem”, biar Lalita gak kepikiran (soalnya pernah mas Wika dan teman-teman yang lain cerita kalau temannya yang ini agak “nyentrik”), tapi kadang wanita tidak cukup dengan “diadem-adem”, dan tidak bisa “maklum” dengan sikap dia yang memaksa dia “diam” dengan keadaan seperti ini ini kan?

  2. aduh mak,.. itu udah nggak bisa ditolerir deh. Mas Wika harus bersikap tegas kalau memang dia menghargai perasaan mbak lalita. Lelaki memang lebih memakai logika tapi temen perempuannya kan makhluk venus, sama dengan mbak lalita, lebih memakai perasaan. Saya yakin teman perempuannya itu memang ada rasa ke mas wika. Masalah ini akan selesai kalau mas wika mengambil sikap lebih tegas. Hati-hati lho,.. cinta ada karena biasa. Semoga masalah ini akan cepat selesai, mas wika dan mba lalita tetap utuh, nggak ke ganggu lagi ma cewek disturbers itu lagi. Amiin…

    1. Iya Mak Indahhh… saya juga sempat mikir seperti itu, karena sikap defensifnya yang agak mencurigakan. baiklah Mak, saya akan coba kasih masukan ini ke sahabat saya. terima kasih yaaa 🙂 Amin aminnn… nuwun juga doanya

  3. Hmmm gimana ya …? Saya termasuk cewe yg di sms istri teman panjang bgt gegara saya pakai imbuhan ‘say’ >.< tp krn saya sdh rada biasa (entah knp dr sma dicurigain melulu sama temen cewe), saya jd rada hati2 aja siy nulisnya. Kalau istrinya telepon, lsg tutup mulut. Teman saya jg jadi lbh rajin hapusin sms dr temen2 cewe. tp teman saya ini setia loh, walau LDR sama istri n anaknya. Dia menganggap cemburunya istri tanda cinta. Kebanyakan cowo emang rada males berurusan sama yg bginian. Kalau mau si temen mak ini, setiap x si cewe itu tanya ini itu, dirinya aja yg jawab. Mulanya ikut nimbrung pk speaker phone. Biar si cewe mundur sendiri tanpa harus buat image istri protektif.

    1. Iyaaa, setahu saya Mas Wika emang orangnya cuek dan tahulaah mungkin cuma cewek yang “meribetkan” hal hal semacam ini ya Mak Mel… Oke, saya akan sampaikan ke teman saya sebagai bahan pertimbangan, doakan teman saya ini ya Mak… soalnya, semakin kesini saya amati temannya mas Wika ini agak ekstrim, nuwuunn….

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s