jurnal, kuliner, referensi

Bubur Ayam Sebelah Hotel Bima

Pagi tadi sarapan bubur ayam di samping Hotel Bima. Entah kenapa baru sadar di malamnya dan kami bahas kalau bubur itu ada sesuatu yang aneh. Setelah berpikir keras apa yang aneh, kami bisa menemukannya : bahwa bubur ayam itu tidak bisa kami ingat rasa kekhasannya. Mungkin cukup enak, tapi kami benar-benar tidak bisa mengingat rasanya. Saya juga baru sadar kalau tadi tahu-tahu bubur itu sudah berpindah tempat dari mangkok ke perut saya. 

Pelajaran untuk kami adalah, ciptakan “khas” dari apapun yang akan kamu “jual”, agar orang bisa selalu “ingat”.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s