jurnal

Mbah Uti

12-12-2011
Ini sudah hari ke-4 Mbah Uti hanya terbaring di kamarnya. Kata-katanya mulai melantur. Hampir setiap kali beliau hanyut ke dalam imajinasinya, kami yang berkata sebenar-benarnya dianggap berbohong. Beliau selalu berkata ingin pulang, padahal ini rumahnya. Beliau merasa tidak pernah berada di dalam kamarnya sendiri padahal benar-benar kamarnya sendiri. Beliau merasa berada di luar rumah dan pekarangan, sampai merasa berada di pinggir sungai. Ketika kami berusaha meyakinkannya, beliau mulai marah-marah dan mengatai kami tidak patuh. Terutama aku.
Yang aku tahu, beliau sangat sayang kepada adikku. Bukan aku. Yah, beliau selalu menyuruhku mengalah untuk urusan apapun. Apapun. Bukan karena aku anak tertua, tapi karena beliau jauh lebih menyayangi adikku, daripada aku. Tak apa. Sungguh. Karena  mungkin semua anggapanku selama ini salah. Beliau menyayangiku, kupikir. Di saat beliau sakit seperti sekarang ini pun, hanya namaku yang beliau panggil. Bukankah itu berarti beliau memikirkanku?
Empat bulan yang lalu, beliau masih terlihat seperti wanita yang tangguh, sampai-sampai setiap temanku yang datang, menyebutnya Nenek Gaul. Beliau selalu ingat waktu dan detil kejadian. Beliau senang sekali bercerita. Bercerita tentang pertemuannya dengan Almarhum mbah Kakung, tentang sekolahnya dulu, kehidupan di desa, dan masih banyak hal lain. Namun, empat hari ini, aku seperti melihat banyak sekali perbedaan. Beliau menjadi orang tua yang sangat rapuh, manja, dan rewel. Bukan seperti nenekku. Bukan seperti Mbah Uti.

Di kamarnya yang bukan dianggapnya kamar, beliau selalu lupa. Tidak sampai 10menit, kita harus berusaha mengulangi cerita kita. Harus menjelaskan kembali kalau beliau bisa buang air kecil di tempat tidur karena sudah menggunakan pampers. Harus mengulang-ulang jam berapa sekarang. Harus mengatakan kalau ini adalah kamarnya.
Aku jadi teringat film A Beautiful Mind, dimana seorang John Nash bertemu dengan banyak teman khayalannya. Begitu juga dengan Mbah Uti. Di kamarnya, beliau selalu berkata melihat seorang yang berbaju putih duduk di atas lemari, mengatakan bahwa banyak anak-anak kecil seusia adikku yang paling kecil bermain-main mengitari tempat tidurnya. Dan tentunya juga dengan kamar tidur yang bukan kamarnya.
Di tengah bicaranya yang melantur kemana-mana, aku menyeka air mataku. Kami merindukannya. Sangat.
Cepat sembuh Mbah Uti.
Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s