sastra

Rindu

Seseorang pernah mengirimi saya sebuah pesan singkat. “Rindu itu mungkin sebuah penyakit. Yang mungkin tidak bisa sembuh”. (e.a :2010) .Benarkah ?

Ketika rindu, saya seperti merasa kehilangan sesuatu. Dan hebatnya, rasa itu tak tahu waktu, bisa saja datang ketika saya sedang harus mengerjakan kerjaan yang sudah mepet deadline. Rasa itu tak tahu malu, bahkan sok kenal seperti teman lama yang menggelendot manja di pangkuan. Dia juga datang seperti pengintai yang sangat tahu saya disaat saya dalam keadaan paling tidak siap.

Bantal akan jadi salah satu pelampiasan ketika rindu menggebu. Saya juga baru tahu, kadang rindu itu berasa. Rasa asin.Yang jatuh meleleh di sudut-sudut mata saya, yang tidak sengaja meluncur ke sudut bibir saya. Rindu juga berasa pahit, ketika kerongkongan saya menolak makanan yang masuk karena berasa pahit di lidah. Rindu juga bisa terasa sakit, sesak di dada. Tapi, rindu bisa terasa manis, ketika obatnya segera datang.

Rasa rindu menjelma sebagai suatu sinyal-sinyal yang hanya bisa dirasakan oleh hati. Tapi ketika kita berusaha mengirim sinyal ke otak kita, rasa rindu tak akan pernah bisa terbaca.

Dan benar, rindu memang tak bisa sembuh. Selalu kambuh.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s