sastra

Kwetiau (Cerpen)

Malam ini aku makan malam bersamanya. Memesan kwetiau, makanan kesukaanmu kan? Makanan kesukaanku juga. Makanan kesukaan kita. Makanan yang selalu kamu hitung setiap kali aku menyuapkan di mulutku yang kamu bilang manis dan lembut seperti es krim.

“Tak ada orang yang menghitung berapa banyak suapan di mulutku.” Candaku. “Ada. Aku.” Katamu.

Entah mengapa ketika melihat daftar menunya, aku langsung mencari tulisan Kwetiau. Kamu tahu kenapa? Aku merindukanmu. Dan aku merasa berdosa ketika makanan itu sudah tersaji di meja. Aku ingin memakannya sehelai demi sehelai, tapi pasti dia, kekasihku ini akan protes, maka aku coba makan sesendok demi sesendok, semoga aku tak mual dan memuntahkannya. Aku merasa berdosa tiap kali merindukanmu. Senyumanmu saat pertama kali kita kencan, hangatnya tanganmu saat pertama kali tak sengaja kusentuh, dan ciuman pertama kita di kasur tipis itu. Aku merasa berdosa tiap kali menginginkanmu. Menginginkan kebersamaan kita bisa kembali walau satu hari saja. Aku merasa berdosa tiap kali membayangkan sensasi ciumanmu yang membuatku lemas tak berdaya ketika aku merajuk, dan akupun akan melakukan hal yang sama ketika kamu sedang manja, dan kita akan berbaring berpelukan dengan gaya “spooning” yang kamu ajarkan itu. Aku merindukanmu. Kamu yang tak pernah sekalipun menampar pipiku dengan ucapan seperti “Aku akan meninggalkanmu, sekarang!”, yang sekaligus memberi lebam di mataku dan meremas-remas hatiku seperti yang dia lakukan kepadaku. Aku hampir tersedak memikirkannya.

Entah baru berapa suap kwetiau ini masuk melalui kerongkonganku. Tapi, rasanya perutku sudah penuh. Tak biasanya kan aku makan sedikit? Aku hanya merasa berdosa merindukanmu. Kamu yang pergi tanpa pamit. Tanpa sebuah kecupan di dahi. Tapi yang kurasa sekarang, kamu pasti mengkhawatirkanku, aku tahu itu ketika kamu mengirim pesan singkat kepadaku “Maafkan aku, terkadang aku menjadi bodoh, aku terlalu takut kehilangan kamu”. Kamu tak perlu sekhawatir itu. Aku sudah memilikinya. Dan dia akan selalu menyayangiku, dengan caranya yang belum bisa kupahami. Mungkin tak semudah dulu, karena dulu ”Kita seperti bertukar kepala”, bahkan kita akan saling bisa merasakan hembus nafas kita walau berjauhan. Tapi aku pasti bisa dan akan memahaminya, memahami caranya mencintaiku. Karena aku mencintainya. Sungguh.

Kwetiau ini kupaksa masuk dan kujejalkan di mulutku, dan kuselingi dengan teh hangat. Aku hanya teringat bagaimana kamu meyakinkanku bahwa aku satu-satunya wanita yang bisa membuatmu menginginkan menikah. Karena katamu, tak ada yang bisa membuatmu yakin kecuali aku. Dan kamu pun pernah sekali bilang kepadaku : “Wanita yang kelak membetulkan kerah bajuku dan memintaku adalah dia yang kini menyibukkan hariku. Kamu.” Dulu. Saat rambutmu yang harum itu kuciumi. Saat tanganmu selalu memegang erat tanganku. Ya. Tangan itu. Tangnku. Tangan yang selalu kupinjamkan. Ingatkah kamu dengan puisi-puisimu? Masih kubingkai rapi di dinding kamarku.

Kau bilang tanganmu selalu berkeringat, aku tak peduli Kau juga bilang tanganmu selalu hangat, Aku juga
Mungkin seharusnya aku minta ijin ayah ibumu,
Kalau perlu seluruh keluargamu
Aku hanya ingin tahu kau ini bayangan atau bukan,
Karena ini terlalu indah
bahkan dalam mimpi sekalipun,
dak kau akan menyebutnya:
Syahdu
Mana tanganmu, aku pinjam
Tenang saja pasti kukembalikan
Toh lama-lama bisa kesemutan,
Itu yang kau bilang bukan?
Aku juga tahu
Kita saling tersipu
saat kita saling memandang
Iya, kau juga tahu kan?
Kau bilang bisa mendengar detak jantungku,
Tapi aku tidak pernah bilang
Kalau aku juga mendengar kata hatimu
Mana tanganmu, aku pinjam
Aku tahu kau pasti meminjamkan
Biarpun kau tahu
Tak mungkin ku kembalikan.

Waktu memang selalu bisa mengubah segalanya. Rasa kwetiau ini, aroma teh hangat ini, tapi tidak perasaaanku. Dan kamu tahu itu. Kamu sadar bahwa tak akan pernah melihat biru di langit manapun kecuali dari tempatku. Kamu selalu bilang, “Jangan berubah ya Sayang, jangan pernah tinggalkan aku”. Tapi, kenapa kamu pergi meninggalkan aku bersama lelaki yang hampir belum bisa aku pahami?

“ Aku gak bisa bosen sama kamu” “Masa siiiiiiih”
“Kita coba dulu ya”
“Ih, kok coba si”
“Coba dulu yuk 80 tahun”
“Dasar”
“Main yuk, Nduk…”
“Kapan, Sayang?”
“Secepatnya, selama-lamanya, sejauh-jauhnya. Yang penting sama kamu…”
“Ah, kamu ngrayu senenge…”
“Tapi kan rayuanku gak kayak rayuan.”
“Dasar, tu kan ngrayu lagi, dasar kremi”
“Enggaaaaak, cacing jelek, sini tak cium”

Aku hanya tersenyum dan mengaduk-aduk piringku dengan kwetiau yang tinggal separuh. Membayangkan percakapan kita yang selalu berakhir dengan ciuman itu. Aku memang menyukai ciumanmu. Tapi, aku lebih menyukaimu daripada ciuman-ciuman itu.

“Hei”, suaranya membuyarkan lamunanku. “Ini sudah sendok ke-29, Sayang…” kata kekasihku sambil mengelap bibirku yang clemong minyak dengan tangannya. Aku hanya tersenyum dan mulai mengunyahnya lagi. Tapi, tiba-tiba aku sadar, “Kau menghitungnya?”. Dia hanya tersenyum. Aku hampir berteriak dan hampir tergugu. “Kamu, Sayang!” . Bisiknya, ”Kalau bukan di restoran, sudah kuciumi kamu, ayo cepat habiskan, kita pulang.”

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s