Cinta tanpa kepala

Rasanya ingin bunuh diri saja, kalau itu tidak dosa.

Malam ini, seperti malam-malam sebelumnya, kekasih saya mengeluh tidak bisa tidur karena harus membunuh puluhan nyamuk dan kecoak di rumah kontrakannya. Lalu, di malam itupun saya membeli racun serangga. Dengan harapan, tidurnya tak akan pernah terganggu oleh serangga nyamuk dan kecoak. Namun, semenjak saya tahu kejadian yang membuat saya cemburu, mungkin lebih baik saya campur racun serangga itu dengan air, dan saya minum sendiri. 

Rasanya ingin bunuh diri saja, kalau ini bukan cinta.

Saya bukan superman, dan juga bukan spiderman. Saya takut ketinggian. Saya hanya seseorang wanita yang sangat mencintai kekasih saya. Dan ketika dia meneriakkan kata-kata kasar itu, saya ingin sekali mengambil motor dan pergi ke Apartemen Merah. Memanjat di atap yang tertinggi, melompat dari sana, dan mati. 

Rasanya ingin bunuh diri saja, kalau rindu ini tak menyiksa.

Rumah kontrakan kekasih saya sangat unik, ada tangga besi yang memutar ke atas, itu yang saya sukai. Namun, disaat dia marah dan melempar barang-barang di hadapan saya, saya ingin sekali mencari tali yang biasa dia gunakan untuk menjemur pakaian, dan menggantungkan leher saya disana. Mungkin itu akan lebih baik. 

Rasanya ingin bunuh diri saja, kalau semua yang kita lewati itu tidak ada artinya.

Masih teringat jelas saat saya menangis dan dia tak menyentuh saya sedikitpun, tak mengecup bibir saya dengan manja, tak memeluk saya dengan hangat. Kemudian saya berpikir untuk mengambil pisau yang ada di dapur. Menggoreskannya di nadi tangan kiri saya hingga darah bercucuran dan nadi saya putus. Sakitkah? Apakah rasanya tidak lebih sakit dari sakit hati saya? 

Rasanya ingin bunuh diri saja, kalau saya bukan satu-satunya.

Kemarin saya menonton film “Unthinkable”, dan film “The Sawshank Redemption” dan saya melihat adegan bunuh diri dengan menembakkan pistol. Apakah ketika dia bilang dengan emosi kalau saya selalu salah dan hanya menghambatnya, saya boleh melakukan itu? Sepertinya mudah. Hanya menarik pelatuk, dan menembakkannya ke mulut atau kepala. Duaaarrr… 

Rasanya ingin bunuh diri saja, kalau dia bertekat meninggalkan saya.

Sayangnya, di rumah yang dikontrak oleh kekasih saya tidak ada kompor. Jika ada, saya sudah terbersit untuk menuangkan minyak ke seluruh tubuh saya dan  membakar diri saya bersama cemburu saya, bersama bodoh saya. Mungkin bisa pinjam kompor tetangga sebelah kalau itu dimungkinkan. 

Rasanya ingin bunuh diri saja, kalau semua mimpi kita hanya mimpi saja.

Saya pikir, ketika saya merasa saya tak bisa mengerti kekasih saya, saya bisa dengan mudah berlari ke stasiun Lempuyangan untuk menggilaskan tubuh saya di relnya. Dan kupikir saya bisa dengan mudah berjalan ke Kali Wening hanya untuk menenggelamkan diri saya. 

Dan bagaimana mungkin saya tidak merindukan setiap detik kehangatan dan passion kami dulu. Mungkin dia tidak ingat. Tapi saya mengingat bagaimana pertama kali tangan saya tak sengaja menyentuh tangannya, saya mengingat bagaimana berdebar-debarnya kencan pertama kami, saya mengingat betapa merindunya saya menelepon dia di malam-malam itu, saya ingat manisnya rotibakar blueberry yang dia bawakan, saya begitu ingat manisnya ciuman pertama kami, saya begitu ingat bagaimana kita saling dimabuk asmara, saya begitu ingat sms-sms mesranya tiap pagi-siang-sore-malam, saya ingat setiap puisi dan status fesbuknya selalu untuk saya. Dengan cara bagaimana lagi saya meminta dia adalah dia yang dulu? 

Saya pernah mendapati dia sebagai dia yang dulu di dalam mimpi. Indah sekali. Lalu saya berfikir bodoh, mungkin ketika saya menutup mata saya, dia akan selalu menjadi dia yang dulu. Lalu, dengan menutup mata selamanya, akankah dia kembali ? Perlukah saya mati? 

Tapi, kalau saya mati,

Siapa yang akan melipatkan bajunya? Siapa yang akan membawakannya sarapan? Siapa yang akan menyetrikakan kemejanya untuk interview? Siapa yang akan menungguinya saat dia sakit? Siapa yang akan menemaninya bepergian jauh? Siapa yang tahu tempat-tempat favoritnya? Siapa yang akan dia peluk disaat dia sedih? Siapa yang akan memijatkan kakinya ketika dia lelah? Siapa yang akan diajaknya bercinta? Siapa yang akan bisa menyayanginya seperti saya? 

Dan saya lebih suka menyembunyikan tangis saya. Karena jika dia tahu, saya pasti akan dipeluk dan itu akan membuat saya lebih kencang menangis. Saya mencintai dia. Karena dia. Saya pencemburu. Saya egois. Saya hanya ingin dia. Betapa baiknya Tuhan, menitipkan cinta yang sangat besar di hati saya yang sangat kecil, hingga meluap kemana-mana, memenuhi jantung, hati, paru-paru, tangan, mata, kaki, dan bibir saya. Maafkan saya. Atas cinta saya yang tidak menggunakan kepala. 

Jul2011

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s